Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Berhasil Mencuri Perhatian Generasi Digital, Fotografi Analog Menolak Punah

Magang Radar Semarang • Selasa, 23 Januari 2024 | 16:28 WIB
Lab operator Panorama Film Lab Semaran. (Antonius Julian One Ngale/Jawa Pos Radar Semarang)
Lab operator Panorama Film Lab Semaran. (Antonius Julian One Ngale/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Di tengah dominasi teknologi digital, kamera analog kembali meraih popularitas yang signifikan di kalangan fotografer dan pencinta seni visual.

Mereka yang mencari pengalaman fotografi yang unik dan klasik semakin tertarik untuk kembali ke akar-akar fotografi analog.

Panorama Film Lab merupakan salah satu tempat yang menyediakan jasa cuci foto dan scan film yang ada di Semarang.

Panorama Film Lab berdiri di tahun 2021 lalu. Mohan Nanda seorang lab operator mengatakan, beberapa tahun belakangan ini kamera analog banyak digemari anak muda.

“Beberapa tahun terakhir itu kebetulan tren lagi. Termasuknya dia itu trennya berbarengan dengan beberapa cassette tape. Dan kebetulan beberapa artis kayak Iqbal Ramadhan dan Lisa Black Pink juga sering menggunakan kamera analog, jadi mungkin beberapa anak muda fomo dan pengen punya juga,” ucap Mohan.

Ia menyebutkan ada beberapa jenis kamera analog yang sering digunakan anak muda sekarang.

"Kamera-kamera pocket ini sering banget dipakai sama orang-orang. Soalnya mereka ya udah kita mengandalkan hasil yang penting jadi. Terus gambar udah bagus tajam gitu kan. Soalnya beberapa kamera-kamera misal misal harga si Contax V3 misal itu tuh bahkan harganya sampai Rp 25 juta. Itu masih dicari-cari sama orang soalnya hasilnya bakal beda gitu, tajam banget," bebernya.

Kamera analog memberikan pengalaman yang berbeda dengan kamera digital yang menjadi ciri khas dan kenikmatan tersendiri yang bisa dihasilkan oleh kamera analog.

“Analog ini punya kayak ciri khas tersendiri di sana, jadi beberapa teman-teman itu yang masih memakai analog, mereka itu ada rasa nostalgiknya, apalagi orang-orang yang sekarang itu banyak beberapa yang tidak merasakan era yang analog,” jelasnya.

Mohan juga menjelaskan, kamera analog juga memiliki karakteristik tersendiri pada hasil foto yang bisa diciptakan, dan beberapa pengalaman yang tidak bisa didapatkan pada kamera digital.

“Ada beberapa orang yang suka style-nya misal tone warna yang nggak bisa dicari di digital. Kita bisa tahu maksudnya, seiring perkembangan jaman, ada yang namanya filter juga, ada yang namanya editing, yang gimana caranya dimirip-miripin ke biar kesannya jadul, cuman beberapa orang sekarang  itu beberapa kali menemukan gambar itu tidak bisa semirip itu ternyata,“ lanjutnya.

Ia juga menyebutkan menggunakan kamera analog juga memiliki tantangan tersendiri, terutama ketika memotret itu pun tidak 100% 36 foto di dalam satu roll itu bakal jadi semua.

"Jadi ada kemungkinan 'kobong', ada kemungkinan right click gitu namanya gitu,” Jelas Mohan.

Mohan dan Panorama Film Lab juga menawarkan jasa cuci bagi para pengguna dan penikmat kamera analog. Untuk mencuci dan scan roll film kamera analog diperlukan waktu setengah jam.

”Tapi kita kan ada mengulang foto lagi di bagian scan. Terus kita mau nggak mau pake komputer yang lama. Soalnya dia kan scanner itu baru mau ke Windows XP,” Jelasnya.

Namun untuk memindahkan hasil foto kedalam bentuk file memerlukan waktu kurang lebih 1 hingga 2 jam, karena untuk scan foto Panorama Film Lab harus menggunakan Perangkat komputer yang terbilang tua juga agar bisa terhubung ke alat scan roll film.

Saat ini ada banyak jenis roll film mulai dari merk lokal hingga merk-merk besar dari luar negeri. Beberapa diantaranya adalah Kodak, dan Fuji Film yang sampai saat ini masih sering digunakan dan masih di produksi.

Setiap merk roll film juga memiliki gayanya masing masing, mulai dari jenis warna sampai ketajaman foto yang dihasillkan.

“Beberapa roll film misal si 400D ini, dia tuh hasilnya soft sekali, warna hijaunya, kuningnya itu beda sama hasil-hasil dari digital. Ada green yang berbeda, ada tone warna yang berbeda yang bisa dihasilkan sama analog. Ada pula yang udah tidak produksi gitu, jadi udah expired tahun 2019 si Susperia Venus itu udah tidak produksinya. Jadi udah expired,” bebernya.

Mohan mengatakan bahwa saat ini film yang sering digunakan adalah film jenis Kodak Gold karna mmemiliki ciri yang sangat khas yakni memiliki warna yang sedikit kekuningan, yang dapat membuat foto yang dihasilkan bergaya jadul.

Saat ini roll film untuk kamera analog pun tidak sulit didapatkan, mulai dari harga yang merakyat hingga yang sampai harus menguras isi kantong.

“Kalau kisaran harga, jadi roll film itu kan ada yang lokal, ada yang benar-benar, ya, internasional atau merk-merk yang udah terkenal lah. Misal tentu Kodak, kalau nggak Fuji Film, dan Cine Steel itu tadi, itu dia harganya sekitaran dari 150 ya sekarang. Memang udah naik banget dari dua tahun lalu gitu. Cuman ada juga yang versi lokalnya. Jadi kayak Neon Saurus, terus ada beberapa merk itu, misal ini Iroh gitu. Nah, dia tuh harganya masih di bawah 100 tuh ada juga,” pungkasnya. (mg6/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#Fotografer #kamera #Analog #film