Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Tarawih dan Witir di Bulan Ramadan, Jumlah Rakaat Berbeda, Begini Niat dan Tata Cara Sholat Tarawih

Deka Yusuf Afandi • Rabu, 18 Februari 2026 | 17:26 WIB

 

Kupas tuntas perbedaan jumlah rakaat tarawih serta keutamaannya dalam qiyam Ramadan agar ibadah semakin khusyuk dan benar.
Kupas tuntas perbedaan jumlah rakaat tarawih serta keutamaannya dalam qiyam Ramadan agar ibadah semakin khusyuk dan benar.

 

RADARSEMARANG.ID – Ramadan selalu datang membawa suasana yang berbeda. Udara terasa lebih khusyuk, malam-malam menjadi lebih hidup, dan masjid-masjid yang sebelumnya tenang berubah menjadi lautan jamaah yang berbondong-bondong datang untuk menunaikan satu ibadah yang sangat khas salat tarawih.

Tarawih bukan sekadar salat sunnah biasa. Ia adalah simbol hidupnya malam Ramadan, tanda bahwa umat Islam berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara yang istimewa.

Dalam tradisi Islam, inilah yang disebut sebagai qiyam Ramadan, menghidupkan malam dengan ibadah, doa, istighfar, dan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Sejak zaman Rasulullah SAW, qiyam Ramadan memiliki kedudukan yang sangat tinggi.

Dalam hadis sahih disebutkan bahwa barang siapa menunaikan qiyam Ramadan dengan iman dan penuh harap akan pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Janji ini bukan janji biasa. Ia adalah kabar gembira yang menjadi motivasi jutaan umat Islam di seluruh dunia untuk berdiri lama di malam hari, menahan kantuk, dan menata hati agar tetap hadir di hadapan Allah SWT.

Semangat inilah yang menjadikan tarawih lebih dari sekadar rutinitas tahunan; ia adalah momentum pembersihan diri, peremajaan spiritual, dan kesempatan emas yang tidak selalu datang dua kali.

Di Indonesia, tarawih identik dengan masjid yang penuh sesak. Anak-anak berlarian kecil, orang tua bersandar di tiang-tiang masjid sambil menunggu iqamah, remaja memenuhi saf belakang, dan suara imam menggema membawa bacaan yang panjang dan syahdu.

Namun perlu dipahami, tarawih tidak harus selalu dilakukan di masjid. Ia sah dan tetap bernilai bila dikerjakan sendiri di rumah.

Bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah melaksanakannya secara berjamaah beberapa malam, kemudian tidak melanjutkan secara rutin karena khawatir diwajibkan kepada umatnya

Inilah Salah Satu Hikmah Besar Dalam Syariat: Kemudahan dan Fleksibilitas.

Waktu pelaksanaan tarawih dimulai setelah salat Isya dan berakhir sebelum masuk waktu Subuh.

Rentang waktu ini memberikan keleluasaan bagi siapa pun yang ingin menunaikannya. Sebagian orang memilih langsung setelah Isya agar tidak terlalu larut, sebagian lagi memilih menundanya hingga mendekati sahur agar lebih terasa suasana qiyamul lail yang sunyi dan mendalam.

Yang terpenting adalah memastikan bahwa ibadah tersebut selesai sebelum fajar menyingsing. Ketika azan Subuh telah berkumandang, maka kesempatan tarawih malam itu telah berakhir.

Tarawih Sering Kali Disandingkan Dengan Tahajud

Secara hakikat, keduanya sama-sama bagian dari salat malam. Perbedaannya terletak pada konteksnya. Tarawih adalah qiyamul lail yang dikhususkan pada bulan Ramadan dan memiliki tradisi berjamaah yang kuat.

Sedangkan tahajud lebih umum dan dilakukan di luar Ramadan, biasanya setelah tidur terlebih dahulu.

Namun dari sisi nilai spiritual, keduanya sama-sama sangat dianjurkan dan menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pertanyaan yang hampir selalu muncul setiap Ramadan adalah tentang jumlah rakaat tarawih. Apakah delapan atau dua puluh?

Pertanyaan ini bukan hal baru.

Sejak masa para sahabat hingga para imam mazhab besar, diskusi mengenai jumlah rakaat telah berlangsung dengan argumentasi yang mendalam dan penuh adab.

Tidak ada satu hadis pun yang secara eksplisit dan tegas menyebutkan angka tertentu sebagai ketetapan mutlak.

Riwayat dari Aisyah RA menyebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah melebihi sebelas rakaat, baik di Ramadan maupun di luar Ramadan.

Dari riwayat inilah sebagian ulama memahami bahwa tarawih berjumlah delapan rakaat ditambah tiga witir.

Namun di sisi lain, praktik yang dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA menunjukkan pelaksanaan dua puluh rakaat secara berjamaah di masjid.

Kebijakan ini tidak ditentang oleh para sahabat lainnya, bahkan diterima sebagai bentuk ijtihad yang baik demi kemaslahatan umat.

Mayoritas ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali kemudian menetapkan dua puluh rakaat sebagai praktik yang masyhur dan kuat landasannya.

Dalam literatur fikih klasik, pendapat ini menjadi rujukan utama di berbagai negeri Islam selama berabad-abad.

Tidak berhenti di situ, sebagian ulama mazhab Maliki bahkan menyebutkan praktik tiga puluh enam rakaat yang pernah dilakukan di Madinah.

Hal ini menunjukkan betapa luasnya khazanah keilmuan Islam dan betapa fleksibelnya ibadah sunnah ini.

Perbedaan tersebut bukanlah bentuk pertentangan yang harus dipertajam, melainkan kekayaan ijtihad yang seharusnya disikapi dengan lapang dada.

Para ulama berbeda bukan untuk memecah umat, tetapi untuk memberikan kemudahan sesuai kondisi dan tradisi masing-masing wilayah.

Tarawih Biasanya Ditutup Dengan Salat Witir.

Witir sendiri bukan ibadah khusus Ramadan, tetapi menjadi penutup salat malam yang dianjurkan sepanjang tahun.

Dalam konteks Ramadan, witir menjadi penyempurna rangkaian tarawih. Ia ibarat penutup yang mengunci amal malam itu dengan doa dan harapan.

Banyak imam membaca doa qunut witir yang panjang, memohon ampunan, keselamatan, dan keberkahan bagi seluruh kaum Muslimin.

Pada momen inilah sering kali air mata jamaah jatuh tanpa terasa.

Fenomena meningkatnya antusiasme masyarakat terhadap tarawih setiap Ramadan menunjukkan betapa ibadah ini memiliki daya tarik spiritual yang kuat.

Masjid-masjid yang sebelumnya sepi mendadak penuh.

Orang-orang yang jarang terlihat dalam saf salat lima waktu pun hadir dengan wajah penuh harap. Ramadan seakan menjadi titik balik, momentum perubahan, dan kesempatan memperbaiki diri.

Tarawih menjadi pintu pembuka menuju kebiasaan baik lainnya seperti membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan memperbanyak doa.

 

Niat Sholat Tarawih

Niat adalah rukun pertama sholat yang tidak boleh terlewat. Berikut bacaan niat sholat tarawih sesuai posisi masing-masing:

Niat sebagai Makmum (Berjamaah) — 2 rakaat:

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatat taraawiihi rak’ataini mustaqbilal qiblati ma’muuman lillahi ta’aalaa

Artinya: “Aku niat sholat sunnah tarawih dua rakaat menghadap kiblat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.”

Niat sebagai Imam (Berjamaah) — 2 rakaat:

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا ِللهِ تَعَالَى

Ushollii sunnatat-taraawiihi rok’ataini mustaqbilal qiblati adā’an imaaman lillaahi ta’alaa

Artinya: “Aku niat sholat sunnah tarawih dua rakaat menghadap kiblat sebagai imam karena Allah Ta’ala.”

Niat Sendiri (Munfarid) — 2 rakaat:

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ِللهِ تَعَالَى

Usholli sunnatattarowihi rok’ataini mustaqbilal qiblati lillahi ta’ala

Artinya: “Aku niat sholat sunnah tarawih dua rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta’ala.”

Niat Sholat Witir

Setelah selesai menunaikan seluruh rakaat tarawih, rangkaian ibadah malam ini ditutup dengan sholat witir. Witir berarti ganjil, dan itulah prinsipnya—jumlah rakaatnya harus selalu ganjil. Umumnya di bulan Ramadan, witir dikerjakan 3 rakaat.

Niat Sholat Witir 3 Rakaat:

اُصَلِّى سُنًّةَ الْوِتْرِ ثَلاَثَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Ushallii sunnatal witri tsalaasa roka’aatin mustaqbilal qiblati adaa’an (ma’muman/imaman) lillaahi ta’alaa

Artinya: “Aku berniat sholat witir tiga rakaat menghadap kiblat sebagai (makmum/imam) karena Allah Ta’ala.”

Niat Sholat Witir 1 Rakaat:

اُصَلِّى سُنًّةَ الْوِتْرِ رَكْعَةً مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Ushallii sunnatal witri rak’atal mustaqbilal qiblati adaa’an (ma’muman/imaman) lillaahi ta’alaa

Artinya: “Aku berniat sholat witir satu rakaat menghadap kiblat sebagai (makmum/imam) karena Allah Ta’ala.”

Niat Sholat Witir 2 Rakaat (sebelum 1 rakaat penutup):

أُصَلِّى سُنَّةً مِنَ الْوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Ushallii sunnatam minal witri rak’ataini lillaahi ta’alaa

Artinya: “Aku niat sholat sunnah witir dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

Tata Cara Sholat Tarawih

Tata cara sholat tarawih pada dasarnya sama dengan sholat sunnah lainnya—diawali niat dan takbiratul ihram, diakhiri salam.

Sholat tarawih dikerjakan dua rakaat per dua rakaat dengan salam di setiap dua rakaatnya. Berikut urutan lengkapnya:

  1. Membaca niat sholat tarawih sesuai posisi—sebagai makmum, imam, atau sendiri.

  2. Takbiratul ihram sambil melafalkan “Allahu Akbar” dengan penuh khidmat.

  3. Membaca doa iftitah.

  4. Membaca Surah Al-Fatihah.

  5. Membaca salah satu surah dari Al-Qur’an. Dianjurkan memilih surah-surah pendek agar tidak memberatkan jamaah.

  6. Rukuk dengan tumaninah (tenang dan tidak tergesa-gesa).

  7. I’tidal dengan tumaninah.

  8. Sujud pertama dengan tumaninah.

  9. Duduk di antara dua sujud dengan tumaninah.

  10. Sujud kedua dengan tumaninah.

  11. Duduk sejenak (duduk istirahat) sebelum berdiri untuk rakaat kedua.

  12. Berdiri dan mengerjakan rakaat kedua dengan urutan yang sama seperti rakaat pertama.

  13. Tasyahud akhir, kemudian salam pada akhir rakaat kedua.

  14. Istighfar dan membaca doa setelah sholat tarawih (dianjurkan membaca doa kamilin).

  15. Ulangi rangkaian ini hingga mencapai jumlah rakaat yang dituju—8 atau 20 rakaat.

  16. Setelah seluruh rakaat tarawih selesai, lanjutkan dengan sholat witir.

Tata Cara Sholat Witir

Sholat witir menutup seluruh rangkaian ibadah malam di bulan Ramadan. Rasulullah SAW bahkan mewasiatkan agar menjadikan witir sebagai sholat terakhir di malam hari.

Dalam witir tiga rakaat yang dikerjakan dengan dua kali salam, surah yang dianjurkan adalah:

  • Rakaat pertama (dari 2 rakaat): Surah Al-A’la

  • Rakaat kedua (dari 2 rakaat): Surah Al-Kafirun

  • Rakaat ketiga (1 rakaat penutup): Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas

Berikut tata cara sholat witir:

  1. Membaca niat sholat witir sesuai jumlah rakaat yang akan dikerjakan.

  2. Takbiratul ihram.

  3. Membaca doa iftitah.

  4. Membaca Surah Al-Fatihah diikuti surah yang dianjurkan.

  5. Rukuk dengan tumaninah.

  6. I’tidal dengan tumaninah.

  7. Sujud pertama dengan tumaninah.

  8. Duduk di antara dua sujud dengan tumaninah.

  9. Sujud kedua dengan tumaninah.

  10. Untuk 3 rakaat dengan 2 salam: salam setelah rakaat kedua, lalu berdiri untuk mengerjakan 1 rakaat terakhir dengan niat witir 1 rakaat.

  11. Pada rakaat terakhir (rakaat witir), dianjurkan membaca qunut sebelum rukuk atau setelahnya.

  12. Tasyahud akhir, kemudian salam.

Doa Setelah Sholat Witir

Setelah salam witir, terdapat doa yang dianjurkan untuk dibaca. Doa ini merangkum permohonan yang menyeluruh—dari keimanan, ilmu, hingga kesehatan jiwa dan raga.

Bacaan Doa Setelah Witir:

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ (3x)

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْـأَلُكَ اِيْمَانًا دَائِمًا، وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا، وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا، وَنَسْأَلُكَ عَمَلاً صَالِحًا، وَنَسْأَلُكَ دِيْنًا قَيِّمًا، وَنَسْأَلُكَ خَيْرًا كَثِيْرًا، وَنَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ، وَنَسْأَلُكَ تَمَامَ الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الْغِنَاءَ عَنِ النَّاسِ.

اَللّٰهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخُشُّعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا اَللهُ يَا اَللهُ يَا اَللهُ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Latin:

Subhaanal malikil qudduus (3x)

Allaahumma innaa nas’aluka iimaanan daaimaan, wa nas’aluka qalban khaasyi’an, wa nas’aluka ‘ilman naafi’an, wa nas’aluka yaqiinan shaadiqan, wa nas’aluka ‘amalan shaaliihan, wa nas’aluka diinan qayyiman, wa nas’aluka khairan katsiiran, wa nas’alukal ‘afwa wal’aafiyata, wa nas’aluka tamaamal ‘aafiyati, wa nas’alukasy-syukra ‘alal ‘aafiyati, wa nas’alukal ghinaa’a ‘aninnaasi.

Allaahumma rabbanaa taqabbal minnaa shalaatanaa wa shiyaamanaa wa qiyaamanaa wa takhusysyu’anaa wa tadharru’anaa wa ta’abbudanaa wa tammim taqshiiranaa yaa allaahu yaa allaahu yaa allaahu yaa arhamar raahimiin.

Wa shallallaaahu ‘alaa khairi khalqihi muhammadin wa’alaa aalihi wa shahbihi ajma’iin, walhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin.

Artinya:

“Wahai Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu keimanan yang kokoh, hati yang khusyuk, ilmu yang bermanfaat, keyakinan yang tulus, amal yang saleh, agama yang lurus, kebaikan yang melimpah, ampunan dan keselamatan, kesehatan yang sempurna, rasa syukur atas kesehatan tersebut, dan kecukupan dari bergantung kepada sesama manusia.

Wahai Allah, Tuhan kami, terimalah sholat, puasa, ibadah malam, kekhusyukan, kerendahan hati, dan pengabdian kami. Sempurnakan segala kekurangan kami, wahai Allah, wahai Allah, wahai Allah, wahai Dzat yang paling Maha Penyayang di antara para penyayang.

Semoga rahmat Allah tercurahkan kepada sebaik-baik makhluk-Nya, Muhammad, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya. Segala puji hanya milik Allah, Tuhan seluruh alam.”

Di era digital seperti sekarang, pembahasan tentang tarawih semakin luas diakses masyarakat. Artikel-artikel tentang jumlah rakaat, dalil, dan tata cara menjadi salah satu topik yang paling banyak dicari menjelang Ramadan.

Ini menunjukkan bahwa umat Islam memiliki keinginan kuat untuk memastikan ibadahnya sesuai tuntunan.

Oleh karena itu, penting bagi setiap penulis dan pendakwah untuk menyajikan informasi yang akurat, seimbang, dan tidak memicu perpecahan

 Menjelaskan perbedaan pendapat dengan bahasa yang menenangkan jauh lebih bermanfaat daripada mempertajam perbedaan.(dka)

Editor : Baskoro Septiadi
#keutamaan sholat tarawih Ramadan #Bagaimana Cara Sholat Tarawih Sendiri di Rumah untuk Perempuan 11 Rakaat #waktu sholat tarawih #pahala salat Tarawih #Cara Sholat Tarawih Sendiri di Rumah #sholat tarawih #jadwal sholat tarawih #pola makan saat tarawih #pahala Tarawih #fadilah salat Tarawih #sholat tarawih tanpa witir #sholattarawihdanwitir #kapan batas akhir tarawih #keutamaan sholat tarawih #tarawih dan tahajud perbedaan #sholat tarawih dimulai jam berapa #penjelasan sholat tarawih dan witir #Sholat Tarawih sendiri #tata cara sholat tarawih 11 rakaat #sholattarawih #keutamaan tarawih di malam pertama #Tarawih 20 Rakaat #sholat tarawih berapa rakaat #Ramadan2026 #sejarah salat Tarawih #Hukum sholat tarawih #Bagaimana Cara Sholat Tarawih Sendiri #Tarawih 8 Rakaat #Tarawih dua kali #tata cara sholat tarawih lengkap #witir setelah tarawih #sholattarawihpertama #salat tarawih perdana muhammadiyah #Dalil Tarawih #tata cara sholat Tarawih #Jadwal sholat tarawih Balikpapan 2025 #niat sholat Tarawih #niat sholat tarawih sendiri 11 rakaat #sholat tarawih jam berapa #Keutamaan Tarawih Pertama sampai Sepuluh #Niat Salat Tarawih dan witir #Keutamaan Tarawih hari Ketiga #doa sholat tarawih #hukum sholat tarawih tanpa witir #dalil sholat tarawih hadist #KajianIslam #tarawih 8 atau 20 rakaat #tuntunan sholat tarawih #Keutamaan Tarawih #bolehkah sholat tarawih tanpa witir #perbedaan rakaat tarawih #dalil tarawih lengkap #tarawih menurut 4 mazhab #tips agar perut tidak begah saat tarawih #hukum tarawih di rumah #Qiyam Ramadan #Tarawih #keutamaan salat tarawih #perbedaan jumlah rakaat sholat tarawih #hadis tentang tarawih #jumlah rakaat tarawih