
RADARSEMARANG.ID, Pasar kripto kembali mengalami tekanan berat. Bitcoin (BTC) dan mayoritas aset kripto utama mencatat penurunan signifikan dalam beberapa pekan terakhir, terpicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik global, khususnya di Timur Tengah.
Menurut data terkini, Bitcoin sempat turun ke kisaran $61.750 pada pertengahan Juli 2026 sebelum berusaha rebound mendekati $63.000–$65.000.
Penurunan ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya risiko geopolitik yang memicu risk-off sentiment di pasar keuangan global.
Penyebab Utama: Geopolitik Membebani Risk Asset
Ketegangan antara AS dan Iran, termasuk isu Selat Hormuz yang mengganggu pasokan minyak global, menjadi pemicu utama.
Lonjakan harga minyak dan kekhawatiran inflasi kembali mendorong investor keluar dari aset berisiko tinggi seperti kripto dan saham teknologi.
Analis mencatat bahwa konflik di kawasan tersebut telah memicu penjualan massal.
"Rising tensions between the U.S. and Iran have pushed oil prices higher, reignited inflation concerns and reduced expectations for near-term rate cuts, prompting investors to trim exposure to risk assets," jelas seorang analis pasar yang dikutip Forbes.
Penelitian akademis juga mendukung pola ini. Beberapa studi menunjukkan bahwa dalam kondisi bearish atau ketidakpastian tinggi, Bitcoin dan altcoin cenderung bereaksi negatif terhadap eskalasi risiko geopolitik (Geopolitical Risk/GPR), meski pada kondisi tertentu BTC bisa menunjukkan sifat hedge parsial.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




