Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Membersamai Siswa pada Kodrat Zamannya

Tasropi • Senin, 18 September 2023 | 20:00 WIB
Sri Walji Hasthanti
Sri Walji Hasthanti

 

RADARSEMARANG.ID, Saat ini, pendidikan secara global menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki keterampilan abad 21.

Kemajuan teknologi informatika mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan. Imbas dari kemajuan tersebut berdampak bagi perkembangan dan kemajuan dunia pendidikan.

Kemudahan mengakses informasi dan metode pembelajaran menjadi referensi bagi guru untuk merdeka mengubah gaya mengajar.

Kemerdekaan dalam kurikulum merdeka tidak dimaknai sebagai kebebasan yang tanpa batas.

Kemerdekaan pada siswa adalah mendapatkan layanan pembelajaran sesuai kodrat alam dan zamannya.

Peran guru adalah menuntun kebebasan siswa mencapai kebahagiaan dan keselamatan sesuai kodrat masing-masing.

Dalam belajar siswa bebas mendapatkan sumber belajar yang beragam. Guru bukanlah satu-satunya sumber belajar. Setiap guru adalah murid, dan setiap murid adalah guru.

Artinya, pendidikan dapat diperoleh di mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja.

Hadirnya teknologi digital memberi banyak perubahan dan manfaat.

Seperti kemudahan berkomunikasi, mencari beragam sumber belajar, penyebaran praktik baik pembelajaran melalui media sosial.

Hingga beragam permainan yang dapat menstimulus siswa untuk bernalar kritis dan menumbuhkan kreativitas.

Tetapi, kebebasan tersebut sering berdampak kurang baik bagi siswa jika orang dewasa di sekitar mereka kurang kontrol.

Kecanduan teknologi seperti penggunaan gawai yang terlalu lama akan mengakibatkan kelelahan fisik, gangguan sosial yang membuat anak canggung bergaul di dunia nyata, kesulitan memusatkan perhatian, serta emosi yang tidak stabil.

Selain itu, jika menggunakan dalam waktu lama radiasi sinar yang dipancarkan dari layar gawai juga akan berdampak buruk pada mata.

Terkadang penggunaan teknologi digital pada anak tanpa pengawasan orang tua, ataupun orang dewasa di sekitar siswa ketika di rumah.

Siswa usia sekolah dasar sering mendapat izin dari orang tua untuk berakrab dengan gawai pada hari Sabtu atau hari libur.

Lalu, bagaimana jika ada hari libur berturut-turut atau libur panjang? Jika kurang kontrol dari orang tua dikhawatirkan mereka akan mengakses konten-konten negatif atau konten yang belum sesuai dengan usia mereka.

Memang saat ini siswa kita berada pada kodrat zaman teknologi modern yang serba digital dan mudah. Kemudahan teknologi tersebut bagai pedang bermata dua.

Di sisi lain bermanfaat untuk hal-hal positif, memudahkan pekerjaan atau belajar dan di satu sisi berdampak negatif.

Ketika di sekolah guru sering menanyakan kegiatan siswa di rumah. Hal ini untuk menyamakan persepsi dalam hal menuntun siswa mencapai kompetensi dan tujuan pembelajaran.

Namun, sering kali apa yang diharapkan guru kurang sesuai dengan kenyataan. Banyak waktu luang siswa di rumah dihabiskan untuk bermain game, melihat YouTube, atau media sosial lainnya.

Hal ini akan semakin membuat siswa lelah, tidak ada waktu mengulang pelajaran yang telah didapat, atau mempelajari materi selanjutnya.

Di rumah, siswa sebaiknya dilatih untuk menyeimbangkan waktu penggunaan media teknologi digital dengan interaksi di dunia nyata atau sesuai kodrat alamnya.

Misalnya bersosialisasi dengan tetangga, mengembangkan bakat, olah raga, melibatkan anak dalam kegiatan di lingkungan rumah, dll.

Lebih bagus lagi jika ada aturan di rumah seperti pembiasaan tidak menyentuh gawai pada jam prima dan menggunakan waktu tersebut untuk kegiatan ibadah, berkumpul dengan keluarga, belajar, dan kegiatan pendampingan lainnya.

Orang tua dapat memberi contoh penggunaan perangkat digital dengan bijaksana, seperti meletakkan perangkat komputer di ruang terbuka yang mudah dilihat.

Tidak menggunakan media digital saat berinteraksi langsung atau berkegiatan dengan orang lain, atau tidak menggunakan gawai menjelang tidur.

Di sekolah, guru dapat mengarahkan siswa untuk memanfaatkan aplikasi-aplikasi positif terutama yang dapat mendukung pembelajaran, pengembangan bakat, menguji kompetensi, dan mencoba berkompetisi.

Keterbatasan peran guru dalam membersamai siswa dalam menuntun kodrat zaman membutuhkan komitmen dan kerja sama dengan orang tua.

Dengan demikian anak akan berkembang sesuai kodrat alam dan kodrat zaman secara seimbang. (fu/lis)

 

 

Oleh: Sri Walji Hasthanti

Guru SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga

Editor : Agus AP
#Media Digital #Ilmu Pengetahuan #Teknologi Digital