RADARSEMARANG.ID — Arus Mudik dan Arus Balik, merupakan dua istilah yang populer saat pra dan pasca idulfitri atau lebaran.
Pelaku dari aktivitas tersebut adalah “pemudik” dan inti dari pemudik adalah “mudik.”
Arus Mudik dan Arus Balik sebagai fenomena memang menarik, hingga pengelolaan arus mudik akan selalu berkesinambungan dengan pengelolaan arus balik.
Dahulu antara mudik dan lebaran tidak terdapat korelasi.
Akan tetapi, kini pengertian mudik dikaitkan dengan kata “udik” yang artinya kampung, desa, atau lokasi yang menunjukan antonim dari kota.
Kemudian, pengertian ini ditambah menjadi ‘mulih udik’ yang berarti ‘kembali ke kampung atau desa saat lebaran.’
Mudik juga bisa menjadi semacam terapi yang menguatkan hubungan kekeluargaan.
Dalam aspek psikologis, mudik akan membangkitkan kesegaran dan tenaga baru bila mereka kembali bekerja di kota.
Oleh karena itu mudik lebaran, selain menjadi tradisi tahunan juga memiliki efek perbaikan hidup atau terapi untuk rasa kehilangan bagi mereka yang hidup jauh dari orang tua dan keluarga.
Dalam konteksnya, arus mudik adalah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna ‘pergerakan para pemudik pulang ke kampung halaman, baik melalui jalur darat, laut, maupun udara’ Sedangkan arus balik adalah menurut KBBI bermakna ‘pergerakan para pemudik dari kampung halaman kembali ke tempat asalnya, baik melalui jalur darat, laut, maupun udara.
Namun saat libur panjang atau long weekend seperti akhir tahun 2026 banyak anak sekolah yang libur juga bebarengan dengan libur natal dan tahun baru.
Biasanya banyak orang tua yang berada di perantauan memanfaatkan momen liburan ini untuk pulang kampung atau mudik kampung halaman.
Puncak arus mudik Nataru 2025 2026 diperkirakan terjadi pada Rabu, 24 Desember 2025 dengan jumlah perkiraan pergerakan sebanyak 17,18 juta orang.
Sementara itu, puncak arus balik Nataru 2025 2026 diprediksi terjadi pada Jumat, 2 Januari 2026 dengan perkiraan pergerakan sebanyak 20,81 juta orang.
"Kami memprediksi puncak arus mudik masa libur Nataru 2025/2026 akan terjadi pada Rabu, 24 Desember 2025 dengan perkiraan pergerakan 17,18 juta orang, sementara puncak arus balik diprediksi terjadi Jumat, 2 Januari 2026 dengan perkiraan pergerakan sebanyak 20,81 juta orang," ujar Menhub Dudy dilansir dari situs Kemenhub (7/12/2025).
Untuk memantau pergerakan masyarakat selama libur Nataru 2025 -2026, Kemenhub akan menyelenggarakan Posko Terpadu Angkutan Nataru 2025/2026 mulai 18 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026.
Menhub Dudy menambahkan, ada dua isu penting yang perlu diantisipasi pada masa angkutan Nataru 2025/2026, yaitu potensi lonjakan penumpang serta risiko cuaca ekstrem.
Dalam hal ini, Kementerian Perhubungan terus berkoordinasi dengan BMKG dan stakeholder terkait melalui Posko Nataru, serta menambah personel di area-area siaga.
Mitigasi lain juga dilakukan pada semua sektor transportasi, baik darat, laut, udara, hingga kereta api.
Di sektor darat, Kemenhub menyiapkan buffer zone, menerapkan delaying system, contraflow, hingga oneway secara situasional, termasuk pengaturan penyeberangan.
Di sektor laut, Kemenhub menyiapkan kapal navigasi dan patroli, serta buffer zone di wilayah sekitar pelabuhan, termasuk menyiapkan pelabuhan alternatif. (fal)
Editor : Baskoro Septiadi