Taman Kanak Kanak (TK) merupakan taman atau tempat untuk anak-anak usia pra sekolah. Di TK masih diajarkan permainan yang menyenangkan, di situlah mereka banyak kesempatan untuk bermain. Belum semua mengenal membaca. Apalagi bila TK itu berada di wilayah pedesaan, untuk membaca masih banyak kendala. Dalam kondisi yang demikian ini antara TK yang satu dengan lainnya berbeda. Ada yang peserta didiknya sudah bisa membaca dan juga masih banyak yang belum dapat membaca.
Ketika masuk ke jenjang pendidikan sekolah dasar banyak permasalahan yang muncul dalam pembelajaran, bagaimanapun akan dimulai dengan membaca dan menulis. Agar siswa dapat membaca maka guru menempuh berbagai hal misalnya menggunakan media dan metode yang disesuaikan dengan keadaan dan karakteristik siswa.
Guru dapat menggunakan teknologi dalam mendampingi mereka belajar membaca. Membaca pada hakikatnya adalah sesuatu yang rumit yang melibatkan banyak hal. Tidak hanya melafalkan tulisan tetapi juga melibatkan aktifitas visual,berfikir,psikolinguistik dan metakognitif.
Membaca menjadi hal yang tidak disukai dan membosankan bagi anak, manakala bacaan-bacaan tersebut penuh dengan tulisan. Tanpa hiasan yang menarik dan gambar-gambar lucu yang dapat membuat mereka fresh dan mampu menerima apa yang dibacanya dengan lebih menyeluruh.
Menurut Arsyad (2011) fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru. Kemampuan membaca berkaitan erat dengan bahasa Indonesia yang memiliki 4 aspek. Yakni aspek membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan.
Media yang dapat digunakan untuk kebutuhan membaca siswa di antaranya pertama, kartu kata. Penggunaan kartu kata dapat diterapkan di kelas permulaan. Cara kerja media ini dengan menyusun beberapa kartu yang bersisi huruf/kata menjadi kata yang sesuai. Dan siswa dapat menggunakan ini dengan mandiri. Kedua, puzzle kata.
Puzzle kata merupakan media yang digunakan untuk menyusun beberapa kata dengan mengacak kata. Media ini dapat merangsang motivasi dan antusias siswa karena media yang interaktif. Media puzzle ini dapat berupa media berbasis IT. Aplikasi berbasis IT lebih mempermudah guru dalam mengajarkan penyusunan kata pada siswa. Ketiga, gambar berseri.
Gambar berseri dgunakan untuk membantu siswa dalam aspek bercerita dan berbicara. Dengan merangkai gambar menjadi susunan gambar yang sesuai siswa dapat pula mengembangkan aspek kognitif. Keempat, papan pasir. Papan pasir berupa media yang berbentuk kotak dan di atasnya diberi pasir. Kegunaan media ini untuk belajar menulis huruf permulaan. Tepatnya media ini diberikan saat kelas 1 sekolah dasar. Khususnya di SDN 3 Tanggel. Kelima,pop up book.
Media pop up book sebenarnya dapat digunakan di kelas rendah dan kelas tinggi. Media tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan semua aspek. Keenam, wayang kata. Media wayang kata ini sering digunakan guru untuk menyampaikan beberapa kata sukar. Gambar wayang digunakan sebagai alat untuk menarik perhatian siswa saat pembelajaran.
Diharapkan dengan adanya beberapa contoh media yang digunakan dapat mempermudah siswa dalam belajar membaca. Kita bisa menggunakannya sebagai alat peraga di sekolah, tentunya penggunaan media disesuaikan dengan keadaan dan karakteristik anak di masing-masing sekolah. Belajar akan lebih menyenangkan dan menambah semangat para siswa. Dengan adanya media ini selain menambah kemampuan kognitif siswa, juga akan meningkatkan kemampuan aspek yang lain. (*/lis)
Guru SDN 3 Tanggel, Kec.Randublatung, Kabupaten Blora Editor : Agus AP