RADARSEMARANG.ID, BATANG - Dinas Kominikasi dan Informasi (Diskominfo) Kabupaten Batang menargetkan tahun 2024 sudah merdeka sinyal. Secara bertahap sudah berusaha mengatasi 33 titik desa blank spot. Kini 25 titik sudah merdeka sinyal.
"Data kami pada awal tahun 2021 ada 33 desa blank spot. Secara bertahap kami entaskan dari blank spot, kami kerjasamakan dengan penyedia jaringan. Alhamdulillah bersambut dengan program mereka, satu demi satu yang tadinya susah sinyal, telah dientaskan dari blank spot," kata Kepala Diskominfo Kabupaten Batang Triossy Juniarto saat meninjau jaringan internet di Desa Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Selasa (15/8/2023).
Saat ini masih ada delapan desa yang masih berstatus blank spot. Tidak ada jaringan apapun. Sedangkan berbagai daerah yang sudah dientaskan bisa teratasi dengan ketersediaan internet kabel dan sinyal provider.
Seperti di Desa Pranten, sejak 2022 internet kabel dari PLN masuk ke wilayah tersebut. Desa Pranten masuk di daerah pegunungan yang berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara. Layanan internet kemudian dikelola BUMDes untuk disalurkan ke masyarakat. Walaupun provider jaringan seluler belum tersedia, permasalahan internet bisa teratasi dengan internet kabel.
"Kami masih mengupayakan jaringan fiber optik (FO) maupun jaringan selulernya. Delapan desa itu memang berada di pegunungan yang aksesnya susah dan terpencil. Oleh karena itu, kami menyesuaikan program penyedia jaringan mereka. Kami targetkan tahun 2024 jaringan internet dan pengurangan sinyal seluler di delapan desa tersebut," jelasnya.
Terbaru tower BTS dari Telkomsel diresmikan di Desa Silurah, Kecamatan Wonotunggal. Daerah tersebut juga berada di tempat terpencil yang berbatasan dengan Kabupaten Pekalongan.
Triossy menjelaskan, masukannya internet di perdesaan untuk mengurangi kesenjangan informasi. Sehingga masyarakat bisa melek informasi, serta dapat menumbuhkan geliat perekonomian dengan pemanfaatan internet.
"Kami terus melakukan evaluasi pasca masuknya jaringan internet di beberapa wilayah perdesaan. Karena dengan demografi cukup ekstrem dan akses jalan yang cukup sulit manjadi kendala jaringan internet," imbuhnya. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla