Di Balik Gelak Tawa Permainan Tradisional, Ada Pengasuhan yang Menguatkan Anak

Khafifah Arini Putri • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 08:43 WIB
Peserta Rumah Anak SIGAP sedang bermain permainan tradisional dalam acara Peringatan Hari Anak Nasional bertajuk Main Bareng Tumbuh Bareng, hasil kollaborasi dengan Tanoto Foundation dan Forum Anak Kota Semarang.
Peserta Rumah Anak SIGAP sedang bermain permainan tradisional dalam acara Peringatan Hari Anak Nasional bertajuk Main Bareng Tumbuh Bareng, hasil kollaborasi dengan Tanoto Foundation dan Forum Anak Kota Semarang.

 

RADARSEMARANG.ID - Tawa riang pecah di dalam kelas Rumah Anak SIGAP Bandarharjo, Semarang, Senin (20/7). Puluhan anak tampak antusias mencoba berbagai permainan tradisional dalam rangkaian peringatan Hari Anak Nasional 2026 bertajuk “Main Bareng, Tumbuh Bareng”.

Dengan kedua tangan menggenggam tali, anak-anak bergantian menaiki egrang dari batok kelapa. Mereka melangkahkan kaki perlahan. Ada yang sudah lihai menjaga keseimbangan, tetapi tidak sedikit yang beberapa kali kehilangan pijakan hingga terjatuh. Orang tua yang mendampingi sigap menggandeng tangan anaknya dan memberikan semangat agar kembali mencoba.

Gelak tawa terdengar di berbagai sudut. Senyum lebar menghiasi wajah anak-anak ketika mereka berhasil melangkah lebih jauh. Di sisi lain, beberapa anak asyik bermain lompat tali, sementara sebagian lainnya menggoyangkan marakas.

Tidak ada gawai di tangan mereka. Yang terlihat justru tatapan mata yang saling bertemu, percakapan sederhana, serta kebersamaan antara anak dan orang tuanya.

Suasana tersebut menggambarkan bahwa bermain bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang. Bermain menjadi ruang bagi orang tua dan anak untuk membangun kedekatan sekaligus mendukung tumbuh kembang anak usia dini.

Kegiatan yang diinisiasi Tanoto Foundation bersama Forum Anak Kota Semarang tersebut tidak hanya mengajak anak bermain, tetapi juga membekali orang tua mengenai pentingnya terlibat aktif dalam kegiatan bermain anak.

Regional Lead Tanoto Foundation, Anang Ainur Roziqin, menegaskan bahwa keterlibatan aktif orang tua saat bermain menjadi bagian penting dari pengasuhan responsif karena membantu anak merasa aman, diperhatikan, dan didukung dalam proses tumbuh kembangnya.

Ketua Forum Anak Kota Semarang, Emir Luqman Amanillah, mengatakan bahwa anak akan merasa lebih bahagia ketika mendapatkan perhatian penuh dari orang-orang yang disayanginya. Karena itu, kehadiran orang tua secara utuh saat bermain memberikan nilai lebih bagi anak.

“Bagi anak, bermain bersama orang tua bukan hanya tentang permainannya. Anak merasa senang ketika didengarkan, diperhatikan, dan ditemani oleh orang-orang yang mereka sayangi. Kehadiran penuh orang tua saat bermain menjadi poin plus karena membuat anak merasa dihargai, aman, dan semakin dekat dengan keluarganya,” ujarnya.

Permainan tradisional sengaja dipilih karena sederhana, murah, dan mudah dilakukan di rumah. Selain itu, permainan tersebut mampu menghadirkan interaksi langsung antara orang tua dan anak di tengah perkembangan permainan digital.

Founder Golden Age Academy, Nunik Aisya, memberikan edukasi mengenai pentingnya bermain bersama anak. Ia mengatakan kebutuhan bermain masih kerap dipandang sebelah mata. Padahal, bermain merupakan salah satu kebutuhan dasar anak yang tidak boleh diabaikan.

“Dalam sesi berbagi ini, kami mengajak orang tua memahami bahwa salah satu kebutuhan sekaligus hak dasar anak adalah bermain,” ujarnya.

Menurut Nunik, kewajiban orang tua tidak hanya memantau pertumbuhan anak dan memenuhi kebutuhan gizinya, tetapi juga mendampingi anak dalam kegiatan bermain.

“Di samping memantau pertumbuhan dan memenuhi kebutuhan gizinya, ada hal lain yang juga penting, yaitu memenuhi kebutuhan anak untuk bermain,” imbuhnya.

Dalam sesi edukasi tersebut, Nunik mengajak ayah dan ibu memahami bahwa mendampingi anak bermain tidak cukup hanya dengan duduk di sampingnya. Orang tua perlu ikut terlibat, masuk ke dalam dunia bermain anak, serta hadir secara utuh tanpa terdistraksi oleh pekerjaan maupun telepon genggam.

“Jangan-jangan selama ini kita belum benar-benar bermain bersama anak, tetapi hanya menemani. Anak bermain, lalu kita duduk di dekatnya sambil mengerjakan pekerjaan lain,” tuturnya.

Menurutnya, ketika bermain, orang tua perlu memosisikan diri sebagai teman bermain, bukan sekadar pengawas. Anak juga perlu dihargai sebagai individu yang memiliki pendapat dan rasa ingin tahu.

“Sebaiknya kita bermain bersama anak secara mindful. Artinya, kita hadir secara utuh, baik jiwa maupun raga, untuk benar-benar membersamai anak,” katanya.

Karena itu, ia mengingatkan orang tua untuk membangun komunikasi positif saat bermain. Ketika anak mengalami kesulitan, orang tua sebaiknya tidak langsung mengambil alih, tetapi memancing anak berpikir melalui pertanyaan terbuka.

“Misalnya, anak mengatakan bahwa mainannya roboh. Orang tua bisa menanggapi dengan pertanyaan, seperti ‘Mengapa bisa roboh?’ atau ‘Supaya tidak roboh, harus bagaimana, Dek?’ Dengan begitu, anak terpancing untuk berpikir,” tuturnya.

Sebaliknya, orang tua diminta menghindari ucapan yang meremehkan atau membandingkan anak karena dapat mematahkan rasa percaya dirinya.

Permainan tradisional menjadi salah satu media yang dinilai efektif untuk membangun kedekatan tersebut. Menurut Nunik, hampir seluruh permainan tradisional Jawa mengandung nilai edukasi sekaligus filosofi kehidupan.

Ia mencontohkan tembang dolanan “Cublak-Cublak Suweng”. Melalui permainan tersebut, anak tidak hanya bernyanyi, tetapi juga belajar mengamati ekspresi teman, memahami aturan permainan, berkonsentrasi, memprediksi, dan memecahkan masalah.

Kemampuan berbahasa anak juga berkembang karena mereka terus berinteraksi dan menemukan kosakata baru selama bermain. Dari sisi motorik, gerakan tangan, mata, dan tubuh dilatih melalui koordinasi yang berulang.

Sementara itu, dari sisi sosial emosional, anak belajar menunggu giliran, menerima kekalahan, mengendalikan emosi, serta mematuhi aturan permainan.

Permainan tradisional juga dapat menanamkan nilai agama dan moral, seperti kejujuran dan sportivitas. Unsur seni pun hadir melalui irama, tempo, dan musikalitas dalam tembang dolanan.

“Saya rasa permainan tradisional perlu dikenalkan kepada anak-anak. Hampir semua permainan tidak membutuhkan biaya mahal atau peralatan yang harus dibeli. Setiap permainan juga dapat mendukung berbagai aspek perkembangan anak,” tegasnya.

Menurut Nunik, tidak ada alasan bagi orang tua untuk tidak mengajak anak bermain. Permainan tradisional tidak membutuhkan biaya besar dan dapat memanfaatkan berbagai benda sederhana yang tersedia di rumah.

Aktivitas sehari-hari, seperti memasak, mencuci piring, atau merapikan mainan bersama, juga dapat menjadi media belajar bagi anak. Hal yang terpenting adalah orang tua menyediakan waktu berkualitas tanpa gangguan sehingga anak merasakan kehadiran penuh ayah dan ibunya.

“Mainan terbaik bagi anak-anak kita adalah tubuh ayah dan ibunya sendiri. Hal yang terpenting bukan seberapa mahal mainannya, tetapi bagaimana mereka bermain, dengan siapa mereka bermain, dan kebahagiaan yang mereka rasakan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kebiasaan bermain bersama merupakan investasi jangka panjang dalam membangun hubungan antara orang tua dan anak. Kedekatan yang dibangun sejak usia dini akan menjadi bekal ketika anak tumbuh dewasa.

“Membangun hubungan dengan anak sangat penting karena menjadi semacam tabungan bagi orang tua. Anak yang memiliki kelekatan aman atau secure attachment dengan orang tuanya biasanya akan lebih mudah diarahkan dan disentuh hatinya ketika dewasa,” pungkasnya. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
permainan tradisional orang tua rumah anak sigap tanoto foundation