Wali Kota Magelang dr Muchamad Nur Aziz mengaku belum puas hanya dengan satu PSC. Ia akan membentuk PSC di tiap kecamatan. Supaya bisa cepat menjangkau lokasi tujuan.
“PSC sudah punya tenaga paramedik, dan perawat. Tapi perawat ini harus sering dilatih. Karena kebanyakan perawat di Indonesia itu belum tentu paramedik,” kata dia usai meresmikan gedung PSC, peluncuran aplikasi PSC, dan program Jemput Sakit Antar Sehat, kemarin (10/5/2021).
Dia minta, program PSC ini disosialisasikan secara masif. Ia mengevaluasi keberadaan PSC dinilai belum cukup efektif. Dilihat dari rendahnya angka panggilan bantuan yang masuk. “Sehari hanya menerima dua sampai delapan panggilan. Ini tandanya masyarakat belum tersosialisasi. Di Jakarta, PSC menerima 50-an panggilan per hari, di luar negeri bisa 2.000 panggilan per hari,” tuturnya.
Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Magelang Yis Romadon mengatakan muara program PSC dan Jemput Sakit Antar Sehat untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. PSC siap menjemput warga yang membutuhkan bantuan. Baik dalam kondisi emergensi, atau nonemergensi
Saat ini, PSC belum punya gedung di tiap kecamatan. Namun sudah menambahkan, dan menyiagakan satu mobil ambulans, beserta sopir di masing-masing kecamatan. Jumlah itu masih ditambah ambulans PSC lainnya. Lalu satu unit kendaraan roda dua, agar bisa menjangkau lokasi sulit.
Setahun ini, PSC menangani 545 kasus. Sebanyak 246 kasus gawat darurat medik, 234 kecelakaan, dan 65 non-emergensi. Layanan PSC ini dikatakan terintegrasi dengan program Jaminan Kesehatan. Jika ada masyarakat miskin yang belum memiliki JKN-KIS menggunakan PSC, maka akan langsung didaftarkan menjadi peserta JKN-KIS segmen penerima bantuan iuran (PBI). Iurannya dibiayai pemda.
Kabid Pelayanan Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dr Sri Rika Puniawati berharap PSC dan Dinkes bagai suami istri. Saling membutuhkan, dan melengkapi. Utamanya dalam menangani kasus-kasus kejadian luar biasa dalam kesehatan. Misalnya menekan angka kematian ibu dan anak. (put/lis)
Editor : Agus AP