RADARSEMARANG.ID - Cerita horor kali ini datang dari pengalaman Sutiyoso,49, warga Kebumen, saat menempuh kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di kawasan Bendan Duwur, Sampangan, kota Semarang.
Saat itu menurut Sutiyoso, kawasan Talangsari, Bendan Duwur, Bendan Ngisor dan Sampangan masih ramai dengan mahasiswa yang kuliah di beberapa PTS di kawasan Bendan.
"Waktu itu PTS-PTS di sekitaran Bendan masih ramai, masih jadi favorit kalau tidak di terima di Undip atau IKIP waktu itu"kenang Sutiyoso mengawali ceritanya kepada RadarSemarang.ID.
Pria yang kini bekerja di salah satu perusahaan konstruksi di kota Semarang itu mengenang saat itu belum banyak mahasiswa yang naik kendaraan baik roda dua maupun roda empat.
"Belum banyak, masih bisa di hitung jari yang naik motor apalagi mobil, saya satu kos anak sepuluh aja yang naik motor cuma satu orang, kita berangkat dan pulang kuliah kalau gak jalan kaki ya naik angkot"imbuhnya.
Karena kendaraan relatif masih terbatas itulah, jalanan di kawasan Sampangan terutama sekitar Talangsari, jika sudah memasuki malam terasa sepi.
"Jalanan di Talangsari kalau sesudah Isya itu sepi, lah gimana gak sepi, motor jarang yang punya, naik angkot kalau sudah malam susah"kenang Sutiyoso.
Nah cerita horor yang di alaminya ini bermula saat dirinya tengah menempuh ujian semesteran.
Karena kondisi suntuk, usai ujian semesteran, saat tengah malam, dia iseng-iseng mencari angin.
"Kalau gak salah bulannya waktu itu bulan Juni, setelah seharian ujian semesteran, saya suntuk, pengen cari anginlah. Saya ngajak teman satu kos, gak ada yang mau"ceritanya.
Karena tidak ada yang mau menemani, Sutiyoso kemudian jalan kaki sendirian. Rencananya dia mau naik di atas bukit dekat kampus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIK) Semarang yang berada tak jauh dari kampus STIKUBANK.
"Itu di atasnya kampus STIK setelah habis tanjakan khan ada tanah kosong yang datar, dari situ kita bisa lihat suasana daerah bawah. Nah, saya jalan kaki dari tempat kos" jelasnya.
Waktu itu jarum jam menunjukkan pukul 24.10 WIB saat Sutiyoso keluar dari tempat kosnya di kawasan Talangsari, tepatnya depan kampus STIFARMING.
Baca Juga: Bunga Jenis Ini Konon Bisa Bikin Kamu Kaya 'Mendadak'
"Saat keluar kos, teman-teman yang masih pada nonton tivi di ruang tamu waktu itu sempat berseloroh, ati-ati Yos lewat terowongan di cegat pocong"katanya.
Namun selorohan teman-temannya itu dia anggap angin lalu, sekedar guyonan atau menakut-nakuti.
"Ya biasa to teman-teman, biar saya takut. Tapi saya cuek aja, ora ta tanggepi. Saya jalan ke arah naik kampus STIK"tambahnya.
Jarak antara tempat kosnya dengan tanjakan kampus STIK sebenarnya tak terlalu jauh, hanya sekitar satu kilonan.
Namun, untuk sampai di atas tanjakan, dia harus melewati sebuah terowongan jalan tol yang kondisinya agak gelap.
"Memang terowongan Bendan itu agak gelap, karena lampu penerangannya minim. Konon katanya lampunya sering mati, meski baru dipasang"tuturnya.
Dengan semangat menghilangkan suntuk, dia menyusuri jalan ke arah tanjakan kampus STIK yang sunyi sepi, tak ada satupun kendaraan yang lewat.
Setelah melewati kampus IKIP Veteran (sekarang Univet). Terowongan Bendan sudah berada di depan mata.
"Setelah lewat kampus IKIP, terowongan Bendan kelihatan seperti mulut ular yang siap mencaplok. Ya agak merinding waktu itu, tapi ah nekad aja masuk sambil tak lupa uluk salam"tandasnya.
Saat sudah berada di dalam terowongan Bendan, dia tak merasakan apapun. Dia tetap jalan kaki hingga keluar terowongan dengan aman tanpa gangguan.
"Waktu di dalam terowongan itu, saya tidak ada perasaan apapun atau hal-hal yang aneh. cuma suasananya temaram cenderung agak gelap, karena lampu yang nyala cuma satu atau dua kalau gak salah"kata pria yang berputra satu ini.
Selepas keluar dari terowongan dia berjalan naik ke atas, untuk bisa sampai di depan kampus STIK, melepas suntuk.
Saat sudah sampai di atas, Sutiyoso mengaku agak plong setelah melihat suasana sembari menghirup udara malam.
Sekitar 15 menit setelah di atas tanjakan Bendan, Sutiyoso memutuskan turun kembali ke tempat kosnya.
Saat turun dia mempercepat langkah kakinya, karena cuaca waktu seingatnya sudah mulai gerimis rintik-rintik, padahal saat dia naik ke atas tanjakan, cuaca relatif masih terang.
"Agak aneh, waktu naik cuacannya sebenarnya lumayan terang, apalagi waktu itu masih musim kemarau"ingatnya.
Khawatir hujan semakin deras, dia kemudian setengah berlari saat menuruni turunan Bendan depan kampus STIK, hingga menjelang masuk terowongan Bendan itu kembali. Nah disinilah cerita horor itu terjadi.
Saat kakinya hendak melangkah masuk terowongan, dia mengaku bulu kuduknya langsung berdiri. Ada perasaan tak enak dan suasana yang berbeda saat masuk ke dalam terowongan Bendan.
"Perasaan saya waktu mau masuk terowongan itu sudah gak enak, gak seperti awal waktu mau naik. Tengkuk itu makprinding, terus di dalam terowongan sedikit agak lebih gelap, padahal lampunya masih nyala seperti pas naik"jelasnya.
Meski perasaannya tak enak, dia tetap nekad mempercepat langkah kakinya. Sutiyoso mengaku pengen cepat-cepat keluar dari dalam terowongan yang sebenarnya hanya memiliki panjang tak lebih dari 20 meter itu.
Tapi, meski langkah kakinya telah di percepat, tambah Sutiyoso, namun seolah terowongan yang di masukinya terasa jauh.
"Nah saat berada di tengah terowongan itulah, saya melihat sepintas di tengah jalan itu ada sebuah bungkusan agak bulat berwarna putih yang sudah agak kumal. Awalnya saya cuekin, ta pikir paling kain atau gombal. Saya lewati bungkusan, sambil ta lirik sebentar"kata Sutiyoso.
Menjelang keluar terowongan, entah mengapa, diringa merasa penasaran dengan bungkusan warna putih kumal. Diapun balik kanan untuk memastikan isi bungkusan itu.
"Saya balik kananlah, pengen tahu, siapa tahu bungkusan itu isinya uang. Kan lumayan, kalau nemu, buat anak kos kayak saya waktu itu hahaha"tuturnya.
Sutiyoso kemudian berbalik dan berjalan lebih pelan mendekati bungkusan berwarna putih kusam yang masih teronggok di tengah jalan.
Hanya berjarak kurang lebih lima meter dari bungkusan itu, tiba-tiba sebuah adegan horor terjadi.
"Saat saya sudah sampai di bungkusan itu, yah jaraknya kurang lebih lima meteran. Tiba-tiba bungkusan itu memanjang naik ke atas, sampai hampir menyentuh atas terowongan. Saya melihat itu cuma bisa terdiam terpaku. Gak bisa ngomong apa teriak" kenangnya.
Setelah beberapa detik terpaku, akhirnya dia baru bisa menguasai diri, balik kanan dan mencoba lari sekencang-kencangnya sembari berteriak keras.
"Tapi kaki waktu itu rasanya berat banget buat lari dan saya mencoba teriak..pocooong..pocong tapi kayak gak keluar suara saya"tambahnya.
Meski sudah mencoba berlari kencang, dia merasakan seolah jarak ke tempat kosnya yang hanya berjarak kurang lebih tiga ratusan meter seolah menjadi lebih dari sepuluh kilometer. Tak sampai-sampai.
Baca Juga: Cerita Mistis Desa Manggar Rembang Konon Dulu Adalah Sarangnya Makhluk Halus, Apakah Sekarang Masih?
Saat sampai di pertigaan depan kampus IKIP Veteran, Jalan Talangsari Raya, dia mengaku ambruk persis di depan sebuah pos Kamling.
"Dulu depan di dekat pertigaan IKIP Veteran itu ada pos kamling kecil, nah saya sampai di situ ambruk. Udah gak ingat apa-apa alias semaput hahaha"tuturnya.
Kurang lebih hampir 15 menit dia pingsan di depan pos kamling sampai akhirnya dia di tolong warga yang kebetulan hendak mengambil alat jaga di Pos.
"Awalnya saya di kira tidur di depan pos, ternyata yang nemukan saya itu kenal saya anak kos di Talangsari, akhirnya saya di tolong, di bawa ke tempat kos"kata Sutiyoso.
Setelah siuman dari pingsan dan meminum air putih, perasaannya lebih tenang. Dia kemudian di tanya warga dan teman-teman kosnya yang mengerumininya di kamar kosnya. Mereka penasaran ingin tahu, kenapa dia sampai pingsan di depan pos Kamling.
"Yo aku crito, aku di weruhi pocong iso modod, duwure sampe nyundul atappe terowongan (Ya aku ceritakan, aku lihat penampakan pocong bisa memanjang ke atas sampai atas terowongan)" kata Sutiyoso dengan logat jawanya.
Mendengar ceritannya itu, teman-teman satu kosnya langsung nyeletuk.
"Lah iyo wes di kandani ati-ati ngko ketemu pocong, ora percoyo (lah iya sudah di kasih tahu hati-hati nanti ketemu pocong, tidak percaya)".
Sejak kejadian itu, Sutiyoso mengaku kapok tak pernah melewati terowongan Bendan saat malam hari meski bersama teman-temannya.
"Kalau mau ke Sampangan saat malam, sata mending milih muter lewat Menoreh, dari pada ketemu lagi pocong iso modod duwur"pungkasnya. (sls)
Editor : Baskoro Septiadi