Kepala Planetarium UIN Walisongo Syifaul Anam mengatakan, pada momen Kamis (20/4) ini menyatakan, gerhana kali ini disebut hibrida yakni campuran gerhana cincin sekaligus total. Namun, yang melintasi Kota Semarang dan Jawa Tengah berada di areal magnitudo hampir separuh dari matahari.
"Di Semarang tampak gerhana parsial atau sebagian dengan magnitudo 49 atau 50," ujarnya ditemui di sela pemantauan.
Ia menyatakan kendala saat pengamatan adalah cuaca. Berdasarkan informasi dari BMKG, hari ini akan mulai muncul awan karena masa transisi. Meski begitu, iklim tidak bisa diprediksi karena ada pengaruh global warming juga.
"Ada awan yang menghalangi, meski tidak full blok dihalangi. Masih bisa dilihat, terhalang awan tidak bisa dilihat, nanti bisa dilihat lagi," ucap dia.
Selain itu, kendala yang terjadi yakni jika melihat menggunakan teropong saat mendekati titik luminasi, maka posisi memantau harus dengklak. Menurutnya, gerhana hanya bisa dilihat total atau tidaknya tergantung darimana posisi melihat.
Sedangkan semakin besar ukuran gerhana atau semakin besar nilai magnitudo maka diindikasikan seberapa banyak areal matahari yang ditutupi oleh bulan. Juga, semakin banyak bulan menutupi, semakin lama pula proses gerhananya.
"Puncak gerhananya terjadi pada 10.52. Kemudian proses keluar, dan nongol lagi sekitar pukul 12.00. Sehingga waktu gerhana bisa kita hitung dari jam 09.00-12.00 kurang lebih hampir 3 jam. Dari mulai masuk, utamanya atau maksimum gerhananya hingga nanti terlihat sebagaimana normalnya," ucap dia.
Untuk lebih totalitas dalam menyaksikan proses gerhana tanpa ada penghalang seperti awan, pihaknya menyediakan simulasi.
Dikatakan Syifaul, gerhana ini terjadi di Indonesia pada 72 tahun lalu. Artinya, sangat jarang atau langka. Sedangkan diperkirakan akan terjadi gerhana matahari total pada 27 tahun mendatang.
"Dalam setahun ada empat fenomena gerhana, matahari dua kali dan bulan dua kali. Sekarang ini fenomena hibrida, betul-betul jarang sebenarnya itu. Fenomena yang bagus," jelasnya.
Selain memantau, pihaknya juga menggelar salat gerhana matahari yang diikuti pengunjung. Salat dua rakaat itu diawali dengan dzikir. Selesai salat dilanjutkan dengan khotbah tentang hikmah bentuk mensyukuri nikmat Allah melalui fenomena gerhana matahari.
Sementara itu, salah satu pengunjung asal Kecamatan Mijen Rita menyatakan sangat senang bisa melihat gerhana melalui planetarium. Ia datang bersama anaknya, Almer.
"Ini kali kedua saya ke planterium sini, dulu waktu melihat fenomena bulan beku. Sekarang gerhana matahari," ujarnya.
Selain menyaksikan gerhana, ia juga mengajak putranya yang berusia delapan tahun itu untuk menikmati simulasi planet. "Dia senang dengan planet-planet makanya saya ajak ke sini. Memang sengaja ke sini naik kendaraan umum karena ayahnya sedang kerja. Tahu informasi ini dari berita," ucap dia. (ifa/bas) Editor : Agus AP