Ada empat jenis teks yang dipelajari di kelas IX semester 1. Salah satunya yaitu jenis teks tanggapan kritis yang terbagi atas empat KD. Salah satu KD tersebut mempelajari tentang mengungkapkan teks tanggapan secara lisan dan atau tulis.
Teks tanggapan kritis merupakan salah satu jenis teks yang berada pada genre (teks) tanggapan (Kemendikbud, 2015:102). Dalam pembelajaran ini siswa dituntut memiliki dua keterampilan sekakigus, yaitu keterampilan berbicara dan keterampilan menulis.
Teks tanggapan kritis memiliki tujuan untuk menaggapi pesan yang ada di dalam teks. Di sini siswa dituntut dapat berpikir kritis. Siswa perlu belajar keras untuk mengasah kemampuan tersebut. Untuk itu seorang guru harus menjadi motivator siswa berpikir kritis. Salah catu cara yang dapat digunakan guru untuk memotifasi adalah dengan memilih metode pembelajaran tertentu. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis adalah metode Critical Thinking.
Critical thinking menurut Michael Scriven, seorang profesor di bidang ilmu perilaku dan organisasional dari Claremont Graduate Unversity, adalah proses disiplin intelektual untuk secara aktif dan terampil membuat konsep, menerapkan, menganalisa, mensintesa, dan/atau mengevaluasi informasi. Baik informasi yang dikumpulkan atau dihasilkan melalui observasi, pengalaman, refleksi, penalaran, atau komunikasi, sebagai panduan untuk meyakini sesuatu dan melakukan sebuah tindakan (https://www.sehatq.com/artikel/cara-belajar-berpikir-kritis-dan-manfaat-yang-bisa-didapatt).
Ada beberapa tahap yang dapat dilakukan seorang guru untuk melatih kemampuan berpikir kritis (critical thinking) siswa. Pertama, mengidentifikasi, membangun, dan mengevaluasi sebuah argumen terkait isu yang menarik perhatian. Seorang guru membimbing siswa untuk menemukan permasalahan yang ada didalam teks. Kedua, Mencoba memahami hubungan logis dalam setiap ide yang dikemukakan. Guru memberi penjelasan benang merah dari masing-masing ide. Ketiga, mendeteksi apakah ada inkonsistensi dan kesalahan umum di dalam penalaran. Setelah menemukan benang merah yang menghubungkan antara ide satu dengan lainnya. Guru bersama siswa mendeteksi kelemahan, kesalalahan atau kekurangan dalam teks tersebut. Keempat, mencoba memecahkan masalah secara sistematis. Kelima, mengidentifikasi apa relevansi dan pentingnya sebuah atau beberapa ide. Setelah kelemahan, kesalalahan atau kekurangan guru memberikan stimulus agar siswa bisa memberikan pemecahan dari permasalahan yang adal dalam teks tersebut.
Berpikir kritis melibatkan kerja intensif dan konsentrasi, tetapi siswa harus mempraktikkannya sendiri dalam kehidupannya. Untuk sebagian besar proses bukan lagi mengharapkan bimbingan guru, sehingga pola pikir siswa akan terbentuk dengan baik dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi, sehingga pembelajaran ini akan membekas dan menjadi pembelajaran seumur hidup yang lebih baik. (pai2/ton)
Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 1 Watukumpul, Pemalang Editor : Agus AP