RADARSEMARANG.ID - Hari Raya Kurban bukan untuk merayakan darah. Tetapi Hari ini adalah hari pembebasan dari belenggu nafsu setan.
Kata "Adha" yang bermakna cahaya dan pencerahan. Ini tentang cahaya, dan cahaya adalah inti dari kehidupan.
Selamat hari raya bagi mereka yang telah menemukan cahaya.
Baca Juga: Apakah Sah? Hukum Menyembelih Hewan Kurban Sebelum Shalat Idul Adha
Daging hewan kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. [QS al-Hajj (22):37]
"Cintalah yang mengurbankan aku, dan itulah hariku, hari raya," kata Maulana Jalaluddin Rumi dalam Ghazalnya.
Bagi Rumi, tidak ada hari raya selain Idul Adha, bahwa sedang terjadi suatu peristiwa agung di dalam diri.
Baca Juga: Beberapa Amalan Sunnah Idul Adha Untuk Menyambut Hari Besar yang Mulia Ini
Kata Rumi, hari raya sejati adalah ketika cinta mengurbankan dirimu, bukan tubuhmu, tapi ego dan nafsumu.
Ghazal Rumi menjelaskan bahwa untuk memilih sifat sebagaimana seperti layaknya malaikat, dengan menjadikan pemimpin atas setan dalam diri.
"Ketika sapimu dikurbankan, pijakkan kakimu di atas langit," tutur Maulana Jalaluddin Rumi.
Baca Juga: Waktu Mustajab Menjelang Idul Adha, Berikut Yang Bisa di Amalkan Pada Hari Arafah
Yang dimaksud disini, sapi yang harus dikurbankan adalah sifat kebinatangan dalam diri kita: keserakahan, amarah, tipu daya.
Ketika semua itu telah dikurbankan, kita menguasai iblis dalam diri, dan derajat kita naik, melampaui langit dan bumi.
"Sungguh tak indah takbir “Allahu Akbar” jika kau masih bersama egomu. Ketika ego dikurbankan, barulah "Allahu Akbar" datang," tutur Maulana Jalaluddin Rumi
Takbir sejati tidak datang dari lisan, tapi dari kebeningan jiwa.
Baca Juga: Lengkap! Ini Niat dan Tata Cara Salat Idul Adha yang Perlu Diketahui
Selama jiwa kita masih dipenuhi ego, kesombongan, dan hasrat rendah, “Allahu Akbar” hanya gema kosong. Begitu ego dikurbankan, takbir sejati hadir dari lubuk jiwa.
"Haji yang bijak tawaf tujuh kali. Aku ini haji yang gila, aku tak menghitung tawafku!," tegas Jalaluddin Rumi dalam Ghazal.
Baca Juga: Tips Masak Daging Kambing Empuk Tanpa Presto, Cukup dengan Buah Nanas
Tawaf secara lahir dilakukan tujuh kali sebagai simbol keteraturan dan harmoni. Tapi pecinta Tuhan tidak terikat hitungan.
Dengan mengelilingi Ka'bah cinta tanpa batas dan tanpa henti, karena cinta tak bisa ditakar dan diukur. Itulah sejati nya hari Raya besar, lebaran haji (Eid Qurban Mubarak) bukan sekadar tentang daging, tapi tentang keikhlasan.
Semoga kita bisa belajar dari pengorbanan Nabi Ibrahim, dan menjadikannya cermin dalam hidup sehari-hari. Selamat Hari Raya Idul Adha 1446 H.
Editor : Baskoro Septiadi