RADARSEMARANG.ID, Semarang - Ratusan umat Buddha mengikuti Ulambana dengan melarung 1.000 pelita air di Pantai Marina Semarang Sabtu (25/8/2024) malam.
Pukul 19.00, ratusan umat dari berbagai daerah memulai dengan sembahyang di Vihara Mahavira Graha Semarang. Mereka sangat khidmat membacakan Parita dari para suhu.
Setelah sembahyang, para umat berjalan dari Vihara Mahavira Graha menuju Pantai Marina atau sekitar 1,5 kilometer untuk melarung pelita sambil membaca Parita. Para umat berdoa agar arwah leluhur dapat hidup dengan bahagia.
Para nama leluhur berasal dari berbagai daerah, seperti Jawa Tengah, Riau, Sumatera, DKI Jakarta dan lainnya.
Pada pukul 21.00, sesampainya di Pantai Marina, seribu pelita air dilarung. Suasana khidmat sangat terasa. Ada yang mengabarkan keluarganya, karena kerabat dan leluhurnya didoakan.
Para umat berdoa sambil melarung pelita ke tengah laut. Sejumlah orang rela menceburkan dirinya untuk mengarahkan pelita air agar lebih cepat ke tengah laut.
Salah satu umat, Devi mengajak empat kerabatnya mengikuti Sembahyang Ulambana.
"Saya mengajak anak-anak supaya lebih mengenal leluhur, dan anak-anak ini mewakili adik-adik saya yang belum bisa ikut sembahyang karena di luar negeri," jelasnya.
Pelita berisi lilin, dan nama leluhurnya. "Supaya diberi keselamatan," jelasnya.
Sementara itu, Suhu Chuan Chi, mengungkapkan Sembahyang Ulambana berlangsung dua hari (24 - 25 Agustus 2024).
Sembahyang Ulambana dilakukan setiap Bulan Ketujuh pada penanggalan Lunar atau China.
Banyak orang yang bilang pada bulan ketujuh ini adalah Bulan Setan, kata dia, tetapi untuk Agama Budha pada Bulan Ketujuh adalah Bulan Bakti kepada Orang Tua.
"Nah, pelepasan pelita ini memiliki arti supaya doa dan kesabaran kita seluas laut," jelasnya.
Sementara di Hari Minggu (25/8) dimulai pada Pukul 09.00 yang merupakan persembahan makhluk hidup.
"Kita berdoa agar semua makhluk ke depannya bisa terlahir dengan lebih baik," jelasnya. (fgr/bas)
Editor : Baskoro Septiadi