RADARSEMARANG.ID, Semarang – Pendaftaran Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMP Kota Semarang 2026 resmi dibuka.
Namun di balik dimulainya proses seleksi, muncul fakta bahwa ribuan lulusan SD dipastikan tidak akan mendapatkan kursi di sekolah negeri.
Data Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang menunjukkan jumlah lulusan SD negeri tahun 2026 mencapai 21.027 siswa.
Sementara daya tampung seluruh SMP negeri hanya tersedia 15.366 kursi. Artinya, sekitar 5.600 lebih lulusan SD harus mencari alternatif pendidikan di sekolah swasta.
Kepala Disdik Kota Semarang, Muhammad Ahsan, mengakui kapasitas SMP negeri memang belum mampu menampung seluruh lulusan SD.
Meski demikian, ia menilai kondisi tersebut masih ideal karena keberadaan sekolah swasta menjadi bagian dari sistem pendidikan yang harus tetap berjalan.
"Masih ada sekolah swasta yang siap menerima calon murid. Sekolah swasta juga merupakan mitra pemerintah dalam layanan pendidikan," ujarnya, Senin (22/6).
Menurut Ahsan, jika seluruh lulusan hanya berorientasi masuk sekolah negeri, keberlangsungan sekolah swasta juga akan terdampak.
Dalam pelaksanaan SPMB tahun ini, kuota penerimaan dibagi melalui empat jalur. Jalur domisili memperoleh porsi terbesar yakni 40 persen, disusul jalur prestasi 25 persen, afirmasi 25 persen, dan mutasi sebesar 5 persen.
Disdik memastikan siswa dari keluarga kurang mampu tetap mendapatkan akses pendidikan gratis melalui jalur afirmasi maupun program sekolah swasta gratis yang telah terintegrasi dalam sistem SPMB.
"Kami pastikan anak-anak dari keluarga tidak mampu tetap bisa mendapatkan pendidikan gratis," tegas Ahsan.
Sementara itu, hari pertama pendaftaran diwarnai membludaknya orang tua yang mendatangi posko aduan Disdik Kota Semarang.
Berbagai persoalan teknis menjadi keluhan utama, mulai dari data prestasi yang tidak muncul dalam sistem hingga kebingungan memilih jalur pendaftaran.
Aya, salah satu wali murid, mengaku harus datang langsung ke kantor Disdik setelah data prestasi anaknya yang sudah terverifikasi di aplikasi Sang Juara tidak muncul dalam jurnal SPMB.
"Sudah terverifikasi, tapi tidak muncul di sistem. Akhirnya saya datang ke posko untuk meminta bantuan," katanya.
Setelah dilakukan pengecekan dan input ulang oleh petugas, masalah tersebut berhasil diselesaikan dan anaknya dapat melanjutkan pendaftaran melalui jalur prestasi.
Di lokasi berbeda, Sulistiawan juga memilih berkonsultasi langsung dengan panitia di SMPN 22 Semarang karena masih bingung menentukan jalur pendaftaran yang paling sesuai bagi anaknya.
Membludaknya warga di posko aduan menunjukkan tingginya antusiasme sekaligus kekhawatiran orang tua menghadapi persaingan masuk SMP negeri yang tahun ini kembali berlangsung ketat. (den)
Editor : Baskoro Septiadi