Puguh Santosa sudah tak sabar menyaksikan penampilan sang putra, Alfreanda Dewangga, dalam laga final sepakbola SEA Games melawan Thailand, petang ini pukul 18.30. Ia dan para tetangga mengaku akan menggelar nonton bareng (nobar) untuk mendukung anaknya.
Saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di rumahnya Jalan Pucang Anom Timur, Kelurahan Batursari, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Puguh Santosa dan kakak Dewangga, yakni Alfebta Dewangga Santosa tengah asyik menonton highlight Timnas Indonesia versus Vietnam. Termasuk berita lainnya mengenai Timnas Indonesia di ajang SEA Games Kambonja.
Puguh Santosa menuturkan, nonton bareng itu merupakan salah satu bentuk dukungan dari keluarga. "Di final besok (petang ini, Red) Insya’Allah ada nobar bersama warga di RW 20 khususnya di RT 10," katanya, Senin (15/5).
Dikatakan, setiap akan bertanding, biasanya Dewa –sapaan akrab Dewangga--selalu video call keluarga untuk meminta doa restu. Hal itu dilakukan agar saat bermain nanti anaknya yang lahir pada 28 Juni 2001 itu mendapat barokah dan membawa berkah bagi Indonesia.
"Dia selalu minta doa restu lewat video call sama mamahnya, kakaknya, dan saudara-saudara," ujarnya.
Diketahui, Dewangga adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Dua kakaknya, Alfebta Dewangga Santosa dan Alfrieza Dewangga Santosa.
Menurut Puguh, sebagai anak terakhir, Dewa punya sifat manja. Kendati demikian, dia punya karakter bermental baja, gigih, dan mandiri.
"Dewa itu anak ragil agak manja-manja sedikit. Tapi, dia punya keinginan yang tinggi untuk mandiri, tidak semanja itu. Dia tidak pernah berbuat yang aneh. Kalau latihan ya latihan. Waktunya ibadah ya ibadah. Jadi, tidak pernah neko-neko selain latihan," katanya.
Melawan Timnas Thailand di final petang ini, Puguh optimistis Timnas Indonesia juara. Ia berharap putranya akan menjadi salah satu bagian sejarah penting, karena berhasil membawa Indonesia meraih medali emas sepakbila setelah gagal selama 32 tahun.
“Saya sudah bilang, nanti kalau juara, kita punya keinginan ayo kita ke mana, nyumbang ke anak yatim atau ke masjid,” jelas Puguh.
Support penuh terhadap Dewangga juga diungkapkan kakak sulungnya, Alfebta Dewangga Santosa. Angga –sapaannya—mengaku selalu menghubungi Dewa setiap kali selesai bertanding. "Setiap selesai main, saya selaku komen dan mengevaluasi, bagaimana dia main hari ini dan apa yang harus dilakukan untuk pertandingan selanjutnya," katanya.
Angga sendiri juga pemain bola dan pernah berlaga di liga profesional membela Persipur Purwodadi, dan sempat di PSIS Semarang.
Menurutnya, lawan Thailand memang tim kuat. Namun Angga melihat semua tim di SEAGames kali ini merata. "Jadi, tidak perlu menganggap lebih Thailand dan fokus pada diri sendiri saja," pesannya.
Sementara itu, kiper Ernando Ari Sutaryadi bertekad habis-habisan di partai final SEA Games 2023. Selain persiapan fisik yang matang, dukungan dari pihak keluarga menjadi amunisi utama secara lahir dan batin. Khususnya, doa ibundanya yang saat ini tengah menjalani ibadah umrah di Tanah Suci.
"Iya momentumnya pas. Ibunya saat ini sedang umrah, dan besok menjelang pertandingan final melawan Thailand pas terakhir di Mekkah," kata Slamet Rianto, paman Nando --sapaan akrab Ernando--kepada Jawa Pos Radar Semarang di kediaman Perum Wana Mukti Blok I.2 No. 24 Semarang.
Ia menceritakan, koneksi Nando dan sang ibunda sangat kuat. Tiada hari tanpa ngobrol. Meskipun melalui layar kaca. Saling mendoakan dan mendukung. Selalu minta restu kemanapun Nando melangkah. "Setiap hari minimal dua atau tiga jam video call dengan ibunya," terang Slamet.
Menjelang final petang ini, sudah dari awal Nando minta didoakan oleh ibunya di depan Kakbah. Begitupun ibunya, sudah otomatis melangitkan doa di depan pintu multazam. "Targetnya adalah medali emas. Supaya bisa membanggakan Indonesia," tandasnya.
Ia juga bercerita, bakat menjadi pemain sepakbola merupakan turunan dari almarhum ayah Nando. Dulu ayahnya adalah pemain sepakbola antar kampung (tarkam). Hingga mengenal pelatih SSB Tugu Muda. "Ikut dalam kepengurusan lalu membuat event sepakbola turnamen wali kota," terang Slamet.
Dari situlah kemudian Nando belajar sepakbola. Begitu juga adiknya yang saat ini bergabung dengan PSIS Junior. Ayahnya mengarahkan supaya menjadi atlet sepakbola. "Dulu Nando jadi striker, tapi sang pelatih membaca potensi lain dan cocok menjadi kiper karena konsentrasi dan refleknya bagus. Saat itu kelas tiga SD," ceritanya.
Tak ada keinginan apapun dari Nando pribadi maupun keluarga selain merengkuh medali emas di final SEA Games 2023. Sebab, hal itu merupakan pencapaian tertinggi dalam ajang kompetisi tersebut. "Saat ini fokus untuk meraih medali emas. Itu saja," tandasnya. (fgr/mia/aro) Editor : Agus AP