Kompleks museum sangat asri dan terawat. Banyak pohon tua, besar dan teduh.
Museum berada di sayap kiri pendopo rumah Dinas Kantor Pembantu Gubernur Wilayah Kedu. Pintunya ditutup rapat. Sebelum masuk ruangan, pengunjung harus melepas alas kaki. Menurut Sunaryo hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan menjaga kebersihan ruangan.
Wartawan koran ini didampingi Mbah Sunaryo, pemandu wisata museum. “Selain melepas alas kaki, kami juga harus mengucapkan salam sebelum masuk ruangan,” jelasnya sembari mengucapkan salam.
Di ruangan itu tersimpan beberapa benda peninggalan Pangeran Diponegoro. Yakni jubah, meja kursi saat berunding, teko atau poci dan tujuh cangkir minuman. Selain itu bale-bale tempat salat Pangeran Diponegoro saat berperang di Gombong, Kebumen.
Empat kursi dan satu meja kayu kuno menjadi saksi bisu kemarahan Pangeran Diponegoro ketika ditangkap. Sunaryo menjelaskan pada pegangan kursi yang diduduki pangeran terdapat bekas guratan kuku karena menahan amarah terhadap kelicikan Belanda.“Hingga saat ini bekas cakaran itu masih ada di kursi yang disimpan di lemari kaca,” ucapnya sambil menunjukan bekas guratan itu.
Posisi tempat duduk ini sesuai dengan perundingan di tahun 1830. Waktu itu Pangeran Diponegoro berunding dengan Jenderal De Kock sebelum ditangkap pada 28 Maret 1830. Diponegoro duduk menghadap ke arah pintu keluar atau arah barat. Berhadapan langsung dengan De Kock. Sedangkan kursi di kanan kiri dipakai dua orang yang bertindak sebagai penerjemah.“Penerjemah atau translator waktu itu adalah Mayor Ajudan De Strure, dan Kapten Roes,” ucapnya sembari mengatakan museum diresmikan 11 Agustus 1977.
Cerita Sunaryo, jubah yang disimpan di museum itu dipakai saat berunding dengan Belanda. Jubah ini terbuat dari kain santung yang berasal dari Tiongkok.“Sebelumnya jubah ini disimpan di Jogjakarta oleh R.M. Bekel Mangun Suribowo,” ceritanya.
Tersimpan pula kitab Taqrib dengan isi tulisan Arab gundul. Konon kitab ini merupakan pelajaran strategi yang diberikan kepada Pangeran Diponegoro dari gurunya. "Buku ini belum diketahui isi pastinya. Kami hanya menjaga dan tidak meneliti," tandasnya.
Setelah melihat semua peninggalan Pangeran Diponegoro, sebelum pulang wartawan koran ini diajak Sunaryo berdoa terlebih dahulu di dekat bale-bale. Doa kepada Pangeran Diponegoro dan semua pahlawan yang sudah wafat. (rfk/lis)
Editor : Agus AP