RADARSEMARANG.ID, Semarang - Pasar Johar dibangun megah pasca kebakaran dan diresmikan Presiden ke-7 Joko Widodo Rabu 5 Januari 2022.
Tetapi dibalik kemegahannya, para pedagang menjerit. Pembeli semakin menurun dan banyak lapak tutup.
Pantauan Jawa Pos Radar Semarang di Johar Tengah, masih banyak lapak pedagang buka. Seperti lapak pakaian, souvenir pernikahan, keperluan hajatan, dan lainnya.
Tetapi kondisinya sekarang berubah. Dari hari ke hari, pembeli semakin menghilang. Tak sedikit para pedagang yang jenuh menunggu pembeli karena sepinya pasar. Mereka tidak memanfaatkan dunia maya atau online sebagai alternatif penjualan.
Sementara di Johar Utara lantai bawah, puluhan lapak berjejer tutup. Entah libur, atau ditinggal pedagang.
Sementara, lapak yang buka seperti jam, optik, warung minuman, pakaian, dan lainnya pun terlihat sepi. Tak ada satu pembeli yang mampir.
Apalagi di lantai atas. Banyak toko yang tutup. Hanya sejumlah pedagang optik, batu akik, dan pedagang aksesoris lainnya.
Ngatimin, 61, pedagang pakaian ini jenuh karena tak satupun pembeli yang mampir di tokonya.
Kondisinya sudah sangat jauh berbeda karena ia berjualan di Pasar Johar sudah sejak 30 tahun.
"Tahun 2015, terdampak kebakaran hebat. Pindah ke MAJT, lalu 2022 kebakaran lagi, dan sekarang di Pasar Johar," akunya.
Ia mengaku tidak bisa mengikuti perkembangan pemasaran online. Sejak kebakaran jauh berkurang, sebelum kebakaran pengunjung banyak.
"Apalagi, jualan online yang merebak, saya berharap Pasar Johar ramai lagi, kan kita berjualan di pasar," ujarnya.
Senada, Evi, toko konveksi, mengandalkan penjualan di pasar saja. Karena penjualan online dibantu anaknya.
"Kalau ada penjualan online, otomatis ke pasar ini berkurang. Sehingga, pasar sepi. Karena tidak repot, hanya lewat handphone," ujarnya.
Sementara itu, Setiawati, salah seorang pelanggan, membeli hanger gorden, dan pakaian. Ia membeli langsung di pasar karena lebih puas melihat bahannya, dan sesuai apa yang diinginkan.
"Kalau online ada yang kecewa tidak sesuai dengan gambar, dan menunggu agak lama," akunya. (fgr/fth)
Editor : Baskoro Septiadi