Oleh: Dewi Sri Jayanti
RADARSEMARANG.ID—Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, ribuan suku, dan ratusan bahasa daerah menyimpan kekayaan budaya yang luar biasa. Data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tahun 2023 menunjukkan bahwa masih banyak daerah di Indonesia yang menghadapi ketimpangan dalam akses, kualitas, dan relevansi pendidikan. Ketimpangan ini semakin kentara dalam hal penggunaan media pembelajaran yang belum adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan konteks lokal.
Siswa Sekolah Dasar (SD), sebagai pondasi awal pembentukan karakter bangsa, sering kali dibebani dengan kurikulum yang kaku dan media belajar yang tidak kontekstual. Buku ajar konvensional yang bersifat satu arah dan minim interaktivitas menjadi hambatan dalam menumbuhkan semangat belajar, terutama dalam mengenalkan nilai-nilai keragaman.
Menurut Jean Piaget, masa usia sekolah dasar (7–11 tahun) berada dalam tahap konkret operasional, yaitu fase ketika anak-anak mulai mampu berpikir logis terhadap hal-hal konkret dan mengembangkan pemahaman sosial. Pada tahap ini, pendidikan seharusnya menekankan pada pembelajaran kontekstual, visual, dan menyenangkan.
Senada dengan itu, teori konstruktivisme yang digagas oleh Lev Vygotsky dan Jerome Bruner menekankan pentingnya interaksi sosial dan media sebagai alat bantu belajar yang bermakna. Di sinilah pendidikan berbasis budaya lokal dan teknologi digital bisa bersinergi untuk menciptakan proses pembelajaran yang efektif dan berakar pada identitas nasional.
Secara nasional, visi pendidikan Indonesia dalam Profil Pelajar Pancasila juga telah menggarisbawahi pentingnya pelajar yang memiliki dimensi kebinekaan global, gotong royong, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Maka dari itu, pendidikan dasar tak hanya bertanggung jawab membekali siswa dengan pengetahuan kognitif, tapi juga membentuk karakter yang cinta tanah air dan menghargai keberagaman.
Salah satu tantangan besar dalam pendidikan dasar Indonesia adalah terjadinya dekontekstualisasi kurikulum dan media pembelajaran. Banyak materi ajar yang bersifat seragam nasional, tanpa mempertimbangkan kekhasan lokal. Hal ini membuat anak-anak di daerah merasa asing dengan apa yang mereka pelajari. Globalisasi dan arus informasi yang masif juga menyebabkan anak-anak lebih dekat dengan budaya asing daripada budaya sendiri. Dalam banyak kasus, siswa lebih mengenal tokoh fiksi barat ketimbang pahlawan atau legenda lokal. Ketidakhadiran media yang mengangkat lokalitas membuat anak kehilangan koneksi identitas kulturalnya. Padahal menurut UNESCO, pendidikan dasar yang baik adalah pendidikan yang berakar pada budaya lokal dan mendorong siswa menjadi warga global yang berkarakter.
Konsep Education for Sustainable Development (ESD) yang didorong oleh UNESCO menekankan perlunya pendidikan yang relevan dengan konteks lokal dan mendukung pembangunan berkelanjutan. ESD mendorong keterlibatan budaya lokal sebagai bagian dari solusi atas krisis identitas, intoleransi, hingga degradasi moral generasi muda. Di negara maju seperti Finlandia, pendidikan dasar sangat kontekstual dan mengutamakan pendekatan holistik. Pembelajaran tidak hanya soal angka dan huruf, tetapi tentang kehidupan, budaya, dan nilai. Di Jepang, pendidikan dasar menekankan nilai-nilai moral, sejarah lokal, dan budaya tradisional melalui metode kreatif dan media digital. Indonesia dapat mengadopsi pendekatan serupa, dengan mengintegrasikan teknologi pendidikan yang tidak hanya adaptif terhadap zaman, tetapi juga akomodatif terhadap budaya dan nilai lokal.
Digital Pop-Up Book
Dalam beberapa tahun terakhir, media pembelajaran berbasis teknologi seperti Digital Pop-Up Book mulai dikembangkan sebagai respon terhadap tantangan pembelajaran konvensional. Media ini menggabungkan visual 3D interaktif, narasi audio, animasi, dan konten cerita berbasis lokal yang dikemas secara digital. Digital Pop-Up Book tidak sekadar alat bantu visual. Ia adalah transformasi dari buku cerita menjadi pengalaman belajar multisensorik. Ketika siswa SD melihat rumah adat Toraja muncul dalam bentuk animasi interaktif, atau mendengar lagu daerah Papua sebagai latar narasi, maka nilai-nilai budaya tidak hanya diajarkan, tapi dihidupkan. Lebih jauh, Digital Pop-Up Book memungkinkan adanya personalisasi pembelajaran. Guru dapat menyesuaikan konten dengan konteks lokal masing-masing daerah. Di Jawa, siswa bisa belajar tentang batik dan wayang; di Kalimantan, mereka mengenal rumah panggung dan tari Dayak. Dengan cara ini, teknologi tidak menggantikan kearifan lokal, tetapi menjadi jembatan agar nilai-nilai budaya itu lestari dan relevan di era digital.
Media Digital Pop-Up Book Berbasis Kearifan Lokal hadir sebagai solusi integratif. Media ini menyatukan tiga kekuatan utama: teknologi digital, pendidikan karakter, dan kearifan lokal. Implementasi Digital Pop-Up Book dalam pembelajaran siswa SD memiliki dampak yang signifikan: Pertama, Menguatkan Literasi Budaya dan Karakter Bangsa. Anak-anak dikenalkan dengan cerita rakyat, tradisi, dan tokoh lokal secara visual dan interaktif, yang membentuk empati, toleransi, dan rasa bangga terhadap identitas budaya.
Kedua, Meningkatkan Motivasi dan Daya Tarik Belajar. Visualisasi 3D, suara, dan animasi meningkatkan perhatian dan retensi siswa terhadap materi pelajaran. Belajar menjadi lebih menyenangkan dan membekas. Ketiga, Mendorong Pendidikan Inklusif dan Kontekstual. Digital Pop-Up Book dapat didesain sesuai konteks daerah masing-masing, menciptakan rasa memiliki dan kebanggaan lokal yang penting untuk inklusi sosial. Keempat, Menjadi Wahana Pendidikan Berkelanjutan. Karena berbasis digital, media ini ramah lingkungan (paperless), dan bisa digunakan lintas generasi sebagai bagian dari pendidikan berkelanjutan.
Meski memiliki banyak keunggulan, implementasi media ini tentu memiliki tantangan, antara lain keterbatasan infrastruktur digital di daerah terpencil, kesiapan guru dalam menggunakan teknologi, serta kebutuhan pelatihan pembuatan konten lokal. Namun demikian, solusi bisa dirancang secara kolaboratif. Pemerintah daerah dapat menggandeng lembaga pendidikan, komunitas kreatif, dan pengembang teknologi lokal untuk memproduksi konten Digital pop-up book berbasis budaya masing-masing.
Pendidikan dasar seharusnya menjadi ladang tumbuhnya akar identitas, bukan sekadar tempat menanam hafalan. Dengan memanfaatkan teknologi seperti Digital Pop-Up Book yang berbasis kearifan lokal, kita membangun jembatan antara dunia tradisional dan digital, antara masa lalu dan masa depan. Dalam kerangka pembangunan berkelanjutan, pendidikan bukan hanya alat mencapai kemajuan ekonomi, tetapi juga penjaga warisan budaya dan pembentuk generasi yang berkarakter. Sudah saatnya kita berhenti memperdebatkan apakah budaya dan teknologi bisa bersatu. Sebab kenyataannya, di tangan para pendidik dan inovator yang visioner, keduanya bisa berpadu indah untuk mengajarkan satu hal paling penting sejak dini. (*)
Mahasiswi Program Pascasarjana Magister Pendidikan Dasar Universitas Muria Kudus
Editor : H. Arif Riyanto