Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Bitcoin Pulih Paska Perdagangan ETF Hongkong dan Penetapan Suku Bunga oleh The Fed

Tasropi • Sabtu, 4 Mei 2024 | 04:03 WIB
Ilustrasi Bitcoin
Ilustrasi Bitcoin

RADARSEMARANG.ID, Bitcoin mulai dikenal di Indonesia sejak 2012. Bitcoin ini sangat digandrungi di China dan Amerika Serikat (AS).

Bitcoin berkembang di China karena beberapa faktor. Salah satunya adalah banyak orang kaya baru di China sehingga mereka butuh variasi produk untuk berinvestasi.

Sementara itu investasi di China begitu terbatas. Oleh karena itu, masyarakat China melihat peluang investasi di bitcoin.

Baca Juga: Memahami Cara Penggunaan dan Pengertian Bitcoin, Mata Uang Digital Terdesentralisasi

Layaknya mata uang konvensional, bitcoin juga memiliki keunggulan dan kelemahan dalam penerapannya. Berbicara soal keunggulan, bitcoin terkenal dengan tingkat keamanan yang tinggi.

Selama ini, mata uang konvensional dikenal sangat rawan terhadap pemalsuan. Tetapi penerapan sistem kriptografi yang diterapkan pada bitcoin membuat para pemiliknya terhindar dari risiko serupa. Selain itu, bitcoin mampu berperan sebagai mata uang global.

Meski setiap negara telah memiliki mata uang masing-masing, bitcoin tetap mampu hadir dan masuk ke dalam sistem finansial di negara manapun.

Bitcoin tak mengenal batas negara, tidak goyah karena kondisi politik di pemerintahan, dan tidak terpengaruh apapun.

Kehebatan lainnya adalah bitcoin dapat berperan sebagai pelindung dari tingkat inflasi. Bitcoin juga dapat menekan laju inflasi yang berlebihan.

Selain itu, bitcoin merupakan bentuk baru tabungan masyarakat yang diterapkan dengan sistem yang tidak merepotkan.

Selain itu dengan menabung bitcoin, semua perantara keuangan yang biasa dilakukan di bank-bank dapat dihilangkan. Para pemegangnya juga tak perlu membayar biaya layanan dan registrasi.

Di tengah berbagai keunggulan bitcoin, mata uang digital yang satu ini ternyata menyimpan sejumlah kelemahan yang dapat berisiko pada penggunaannya.

Kelemahan pertama dari bitcoin adalah nilai mata uangnya yang tidak stabil. Bitcoin merupakan mata uang yang bersifat spekulatif.

Bursa ETF Bitcoin

Perusahaan manajemen kekayaan asal AS, Bernstein melihat perlambatan arus masuk dana yang diperdagangkan di bursa ETF Bitcoin merupakan jeda jangka pendek sebelum ETF menjadi lebih terintegrasi dengan platform bank swasta, dan bukan awal dari tren yang mengkhawatirkan.

Mengutip Coindesk, Kamis (2/5/2024) Broker tersebut mencatat bahwa mata uang kripto terbesar di dunia BTC berada dalam kisaran harga yang terbatas, tanpa adanya momentum yang jelas di kedua sisi setelah halving.

"Ada waktu yang tepat untuk menjadikan bitcoin sebagai rekomendasi alokasi portofolio yang dapat diterima dan platform yang menetapkan kerangka kepatuhan untuk menjual produk ETF Bitcoin," tulis analis Bernstein, Gautam Chhugani dan Mahika Sapra dalam laporan penelitian. 

Bernstein mengatakan ekspektasinya terhadap siklus Bitcoin tertinggi pada tahun 2025 sebesar USD 150,000 tetap sama, karena arus masuk permintaan ETF yang belum pernah terjadi sebelumnya semakin memperkuat keyakinan para investor.

Broker tersebut juga mengatakan, siklus penambangan Bitcoin tetap sehat setelah halving, dengan para pemain terkemuka terus mengkonsolidasikan pangsa pasar.

Biaya jaringan Bitcoin telah kembali normal pada 10% pendapatan penambang yang melonjak pasca halving, tambah laporan Berstein.

Halving reward empat tahunan terjadi April kemarin dan memperlambat laju pertumbuhan pasokan Bitcoin.

Lonjakan uang tunai yang mengalir ke dana perdagangan di bursa (ETF) Bitcoin telah terhenti.

Dilansir dari Yahoo Finance, Selasa (30/4/2024), menurut data dari perusahaan investasi Farside Investors yang berbasis di London, investor menarik hampir USD 218 juta atau setara Rp 3,5 triliun (asumsi kurs Rp 16.238 per dolar AS) dari produk ETF Bitcoin Spot sepanjang akhir pekan hingga Senin, 29 April 2024.

Arus kas keluar yang signifikan ini bertepatan dengan laporan penting perekonomian federal yang menunjukkan perekonomian Amerika mengalami pertumbuhan lebih lambat dari yang diperkirakan pada kuartal pertama.

Suku bunga yang tinggi bukan pertanda baik bagi aset berisiko seperti Bitcoin, karena investor lebih suka menempatkan dana mereka pada peluang investasi dengan imbal hasil tinggi dan stabil.

Pada bulan Januari, Komisi Sekuritas dan Bursa menyetujui 11 ETF Bitcoin, yang memungkinkan investor mendapatkan eksposur terhadap mata uang kripto dengan membeli saham yang melacak harga Bitcoin melalui akun pialang.

ETF ini telah mendapatkan popularitas yang luar biasa, dengan sejumlah besar uang mengalir ke produknya segera setelah peluncurannya. 

The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga di 5,25–5,5%. Keputusan tersebut tampaknya telah meningkatkan selera risiko dan harga aset.

Harga BTC mulai bangkit kembali diperdagangkan pada level US$ 59 ribu. Hal ini membuat pelaku pasar bertanya-tanya apakah tren turun sudah berakhir?

Trader Tokocrypto Fyqieh Fachrur menjelaskan, penurunan harga baru-baru ini membuat Bitcoin mencapai level terendah dalam dua bulan, turun 6,7% dari harganya saat halving.

Pergerakan BTC kali ini mengikuti tren serupa setelah halving Bitcoin pada 2016. Di mana setelah peristiwa halving pada tahun 2016, ‘Rentang Akumulasi Ulang’ mengalami ‘koreksi tambahan’ hingga 17%, yang berlangsung selama tiga minggu.

Menurut Fyqieh, aliran masuk dari ETF Hong Kong BTC dan ETH spot telah memberikan dukungan yang signifikan di tengah arus keluar dari pasar ETF spot BTC AS.

Pada hari Jumat (3/5/2024), para investor harus mempertimbangkan dampak dari Laporan Pekerjaan AS, IMP Jasa ISM, serta bagaimana hal tersebut dapat mempengaruhi pasar ETF spot BTC AS.

Fyqieh menambahkan, penurunan tajam harga Bitcoin telah menyebabkan penurunan sentimen yang signifikan di kalangan trader kripto.

Crypto Fear and Greed Index yang mencerminkan latar belakang emosional pasar kripto secara keseluruhan, turun ke 43, level terendah sejak Oktober lalu.

Indikator telah berpindah dari zona Greed, seperti yang terjadi seminggu yang lalu, ke zona Fear, menandakan meningkatnya kecemasan investor. Ketakutan ditunjukkan pada skala dengan nilai dari 26 hingga 46.

Fyqieh mengatakan, analisis Bitcoin menunjukkan bahwa BTC masih berada di bawah rata-rata pergerakan eksponensial (EMA) 50 hari, namun tetap bertahan di atas EMA 200 hari.

Ini menegaskan tren bearish jangka pendek, namun bullish jangka panjang. Jika BTC berhasil menembus resistensi pada level US$ 60.365, itu dapat mendukung pergerakan menuju EMA 50 hari dan resistensi pada level US$ 64 ribu.

Setelah melewati masa bearish ini, Bitcoin diproyeksikan akan pulih dan grafik akan mengalami kenaikan walaupun lambat. ***

Editor : Tasropi
#the fed #ETF Hong Kong #ETF Bitcoin #Suku Bunga