RADARSEMARANG.ID, Pendidikan sastra dan bahasa memiliki peran penting untuk mengembangkan kreativitas siswa.
Dalam pembelajaran majas pada materi “Berkarya dan Berekspresi melalui Puisi” menuntut para siswa untuk meningkatkan literasi.
Pembelajaran dapat diwujudkan melalui pendekatan yang interaktif, kreatif, dan memikat.
Baca Juga: Materi Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 1 SD, Implementasi Kurikulum Merdeka
Sesuai dengan salah satu prinsip pengembangan kurikulum operasional di satuan pendidikan yaitu Esensial, yang memuat semua unsur informasi penting/utama yang dibutuhkan dan digunakan di satuan pendidikan.
Bahasa yang digunakan lugas, ringkas, dan mudah dipahami. (Panduan Pengembangan Kurikulim Operasional Pada Program Sekolah Penggerak dan SMK PK Tahun 2021: 4)
Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA Negeri 2 Temanggung memberikan kesempatan unik dan menyenangkan bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas mereka melalui kegiatan perang majas dalam berkarya dan berekspresi melalui puisi.
Dengan memberikan siswa pengalaman interaktif dan mendidik diharapkan siswa mampu memperdalam pemahaman tentang majas dan puisi.
Puisi merupakan salah satu karya sastra, selain prosa dan drama. Sebagai sebuah karya sastra, puisi digunakan seseorang untuk mengungkapkan pikiran, gagasan, dan perasaannya dalam bentuk kata-kata yang indah. Kata-kata dalam puisi cenderung bersifat kiasan.
Puisi biasanya disampaikan dengan teknik figurative untuk menciptakan suasana yang mampu mengubah imajinasi, perasaan, dan keindahan bagi pembacanya. (Fadillah Tri Aulia dan Sefi Indra Gumilar, 2021).
Definisi dan klasifikasi majas menjadi dasar pemahaman yang penting bagi siswa, agar dapat menciptakan puisi sebagai fungsi menyampaikan perasaan dan pemikiran. Karena dalam pembelajaran ini menuntut kreativitas dalam berkarya puisi.
Pertama kali siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan memberikan nama kelompoknya dengan nama negara.
Dalam kegiatan perang majas, siswa diberi pengalaman seru dan kreatif dengan mengumpulkan senjata berupa kalimat bermajas.
Taiwan menembak Rusia dengan kalimat bermajas. Seandaniya Rusia tidak bisa menebak majas yang digunakan, maka salah satu anggota kelompoknya ditahan di penjara.
Sebaliknya jika Rusia bisa menjawab, maka Rusia bisa memilih untuk menembak negara mana. Pada akhir permainan negara yang paling banyak anggotanya adalah pemenangnya.
Tantangan dalam perang majas adalah beberapa kelompok merasa kesulitan menebak majas yang digunakan.
Namun mereka harus mengalaminya karena merupakan proses pembelajaran. Solusi kreatif mereka temukan dengan sendirinya untuk mengatasi hambatan dan menciptakan suasana yang mendukung dan inklusif.
Sebagian siswa yang belum memahami definisi dan klasifikasi majas akan paham dengan sendirinya, karena mereka terpaksa memahami dari contoh-contoh yang temannya lontarkan.
Majas-majas yang mereka lontarkan juga semakin meluas, perbendaharaan kata yang mereka miliki bisa dilampiaskan semua.
Dalam permainan ini membuka pemikiran siswa tentang keindahan bahasa dan belajar membuat puisi, jadi lebih menyenangkan.
Siswa merasa lebih percaya diri dalam menggunakan majas dan merasa lebih terlibat dalam proses pembelajaran.
Siswa juga merasa senang dalam permainan perang majas ini, karena merasa seperti sedang berpetualangan dan perang secara kreatif yang membawa ke dalam materi majas dengan sendirinya dan tidak membosankan.
Setelah siswa mampu memahami dan membuat majas dengan gaya bahasa yang indah, mereka dengan mudah membuka pintu menuju kemampuan yang lebih yaitu menciptakan puisi.
Karena kepekaan terhadap keindahan kata dan struktur kalimat merupakan landasan esensial untuk menciptakan puisi yang berkualitas.
Selain itu, pemilihan diksi mampu menghasilkan ekspresi yang sesuai dengan makna dan pesan yang disampaikan dalam puisi mereka.
Dengan demikian, pemahaman terhadap majas bukan hanya merangsang kreativitas, tetapi menjadi landasan penting dalam menciptakan puisi yang mengandung keindahan dan kekayaan makna.
Menjelaskan definisi gaya bahasa dan majas seringkali terasa garing dan kurang merangsang minat siswa.
Oleh karena itu, memberikan pemahaman melalui permainan interaktif perlu diterapkan.
Seperti dalam perang majas yang mampu mendorong siswa untuk terlebit secara aktif dalam proses pembelajaran.
Dengan mempraktikkan konsep dalam situasi nyata dalam permainan, siswa dapat menginternalisasi konsep dengan lebih baik dan merasa senang dalam mengeksplorasi keindahan bahasa. (nop2/aro)
Oleh: Tanti Abadiningsih, S.Pd.
Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 2 Temanggung
Editor : Tasropi