RADARSEMARANG.ID - Beberapa faktor yang menyebabkan gagal ginjal. Jaga gaya hidup dan perbanyak minum air putih.
Plt Ketua Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) periode 2020 - 2022, Muhammad Atok Irrohman, menjelaskan, pasien cuci darah berusia anak-anak sudah ada dari dulu.
Namun, saat ini berkat terekspose media sehingga kelihatan banyak."Tapi trendnya setiap tahun meningkat," jelasnya.
Faktor penyebab cuci darah ini karena hipertensi, diabetes, dan gaya hidup. Namun, kasus cuci darah pada anak-anak terjadi karena sindrom nefrotik. "Atau sindrom ginjal, bisa dari lahir," jelasnya.
Bahkan, beberapa kasus berasal dari obat-obatan, ternyata penyebab gagal ginjal. "Kalau makanan manis ini kan penyebab diabetes. Nah, diabetes bisa menjadi pemicu gagal ginjal juga," ujarnya.
Kasus gagal ginjal anak-anak biasanya tidak terjadi karena diabetes atau hipertensi, kata dia, karena biasanya terjadi di orang tua.
"Paling cepat ya remaja, dari sindrom nefrotik sendiri. Ada kasus itu lho, Paracetamol yang memiliki kandungan apa itu lho, yang menyebabkan gagal ginjal," ujarnya.
Atok saat ini tidak begitu aktif di KPCDI karena keterbatasan gerak. "Ketua formalnya sudah meninggal, saya jadi Plt, sekarang sedang vakum karena tidak ada pengurusnya," jelasnya.
Ia menjalani cuci darah atau Hemodialisa sudah 10 tahun. Pria 31 tahun ini menceritakan saat menjalani tes kesehatan menjelang KKN. Disitulah ia mengetahui gagal ginjal, dan untungnya ketahuan sebelum telat banget.
"Saya tidak ada riwayat hipertensi atau diabetes. Saya memang kurang minum air putih, sering ngopi sambil begadang," ujar alumni UIN Sunan Kalijaga.
Awal dari gejala gagal ginjal tidak terjadi langsung. Hanya mual, tidak nafsu makan, badan lemas, badan bengkak-bengkak.
Tidak ada khusus banget, kayak orang awam dianggap maag atau asam lambung. "Paling mentok ya pingsan," ujarnya.
Dikatakan, pasien cuci darah fungsi ginjalnya hanya 10 persen. Sehingga ginjal pada umumnya tidak bekerja.
"Jadi cuci darah ini tidak menyembuhkan, hanya pengganti fungsi ginjal dalam tubuh," tandasnya saat dihubungi via WhatsApp.
Ada yang seminggu dua kali cuci darah, ada yang seminggu tiga kali. Tergantung kondisi masing-masing pasien.
Atok menegaskan, selain hipertensi, diabetes, dan gaya hidup. Pasien gagal ginjal pada umumnya juga memiliki riwayat keturunan.
Ia menambahkan, pasien yang memiliki hipertensi dan diabetes ini harus dijaga, tetap minum obat terus.
"Jangan malah tidak meminum obat, kalau tidak minum obat, justru mempercepat gagal ginjal. Kalau rutin meminum obat akan meminimalisir komplikasi ke ginjal," ujarnya.
Begitu juga diabetes, gulanya juga dibatasi. Kalau gulanya tidak dijaga, maka kerja ginjal akan berat. Sedari awal, harus menjaga pola hidup.
“Seperti jangan sering meminum minuman kemasan, dan perbanyak minum air putih,” akunya. (fgr)
Editor : Baskoro Septiadi