Oleh: Sri Suparni, S.Pd
RADARSEMARANG.ID—Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan fase paling mendasar dan strategis dalam pembentukan karakter dan jati diri seorang anak. Dalam konteks pendidikan nasional, PAUD tidak sekedar tahap persiapan memasuki jenjang pendidikan formal, melainkan sebagai pijakan utama dalam membentuk manusia Indonesia yang utuh, tangguh, dan berkarakter Pancasila. Di tengah tantangan globalisasi, disrupsi teknologi, dan dinamika sosial-budaya, penting bagi kita untuk merevitalisasi peran pendidikan karakter sejak dini sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan bangsa. Salah satu upaya konkret pemerintah dalam penguatan karakter adalah melalui implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Meskipun pemerintah telah menetapkan PAUD sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, masih banyak tantangan fundamental yang menghambat optimalisasi pendidikan karakter pada anak usia dini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), angka partisipasi kasar PAUD masih tergolong rendah di beberapa daerah terpencil dan tertinggal. Selain itu, kesenjangan kualitas antara lembaga PAUD negeri dan swasta juga menjadi perhatian, termasuk kompetensi pendidik, kurikulum yang belum kontekstual, serta sarana dan prasarana yang belum memadai.
Permasalahan lain yang sangat penting adalah dominannya pendekatan kognitif dalam pembelajaran PAUD, sementara aspek afektif dan psikomotorik yang menjadi inti dari pendidikan karakter sering diabaikan. Anak usia dini sejatinya membutuhkan pengalaman belajar yang holistik dan bermakna, bukan hanya hafalan angka dan huruf. Mereka perlu diajak mengenal nilai-nilai seperti kejujuran, kerja sama, empati, tanggung jawab, dan cinta lingkungan sejak dini.
Secara global, teori-teori perkembangan anak dari tokoh seperti Jean Piaget, Lev Vygotsky, dan Erik Erikson menekankan pentingnya stimulasi sosial dan emosional dalam pendidikan anak usia dini. Piaget menyatakan bahwa anak usia 2–7 tahun berada dalam tahap pra-operasional, di mana mereka belajar melalui bermain dan interaksi simbolik. Sementara itu, Vygotsky menekankan sangat penting interaksi sosial dalam pembentukan kemampuan kognitif anak. Dalam pandangan Erikson, masa usia dini adalah fase krusial untuk menanamkan rasa percaya diri, inisiatif, dan identitas diri.
Di tingkat nasional, filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara menjadi fondasi utama dalam membangun pendidikan berbasis karakter. Prinsip "Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani" mencerminkan bahwa pendidikan bukan sekadar mentransfer ilmu, tetapi membentuk watak dan budi pekerti. Pendidikan harus bersifat kontekstual, berbasis budaya lokal, dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan yang universal.
P5 adalah bagian dari Kurikulum Merdeka yang bertujuan membentuk pelajar Indonesia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Meski awalnya P5 dikembangkan untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah, pendekatan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila tetap relevan dan dapat diadaptasi dalam pembelajaran PAUD.
Dalam konteks PAUD, implementasi P5 diwujudkan melalui kegiatan bermain yang terstruktur dan bermuatan nilai karakter. Contohnya kegiatan bercocok tanam di sekolah dapat menanamkan nilai tanggung jawab dan cinta lingkungan. Kegiatan mendongeng mengenal tokoh-tokoh lokal mengajarkan nilai kebhinekaan dan rasa cinta tanah air. Pembelajaran berbasis projek (project-based learning) dapat melatih kemandirian, kerjasama, dan berpikir kreatif anak sejak usia dini.
Namun, implementasi P5 dalam PAUD memerlukan dukungan penuh dari berbagai pihak, terutama pendidik. Guru PAUD harus meningkatkan kompetensinya dengan diberikan pelatihan intensif mengenai filosofi P5, strategi pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak, serta kemampuan mendesain projek yang kontekstual dan bermakna. Partisipasi orang tua dan komunitas lokal juga sangat penting agar pendidikan karakter tidak berhenti di sekolah, tetapi terus dilanjutkan di rumah dan lingkungan sekitar.
Dalam mewujudkan pendidikan karakter anak usia dini yang efektif dan berkelanjutan, dibutuhkan pendekatan sistemik yang mencakup kebijakan, institusi, kurikulum, serta budaya masyarakat. Berikut adalah beberapa solusi strategis: pertama, Penguatan Kebijakan dan Anggaran PAUD: Pemerintah pusat dan daerah harus memastikan alokasi anggaran yang memadai untuk pengembangan PAUD, terutama dalam peningkatan kualitas guru, infrastruktur, dan pengembangan kurikulum berbasis karakter.
Kedua, Revitalisasi Kurikulum PAUD: Kurikulum harus disesuaikan dengan prinsip-prinsip perkembangan anak dan berbasis pada nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila. Pendekatan tematik dan berbasis projek sangat dianjurkan untuk meningkatkan keterlibatan anak dalam proses belajar. Ketiga, Pelatihan Guru Berbasis Nilai dan Kontekstual: Peningkatan kapasitas guru PAUD tidak hanya mencakup aspek pedagogik, tetapi juga pemahaman tentang pembangunan karakter, kearifan lokal, dan isu-isu global seperti perubahan iklim dan toleransi.
Keempat, Kolaborasi Sekolah, Keluarga, dan Komunitas: Pendidikan karakter akan berhasil jika ada kesinambungan nilai antara sekolah, rumah, dan masyarakat. Program parenting dan pelibatan masyarakat lokal harus diperkuat.
Kelima, Pemanfaatan Teknologi yang Ramah Anak: Teknologi dapat digunakan sebagai media pendukung pembelajaran karakter, misalnya dengan aplikasi edukatif, video cerita interaktif, atau permainan digital yang mendidik. Keenam, Evaluasi dan Monitoring Berbasis Capaian Karakter: Perlu ada sistem evaluasi yang tidak hanya menilai aspek kognitif, tetapi juga pertumbuhan karakter anak melalui portofolio, observasi, dan refleksi kegiatan projek.
Pendidikan karakter anak usia dini bukan sebuah proyek jangka pendek, melainkan investasi jangka panjang bangsa. Melalui penerapan nilai-nilai P5 sejak usia dini, kita dapat menyiapkan generasi yang cerdas secara intelektual, juga tangguh secara moral dan spiritual. Generasi inilah yang kelak menjadi penjaga nilai-nilai Pancasila di tengah arus globalisasi dan perubahan zaman. PAUD yang berkualitas, berkarakter, dan kontekstual akan menjadi pondasi emas dalam mencetak manusia Indonesia unggul menuju Indonesia Emas 2045. Sudah saatnya membuka pemahaman dalam memandang pendidikan anak usia dini bukan hanya sebagai tahap pengantar, tetapi sebagai pilar utama pembangunan nasional yang berkelanjutan. (*)
Mahasiswa Pascasarjana Program Magister Pendidikan Dasar Universitas Muria Kudus
Editor : H. Arif Riyanto