Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Jelang Ramadan, Warga Ramai-ramai 'Munggah' ke Makam dalam Tradisi Sadranan

Magang Radar Semarang • Minggu, 15 Februari 2026 | 19:55 WIB
Tradisi sadranan yang dilakukan menjelang ramadhan masih dilestarikan hingga saat ini.
Tradisi sadranan yang dilakukan menjelang ramadhan masih dilestarikan hingga saat ini.

RADARSEMARANG ID, BOYOLALI – Suasana di sejumlah Tempat Pemakaman Umum (TPU) di wilayah Jawa Tengah,  mulai terlihat berbeda sejak sepekan terakhir.

Banyak warga membawa tenong berisi makanan dalam rangka menjalankan tradisi Sadranan atau Nyadran guna menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Bagi masyarakat Jawa, Sadranan bukan sekadar ritual bersih-bersih makam. Ini adalah momen "pulang kampung" mini sebelum Idulfitri tiba. 

Warga dari berbagai kota sengaja menyempatkan diri kembali ke desa asal hanya untuk mendoakan leluhur secara bersama-sama.

Bukan hanya Doa

Acara biasanya dimulai sejak pagi buta. Warga datang membawa cangkul dan sapu lidi untuk membersihkan nisan keluarga masing-masing.

Setelah makam terlihat bersih dan dipenuhi taburan bunga mawar serta kenanga, acara dilanjutkan dengan doa bersama atau tahlil yang dipimpin oleh tokoh agama setempat.

Namun, yang paling dinanti adalah sesi Kembul Bujana atau makan besar bersama. Di sini, sekat-sekat sosial hilang.

Lauk Pauk dan Filosofi Sedekah

Uniknya, makanan yang dibawa dalam tenong (wadah bambu) bukanlah makanan sembarangan. Ada nasi tumpeng, ayam ingkung, hingga jajanan pasar yang nantinya akan saling ditukar antar warga.

Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur atas rezeki yang diterima selama setahun terakhir sekaligus bentuk sedekah sebelum memasuki bulan puasa.

Baca Juga: Warga Kandangan Temanggung Gelar Sadranan Sewu Kupat, Kenang Perjuangan Mencari Mata Air

Roda Ekonomi Berputar

Tak hanya soal religi dan budaya, Sadranan juga membawa berkah bagi pedagang bunga musiman dan penjual makanan.

Harga bunga tabur yang biasanya murah, bisa naik berkali-kali lipat karena tingginya permintaan. Namun, hal itu tak menyurutkan niat warga untuk tetap menjalankan tradisi turun-temurun ini.

Meski zaman sudah modern, Nyadran tetap menjadi pengingat bagi setiap orang bahwa sejauh apa pun mereka melangkah, akar keluarga dan asal-usul tidak boleh dilupakan.

Dengan hati yang bersih dan tali persaudaraan yang erat, warga pun merasa lebih siap secara batin untuk menjalankan ibadah puasa Ramadan. (mg9)

Editor : Baskoro Septiadi
#Tradisi #sadranan #ramadhan 2026 #sadranan boyolali