Jawa Pos Radar Magelang mencoba memasuki sejumlah toko modern yang berada di sepanjang jalan Sapuran-Wonosobo. Dari 12 toko modern yang disurvei, hanya ada satu toko modern yang menyediakan minyak goreng. Sementara di toko modern lainnya ada yang baru saja habis dibeli pelanggan dan bahkan ada yang sudah 3 sampai 5 hari tidak ada minyak goreng murah. Yang tersisa hanya minyak goreng kelapa yang harganya jauh lebih tinggi dari harga minyak goreng sawit.
"Minyak habis sudah sejak 5 hari yang lalu. Datang lagi tidak tahu kapan, mungkin menunggu di pasar tradisional murah dulu biar tidak pada menyerbu di toko modern. Jadi memang seperti warga itu panic buying," kata salah satu karyawan toko modern di Jalan Raya Sapuran yang tidak mau disebutkan namanya.
Selain banyak diserbu warga, habisnya minyak goreng di sejumlah toko modern diduga karena sedikitnya stok yang diberikan kepada toko modern. Sekali datang, katanya, hanya sebanyak 2 sampai 3 dus berisi 12 bungkus. Sehingga tidak sampai 1 hari minyak goreng sudah habis dibeli masyarakat.
Kelangkaan minyak goreng Rp 14 ribu dikeluhkan salah satu warga Sapuran, Ahmad. Ia sudah mengecek sejumlah toko modern dari arah Sapuran sampai Wonosobo, tetapi tidak menemukan satupun minyak goreng murah di toko modern. "Alasannya habis, disuruh balik siang atau besoknya, tetapi saat saya balik sudah kosong lagi," ungkapnya.
Salah satu warga Wonosobo Ujang Kristiyanto mengatakan, bahwa usai pemerintah menetapkan harga minyak goreng 14.000 per liternya, masyarakat berbondong-bondong mengantre di toko modern. Mereka memang sengaja mengantre untuk mendapatkan minyak harga murah itu. "Waktu itu karena jumlahnya terbatas sehingga banyak warga yang tidak kebagian," katanya.
Diakuinya saat ini minyak goreng satu harga tersebut tersedia di toko-toko modern namun tidak tersedia setiap saat. Bahkan beberapa toko modern di Wonosobo memberlakukan peraturan tertentu seperti seperti harus menyertakan identitas diri dan hanya unuk pelanggan yang memiliki kartu member saja. (git/ton) Editor : Agus AP