Dengan melihat beberapa permasalahan yang timbul, maka penulis berusaha menghilangkan rasa takut, rasa jenuh, dan rasa ketidaksukaan siswa terhadap pelajaran Matematika dengan menerapkan pembelajaran kontsekstual. Pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual, yaitu : konstruktivisme, bertanya, inkuiri, masyarakat belajar, pemodelan dan penilaian autentik (Trianto, 2008 : 20).
Penulis mengharapkan dengan menerapkan pembelajaran kontekstual hasil belajar siswa kelas IV SDN Ngesrep 03 Semarang dapat meningkat. Pendekatan kontekstual memiliki tujuh komponen yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Kontekstual diantaranya Pertama, Belajar Berbasis Masalah (Problem Based Learning), yaitu suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang berpikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran. Kedua, Pengajaran Autentik (Autentic Instruction), yaitu pendekatan pengajaran yang memperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna. Ketiga, Belajar Berbasis Inkuiri (Inquiri Based Learning), yaitu strategi pengajaran yang mengikuti metodologi sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna. Keempat, Belajar Berbasis Proyek atau tugas (Project Based Learning), yaitu suatu pendekatan komprehensif dimana lingkungan belajar siswa (kelas) didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah autentik termasuk pendalaman dari suatu topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna lainnya. Kelima, Belajar Berbasis Kerja (Work Based Learning), yaitu suatu pendekatan pengajaran yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran berbasis sekolah dan bagaimana materi tersebut dipergunakan kembali di tempat kerja. Keenam, Belajar Berbasis Jasa Layanan (Service Learning), yaitu metodologi pengajaran yang mengkombinasikan jasa layanan masyarakat dengan suatu struktur berbasis sekolah untuk merefleksikan jasa layanan tersebut, jadi menekankan hubungan antara pengalaman jasa layanan dan pembelajaran akademis. Ketujuh, Belajar Kooperatif (cooperatif Learning), yaitu pendekatan pengajaran melalui kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dan memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar.
Setelah pembelajaran dengan pendekatan kontekstual penulis menemukan perubahan pada siswa, yaitu siswa lebih aktif belajar, menjawab, rasa ingin tahu meningkat, kerjasama dalam kelompok meningkat, diskusi siswa sangat aktif. Berdasarkan uraian di atas penulis menyimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam mata pelajaran matematika. Dengan pendekatan pembelajaran kontekstual membuat siswa mudah memahami materi belajar sehingga nilai belajar siswa kelas IV SDN Ngesrep 03 dapat meningkat menjadi lebih baik. (ips1/Iis)
Guru SDN Ngesrep 03 Kec. Banyumanik Semarang Editor : Agus AP