Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Kementerian Kehutanan Lepas Liarkan Banteng Jawa di Pangandaran Untuk Reintroduksi Spesies dan Tingkatkan Populasi

Aby Genta Putra Prasetya • Sabtu, 14 Desember 2024 | 15:14 WIB
Potret : Salah satu Banteng Jawa yang dilepasliarkan di Pangandaran, Jawa Barat
Potret : Salah satu Banteng Jawa yang dilepasliarkan di Pangandaran, Jawa Barat

RADARSEMARANG.ID- Reintroduksi satwa terancam punah merupakan salah satu upaya yang dilakukan para penggiat konservasi dan lingkungan hidup untuk tetap lestari.

Reintroduksi berarti memperkenalkan satwa terancam punah kembali ke habitat atau wilayah dimana spesies tersebut sempat lestari di tempat tersebut.

Banyak dari satwa-satwa yang berhasil meningkat populasinya berkat tindakan konservasi ini. Beberapa contoh keberhasilan tersebut antara lain reintroduksi Bison Amerika ke dataran Eropa ataupun yang dilakukan orang-orang Australia dalam mendatangkan spesies unta dari Timur Tengah.

Di Indonesia sendiri, baru-baru ini tepatnya pada tanggal 11 Desember 2024 kemarin. Reintroduksi spesies Banteng Jawa (Bos Javanicus) dilakukan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup di Pangandaran, Jawa Barat.

Sebanyak empat ekor Banteng Jawa, dua berjenis kelamin jantan, dan dua merupakan betina kembali dilepasliarkan dalam upaya konservasi dan meningkatkan populasi Banteng Jawa di Indonesia.

Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni juga turut hadir meresmikan pelepasliaran banteng-banteng ini di padang rumput Cikamal, Pangandaran. Selain banteng, Kementerian LHK juga melepaskan sepasang Elang Brontok dan sepasang Elang Jawa.

Banteng-banteng ini disebutkan diperoleh dari penangkaran yang berada di Taman Safari Cisarua, Taman Safari Bali dan Taman Safari Pasuruan. kehadiran banteng ini diharapkan mampu mengisi ekosistem satwa yang ada di Jawa Barat, khususnya Pangandaran.

Raja Juli menyatakan dalam akun TikTok pribadinya @rajajuliantoni berkomitmen dalam konservasi Banteng Jawa ini kedepannya, ia juga menambahkan dengan bantuan teknologi seperti camera trap dan cctv serta dukungan masyarakat akan menaikkan populasi spesies hampir punah ini.

Menurutnya, di daerah Pangandaran ini dahulunya merupakan salah satu titik penyebaran populasi Banteng Jawa dengan presentase yang cukup tinggi.

Namun karena erupsi Gunung Galunggung menutup hampir seluruh sumber makanan dari banteng, maka banteng menjadi punah di wilayah ini.

Banteng Jawa sendiri merupakan spesies endemik yang tersebar di wilayah Jawa. Namun populasinya kini hanya terfokus dan tersisa di 4 titik yakni Taman Nasional Baluran, Alas Purwo, Meru Betiri dan Ujung Kulon.

Sementara itu, Banteng Lowi/ Borneo (sub spesies banteng Indonesia lainnya) dilaporkan dijumpai di TN Kutai (Kalimantan Timur) dan TN Kayan Mentarang (Kalimantan Utara)

Baca Juga: Rusa Jawa, Spesies Endemik Asal Indonesia yang Diperkenalkan ke Benua Australia dan Selandia Baru

Spesies ini menjadi mamalia terbesar kedua yang tersisa di Pulau Jawa setelah Badak Jawa (Rhinoceros Sondaicus). Jumlahnya kini hanya sekitar kurang 5000 ekor, menjadikan Banteng Jawa masuk dalam spesies dilindungi yang hampir punah.

Banteng sudah menjadi bagian yang erat dalam kebudayaan masyarakat di Indonesia, bahkan record awal catatan sejarah tentang banteng di Pulau Jawa berawal dari ditemukannya fosil banteng jawa purba atau leluhur banteng (Bibos bibos paleosondaicus) di Trinil sekitar satu juta tahun yang lalu. Di sisi lain, catatan sejarah tentang fosil banteng purba juga ditemukan di situs Patiayam, di sekitar Muria dan Pati, dengan umur fosil yang hampir sama.

Sources: Raja Juli Antonio (TikTok), Kementrian LHK, Balai Taman Nasional Baluran

Editor : Baskoro Septiadi
#Lepasliarkan Banteng Jawa #Konservasi Banteng Jawa #Reintroduksi Banteng Jawa #Banteng Jawa di Pangandaran #Lepaskan Banteng di Pangandaran