35 Persen Pekerja Mismatch Career, Binus Semarang Bekali Mahasiswa dengan AI dan Entrepreneur

RADARSEMARANG.ID - Fenomena lulusan yang bekerja tidak sesuai bidang masih menjadi persoalan di dunia pendidikan Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menunjukkan hanya 64,64 persen pekerja muda yang bekerja sesuai dengan kualifikasi pendidikannya. Sementara 35,36 persen lainnya mengalami ketidaksesuaian atau career mismatch.
Kondisi ini membuat perguruan tinggi mempunyai tantangan besar untuk membawa lulusan mempunyai keterampilan mendasar. Ditambah perubahan dunia kerja juga semakin cepat. Trutama akibat perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), membuat perguruan tinggi dituntut menyiapkan lulusan yang lebih adaptif.
Direktur Kampus BINUS Semarang Fredy Purnomo menyampaikan untuk menjawab tantangan itu, Binus Semarang menyiapkan pendekatan pembelajaran berbasis transformasi digital dan AI untuk membekali mahasiswa menghadapi perubahan dunia kerja.
Menurutnya pendidikan saat ini tidak bisa lagi hanya berfokus pada teori. Karena itu, mahasiswa harus dibekali pengalaman nyata dan kemampuan memahami teknologi yang digunakan industri. BINUS juga menerapkan konsep Human AI Collaboration dalam kurikulumnya. Seluruh kurikulum disebut telah dirombak agar mahasiswa mampu menggunakan AI secara etis dan tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi.
"Mahasiswa kami dibekali dengan AI experience agar mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami dan memanfaatkannya secara strategis," kata Fredy di Kampus Binus Semarang.
Fredy menjelaskan, sejak awal kuliah mahasiswa sudah dibentuk memiliki digital mindset. Kampus juga membekali mahasiswa dengan kemampuan memanfaatkan AI secara bertanggung jawab serta menanamkan mental entrepreneur di semua program studi.
“Jurusan apapun itu juga disiapkan. Jadi, walaupun nanti mereka bekerja di perusahaan pun, mereka tetap punya mental survival seperti seorang entrepreneur,” katanya.
Fredy menilai perkembangan dunia digital membuat pendekatan psikologi juga ikut berubah. Karena itu, pemanfaatan AI, machine learning, big data, hingga data analitik mulai diterapkan untuk memahami karakter generasi muda.
“Psikologi digital karena kami percaya bahwa memahami seorang psikolog memahami karakter anak-anak sekarang harus memahami dunia digitalnya mereka,” jelasnya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!



