Keterampilan berbahasa sangat diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar. Menurut Yeti Mulyati (2015:16), jika seseorang tidak terampil berbahasa maka tidak dapat mengungkapkan pikiran, tidak dapat mengekspresikan perasaan, tidak dapat menyatakan kehendak, atau melaporkan fakta-fakta yang diamati. Di sisi lain, jika keterampilan berbahasa tidak dikuasai maka seseorang tidak dapat memahami pikiran, perasaan, gagasan, dan fakta yang disampaikan oleh orang lain.
Di SMK Negeri 1 Jambu mengolaborasikan mata pelajaran bahasa Indonesia ke dalam mata pelajaran (mapel) lain merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengasah keterampilan berbahasa yang dimiliki setiap peserta didik. Itu artinya, bahasa Indonesia tidak dipelajari sebagai sebuah mata pelajaran melainkan dijadikan sebagai keterampilan dalam mempelajari segala hal. Aspek-aspek keterampilan berbahasa dikembangkan secara langsung saat kegiatan pembelajaran. Menyimak, membaca, menulis dan berbicara ada dalam setiap pembelajaran mata pelajaran di sekolah.
Bahasa Indonesia dapat dikolaborasikan dengan mata pelajaran normada misalnya Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, Seni Budaya, Fisika, Kimia, dll. Atau juga bisa dikolaborasikan dengan mata pelajaran produktif, seperti tata busana, teknik kendaraan tingan otomotif, teknik pemesinan, dll. Dalam setiap mata pelajaran mengharuskan anak untuk terampil dalam menangkap informasi dan menyampaikan informasi yang didapat, baik melalui tulisan ataupun lisan. Oleh karena itu, penting sekali anak terampil dalam berbahasa Indonesia.
Untuk mengukur keterampilan berbahasa peserta didik, guru bahasa Indonesia dapat berkolaborasi dengan cara ikut dalam pembelajaran guru lain atau dengan memberikan panduan penilaian keterampilan berbahasa kepada guru lain. Pada saat mengikuti pembelajaran mata pelajaran lain, guru bahasa Indonesia dapat menilai keterampilan berbahasa peserta didik dengan melakukan pengamatan. Pengamatan ini dilakukan saat peserta didik menerima materi, kemudian menjawab pertanyaan yang diajukan guru. Dalam hal ini yang dinilai adalah keterampilan menyimak/mendengar dan berbicara. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan melihat catatan atau lembar jawab dari peserta didik. Selain itu, yang paling mudah dilakukan adalah menilai kemampuan berbicara peserta didik pada saat berdiskusi dan presentasi.
Catatan keterampilan berbahasa peserta didik, dapat diberikan kepada guru lain untuk mengukur keterampilan berbahasa peserta didik. Catatan ini dibuat seringkas mungkin yang berisi tentang catatan keterampilan berbahasa peserta didik. Dengan adanya catatan ini, guru dapat melihat keterampilan berbahasa yang dimiliki oleh peserta didik.
Jadi untuk mengasah keterampilan berbahasa Indonesia, peserta didik diperlukan pembiasaan. Pembiasaan ini dapat diperoleh dengan menempatkan mata pelajaran bahasa Indonesia bukan sebagai mata pelajaran seperti biasa tetapi menjadikan bahasa Indonesia sebagai sebuah keterampilan. Keterampilan berbahasa Indonesia meliputi mendengar/menyimak, membaca, menulis dan berbicara dikolaborasikan ke dalam semua aspek pembelajaran di semua mata pelajaran. Dengan demikian, keterampilan tersebut digunakan setiap saat sehingga keterampilan berbahasa akan terasah dan semakin meningkat. (ips2.1/ida)
Guru SMK Negeri 1 Jambu Kabupaten Semarang Editor : Agus AP