Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Hari Anak, Saatnya Hadir, Mendengar dan Bermain Bersama Anak

K
Emir Luqman Amanullah (Ketua Forum Anak Kota Semarang)
Emir Luqman Amanullah (Ketua Forum Anak Kota Semarang)

Advertisement

 

RADARSEMARANG.ID - Peringatan Hari Anak Nasional setiap 23 Juli semestinya tidak berhenti pada seremoni. Lomba mewarnai, panggung hiburan, hingga pembagian hadiah memang menyenangkan. Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian orang tua, yakni apakah anak benar-benar didengar?

Pertanyaan itu menjadi penting ketika masih banyak anak yang tumbuh tanpa ruang untuk menyampaikan pendapat. Mereka diajarkan untuk patuh, tetapi jarang diajak berdiskusi. Mereka diminta mengikuti keputusan orang tua, tetapi tidak diberi kesempatan untuk memahami alasan di balik keputusan tersebut. Akibatnya, hak anak untuk berpartisipasi dalam keluarga ataupun lingkungan sekitar masih kerap terabaikan.

Advertisement

Momentum Hari Anak seharusnya mengingatkan kita bahwa setiap anak memiliki hak untuk didengar, dihargai pendapatnya, dan dilibatkan dalam setiap keputusan yang berkaitan dengan dirinya. Selama ini, perhatian terhadap hak anak lebih banyak tertuju pada pemenuhan kebutuhan fisik, pendidikan, ataupun perlindungan dari kekerasan. Ironisnya, ada satu hak yang sering kali luput dari perhatian, yaitu hak untuk berpartisipasi. Tidak sedikit orang tua yang masih menganggap anak belum cukup dewasa untuk menyampaikan pendapat. Akibatnya, keputusan keluarga sepenuhnya berada di tangan orang dewasa.

Padahal, melibatkan anak dalam pengambilan keputusan bukan berarti memberikan kebebasan tanpa batas. Justru melalui proses tersebut, anak belajar bertanggung jawab, memahami konsekuensi, dan menghargai sudut pandang orang lain. Hal-hal sederhana, seperti mengajak anak berdiskusi untuk menentukan tujuan liburan, memilih kegiatan akhir pekan, atau mendengarkan pendapat mereka ketika menghadapi persoalan, merupakan bentuk penghormatan terhadap hak partisipasi anak.

Anak yang terbiasa diajak berdialog akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan terbuka. Mereka tidak akan ragu menceritakan kesulitan yang dihadapi, baik di sekolah, lingkungan pergaulan, maupun di rumah. Sebaliknya, ketika merasa pendapatnya selalu diabaikan, anak cenderung memilih diam dan memendam masalah. Kondisi seperti ini dapat berdampak pada kesehatan mental anak, bahkan membuat mereka enggan meminta bantuan saat menghadapi kekerasan ataupun perundungan.

Advertisement

Karena itu, pola pengasuhan perlu bergeser. Orang tua tidak cukup hanya hadir sebagai pendamping yang memastikan anak makan, belajar, dan tumbuh sehat. Lebih dari itu, orang tua harus menjadi teman berdiskusi, pendengar yang baik, sekaligus sosok yang terlibat aktif dalam setiap proses tumbuh kembang anak. Kehadiran secara emosional jauh lebih berarti daripada sekadar kehadiran fisik.

Salah satu cara paling sederhana untuk membangun kedekatan tersebut adalah bermain bersama. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, banyak keluarga menghabiskan waktu dalam satu ruangan, tetapi setiap anggota keluarga sibuk dengan gawainya masing-masing. Interaksi yang seharusnya menjadi fondasi hubungan orang tua dan anak pun perlahan berkurang.

Padahal, UNICEF menjelaskan bahwa 1.000 hari pertama kehidupan, yang berlangsung sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, merupakan periode penting untuk mengoptimalkan potensi dan tumbuh kembang anak. Pada periode tersebut, otak anak berkembang sangat pesat dengan membentuk lebih dari satu juta koneksi saraf baru setiap detik. Karena itu, stimulasi melalui interaksi, komunikasi, pengasuhan yang responsif, dan aktivitas bermain menjadi bagian penting dalam mendukung perkembangan motorik, bahasa, sosial, emosional, serta kemampuan berpikir anak.

Pentingnya stimulasi sejak dini juga terlihat dalam studi evaluasi Program Rumah Anak SIGAP yang dipublikasikan Tanoto Foundation. Studi tersebut menunjukkan bahwa 56 persen anak pada kelompok intervensi memiliki tumbuh kembang sesuai umur. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kelompok bukan intervensi yang mencapai 39 persen. Temuan ini menunjukkan pentingnya pengasuhan berkualitas dan stimulasi dini dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SemarangIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Di Balik Gelak Tawa Permainan Tradisional, Ada Pengasuhan yang Menguatkan Anak

Di Balik Gelak Tawa Permainan Tradisional, Ada Pengasuhan yang Menguatkan Anak

Puluhan anak tampak antusias mencoba berbagai permainan tradisional dalam rangkaian peringatan Hari Anak Nasional 2026 bertajuk “Main Bareng, Tumbuh Bareng”.

Bermain Bersama, Cara Sederhana Dukung Tumbuh Kembang Anak

Bermain Bersama, Cara Sederhana Dukung Tumbuh Kembang Anak

Bermain bersama anak bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pengasuhan dan proses tumbuh kembang anak usia dini. Pesan tersebut mengemuka dalam rangkaian peringatan Hari Anak

Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah: Investasi Terbaik Bangsa Adalah Melindungi Anak

Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah: Investasi Terbaik Bangsa Adalah Melindungi Anak

Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah: Investasi Terbaik Bangsa Adalah Melindungi Anak

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer