RADARSEMARANG.ID, Semarang - Suasana begitu kental dengan nuansa budaya Jawa ketika seluruh pengurus kompak mengenakan blangkon.
Pemandangan itu menegaskan tekad untuk merawat warisan leluhur sekaligus menghadirkan politik yang berpijak pada akar budaya.
Pemandangan ini terlihat pada acara Musyawarah Wilayah VI Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah (Jateng).
Para pengurus kompak mengenakan blangkon sebagai simbol warisan para leluhur yang tak meninggalan budaya Jawa.
"Kami sekarang semuanya memakai blangkon. Ini sebagai sebuah simbol bahwa ke depan kami akan membersamai agar gerakan masyarakat ini tidak meninggalkan budaya yang warisan para leluhur kita,” jelas Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) DPW PKS Jateng Budhi Hartanto di sela-sela Musywil VI PKS Jateng di Hotel Patra Jasa, Minggu (24/7).
Menurutnya blangkon yang dipakai bukan sekadar aksesori, melainkan simbol kebersamaan dan komitmen.
Pada kesempatan itu juga ada prosesi serah terima kepemimpinan yang dilakukan dengan penyerahan tongkat komando yang juga sarat makna.
"Di situ ada tombaknya Nogo Penganten. Pamurnya adalah Wengkon Isen. Jadi itu menyimbulkan bahwa kedepan PKS adalah akan semakin nunggak semi. Apa-apa yang baik di masa lalu akan kita kembangkan ke depan," imbuhnya.
Pihaknya menekankan, partai ingin hadir lebih dekat dengan rakyat sekaligus menghidupkan nilai budaya.
"Jadi PKS akan hadir di masyarakat lebih peduli, merakyat dan membersamai gerakan kebudayaan yang ada di masyarakat," bebernya.
Lebih lanjut pihaknya menyebut keberadaan PKS di Jawa Tengah adalah bagian dari masyarakat itu sendiri, bukan sesuatu yang asing.
Melalui simbol blangkon dalam Muswil kali ini, pihaknya ingin menegaskan PKS sebagai partai yang berakar pada budaya, tumbuh bersama masyarakat, dan tetap menjaga nilai-nilai luhur di tengah perjalanan politiknya.
"Kami yakin hadir bukan sebagai tamu di Jawa Tengah, tapi benar-benar kami adalah anak negeri anak bangsa dan kami adalah wong Jawa yang di shibghah atau dipenuhi dengan nilai-nilai keislaman yang tidak akan pernah memberangus atau mematikan budaya yang ada, budaya yang adil luhur," tegasnya.
Sementara Ketua DPW PKS Jateng Hadi Santoso menyampaikan musywil kali ini fokus pada kaderisasi dan pemenangan pemilu ke depan.
Pihaknya juga menyoroti pemisahan Pemilu atas kebijakan MK yang kemungkinan akan dilaksanakann pada 2029 dan 2031 mendatang.
Ia menjelaskan, karena Pemilu telah dilaksanakan secara serentak 2024 lalu. Baik pemilihan presiden dan pemilihan kepala daerah, maka PKS kini tak lagi memikirkan pemilihan wali kota maupun bupati. Sebba itu fokusnya saat ini adalah membersamai masyarakat.
"Tahun ini tidak ada (pilkada) karena sudah selesai serentak, kami konsentrasi pada pelayanan masyarakat. Kehadiran kami di ruang-ruang membersamai dengan masyarakat, mudah-mudahan ini nanti berbuah hasil di (Pemilu) 2029 karena dalam filosofi Jawa meniko wong Jawa wong sing wongne Insyaallah nanti akan juga diuwongne pada saat pemilu," ungkap Hadi. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi