Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Mengenal Prokem Semarangan, Dhenyom, Kahath dan Kas Paling Populer

Agus AP • Minggu, 31 Januari 2021 | 19:52 WIB
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan istri Krisseptiana beramah tamah dengan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin usai dilantik menjadi Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) masa jabatan 2022-2027 di Istana N
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan istri Krisseptiana beramah tamah dengan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin usai dilantik menjadi Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) masa jabatan 2022-2027 di Istana N
RADARSEMARANG.ID - Ibu Kota Jateng, Semarang ternyata punya bahasa yang unik dan menjadi ciri khas sampai saat ini. Bahasa tersebut adalah Prokem Semarangan yang konon kali pertama muncul pada tahun 1970-an dan tenar pada 1980-an sampai saat ini.

Bahasa prokem Semarangan ini bisa dibilang bahasa walikan atau memindahkan tatanan huruf Jawa Hanacaraka. Ada rumus tersendat, yakni dari 20 huruf Jawa dibagi menjadi dua kelompok.

Sepuluh huruf urutan pertama dibaca sesuai dengan urutannya. Sepuluh huruf kedua dibaca terbalik. Dua deret huruf itu kemudian disusun dalam dua baris. Setelah itu, semua huruf konsonan pada kata baku bahasa Jawa ditukar dengan huruf dari baris yang berlawanan. Sedangkan huruf vokal dibiarkan sesuai aslinya.

Contohnya adalah kata dhenyom yang artinya perempuan. Kata ini disusun dari aksara jawa dhe=we, nyo=do dan m=k, menjadi dheyom atau wedok. Kata lainnya adalah ka=ma, ha=nga, th=n yang dibaca kahath atau mangan yang berati makan. Juga kata kas yang sering menjadi nama panggilan orang terdekat yang berati mas, disusun dari kata ka=ma, s=j yang artinya mas.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menjadi salah satu pejabat asli Semarang yang masih menggunakan bahasa prokem ini. Bahkan pria yang akrab disapa Hendi ini, kerap dipanggil dengan panggilan Kas Hendi yang artinya Mas Hendi. "Awalnya tahu bahasa ini saat saya SMA dulu, sekitar tahun 1987. Istilahnya adalah bahasa walikan atau dapikan dari konsep aksara Jawa," katanya.

Kas Hendi mengaku, ia pun secara otodidak belajar bahasa Prokem Semarangan, yang ternyata menjadi ciri khas Kota Semarang. Karena terbiasa, sampai sekarang orang nomor satu di Semarang ini cukup memahami bahasa tersebut. "Ya sampai sekarang ini masih sering dipakai, kadang saya juga denger dari masyarakat yang ngomong bahasa prokem ini," bebernya.

Ia mencontohkan, saat ia turun ke lapangan dan bertemu warga, kadang ada warganya yang berbicara atau menyapanya dengan Prokem Semarangan. Hendi pun tak segan membalasnya dengan bahasa prokem untuk menjawab sapaan tersebut.

"Masih ada lho yang pakai, misalnya Kas Hendi gung khahat, meh ngejeti po (Mas Hendi, saya belum makan, mau ngasih uang), ya menarik juga," tambahnya.

Meskipun sudah semakin langka, menurut dia masih banyak masyarakat yang memahami prokem ini. Apakah harus dilestarikan? Menurut Hendi prokem tersebut tergantung kebutuhan, yang jelas semakin banyak yang memakai akan semakin lestari. "Ya kalau nggak ada yang pakai, pasti punah," katanya.

Prokem lainnya yang menjadi ciri khas adalah adalah kata ngasruh yang artinya ngawur, kamso atau ketinggalan zaman, gamjet atau tidak punya uang, ngotek atau banyak ngomong.

Bahkan ada juga kata ndes, meski bisa diartikan kasar, kata ini biasa dipakai ketika menyapa teman dekat. Ada pula kata ik yang sebagai kata tanya misalnya pie ik? Atau bagaimana ini, rak atau tidak, sik atau sebentar, reti dari kata ngerti yang artinya tahu.

Menurut Hendi, kata-kata ini adalah kata khas yang Semarang banget, artinya memang menjadi kekhasan gaya bicara warga Semarang yang menarik dan bisa saja menjadi nilai jual untuk sektor wisata.

"Karena memang khasnya begitu, istilahnya logat Semarangan. Daerah lain kan juga punya, misal Surabaya atau Jakarta dengan Betawi. Saya rasa memang bisa jadi ciri khusus dan punya nilai jual," pungkasnya. (den/ida) Editor : Agus AP
#top #prokem Semarangan