RADARSEMARANG.ID - Al Ghazali resmi melepas masa lajangnya dengan Alyssa Daguise pada 16 Juni 2025.
Dalam sebuah prosesi akad nikah yang penuh haru, pernikahan Al dan Alyssa mencuri perhatian publik dengan penuh kehangatan.
Di tengah momen indah itu, sebuah pesan tak terlupakan datang dari Eyang Bapak Harjono Sigit, ayah Maia Estianty.
Sebelum acara akad nikah dimulai, kakek Al Ghazali ini menyampaikan pesan sakral sarat makna yang bikin hati tersentuh.
Pesan sakral ini ditujukan kepada cucunya, Al Ghazali saat persiapan akad nikah dengan Alyssa di Hotel St. Regis Jakarta.
Dengan suara bergetar dan mengacungkan tangan, ia berpesan: “Sekali tok. Kamu niru ya. Sekali seumur hidup nikah”.
Ucapan tersebut bahkan sampai diulang tiga kali di hadapan keluarga yang disaksikan oleh bunda Maia Estianty dan kerabatnya.
Tak berhenti di situ, Harjono menambahkan, “Mudah-mudahan, akad nikah itu hanya sekali seumur hidup, bukan berkali-kali”.
Pesan sakral Eyang Bapak ke Al Ghazali tampak menegaskan bahwa pernikahan adalah janji suci yang sebaiknya hanya diucap sekali seumur hidup.
Sambil menunjuk istrinya, Kusthini, yang duduk di kursi roda, ia berkata pelan, “Tiru lah Eyang Bapak, Eyang Ibu.”
Ucapan lirih itu tampak memicu suasana haru membuat Al tak kuasa membendung emosi.
Al Ghazali kemudian memeluk dan mencium kedua eyangnya saat Harjono dan Kusthini terlihat menitikkan air mata.
Maia yang menyaksikan langsung momen itu mencoba mencairkan suasana, namun suasana justru makin mengharukan.
“Jangan nangis loh pak. Loh nangis,,.terharu..terhura,.. malah nangis berdua, Terhura…” ucap Maia dengan nada menghibur memecah suasana haru bahagia.
Pesan sakral yang disampaikan kakek Al Ghazali ini terunggah dalam video YouTube @maiaaleldultv.
Dalam video tersebut, tersirat harapan besar Eyang Bapak agar Al dan Alyssa dapat meneladani pernikahan Harjono dan Kusthini.
Pasalnya, kakek Al Ghazali ini telah membina rumah tangga harmonis selama lebih dari 60 tahun.
Cucu dari HOS Tjokroaminoto ini juga mendoakan Al dan Alyssa agar setia, rendah hati, dan hidup sederhana.
“Hidup simple nginjak bumi saja, cita-cita muluk boleh, tapi enggak usah diomongkan,” katanya.
Hartono juga menambahkan pentingnya sopan bertutur, menghormati orang tua, dan cerdas mengelola keuangan.
Wejangan Hartono kepada Al tampak seperti pesan sakral seorang kakek kepada cucunya agar bisa membangun rumah tangga yang langgeng.
Sementara itu, Al Ghazali sendiri menyebut kakeknya Harjono Sigit merupakan sebagai panutan keluarga, terutama dari pihak Maia.
Dalam sebuah sesi wawancara, Al berkata, “Eyang itu pahlawan keluarga. Saya ingin seperti beliau—setia, rendah hati, dan konsisten menjaga cinta”.
Editor : Baskoro Septiadi