Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Pedagang Pakaian Ini Didatangi Pembeli yang Mirip Salah Satu Korban Kebakaran Pasar

Sulistiono • Selasa, 20 Januari 2026 | 18:50 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

RADARSEMARANG.ID - Cerita horor kali ini dikisahkan Slamet Suprianto (40), seorang pedagang pakaian di salah satu pasar di kota Semarang, yang mengalami kejadian mistis ssat berjualan di kiosnya. 

Kepada Radar Semarang.ID, pria yang biasa disapa Slamet itu mengatakan, kejadian mistis yang dialaminya itu sebenarnya terjadi lumayan lama. Namun, bayangan kejadian mistis itu masih di ingatnya hingga kini. 

Slamet sendiri sudah hampir sepuluh tahun berjualan pakaian dan kain dengan dua kios di pasar tersebut.

 Baca Juga: Baru Beberapa Hari Menempati Rumah Dinas, Arif dan Keluarganya Diteror Suara dan Penampakan Hitam Besar

"Sudah sepuluh tahun lebih mas, tapi ngalami kejadian aneh ya baru kali itu, sampe sekarang masih keinget terus mas," tutur Slamet saat ditemui RadarSemarang.ID di lapaknya. 

Biasanya aku berjualan sejak subuh hingga sore. Tapi sejak renovasi pasar belum sepenuhnya rampung, banyak pedagang memilih pulang lebih awal.  Tapi aku lebih sering bertahan hingga larut malam.

Sengaja aku jualan hingga larut malam, dengan satu tujuan menunggu pembeli terakhir mampir di lapaknya.

Malam itu hujan turun rintik-rintik. Lampu pasar menyala redup, memantulkan bayangan panjang di lantai yang lembap.

Satu per satu kios menutup rolling door. Suara tawa dan tawar-menawar yang sebelumnya riuh, berganti dengan suasana kesunyian. 

Sekitar pukul sembilan malam, saat aku sedang melipat baju dagangan, tiba-tiba entah dari mana datangnya, sudah berdiri seorang perempuan di depan kiosku.

Umurnya setengah baya, berpakaian kebaya yang sudah kusam, dengan rambut di sanggul. Wajahnya pucat, tapi aku beranggapan mungkin karena efek cahaya lampu yang temaram.

Saat rasa terkejutnya sudah hilang, terdengar suara perempuan itu bertanya dengan pelan.

“Pak… masih buka?”tanyanya. 

Aku yang masih duduk di kursi dalam kios langsung menjawab dengan tak lupa ku sunggingkan senyuman. 

“Masih, Bu. monggo...monggo,” jawabku sembari mempersilahkan masuk kedalam kiosku.

Ia berjalan mendekat, tapi tidak terdengar suara kaki dan sandalnya yang diseret. Matanya menatap kain-kain di lapakku tanpa berkedip.

“Yang ini berapa?” tanyanya sambil menunjuk kain batik lama yang sudah jarang disentuh pembeli.

Dengan cepat aku sebutkan harga. Ia mengangguk pelan, lalu mengeluarkan uang kertas lusuh dari balik kainnya. Saat tanganku menyentuh uang itu, dinginnya seperti es.

Aku terdiam selama beberapa saat dan kaget ketika perempuan itu menegurku.

“Pak, cepat… sudah malam,” katanya lirih. 

Aku langsung melipat kain batik yang dibelinya dan memasukannya ke dalam tas plastik. Namun, saat aku mengangkat kepala dan hendak menyerahkan barang yang dibelinya, wanita itu sudah tak ada di depanku.

Lapakku kosong. Lorong pasar sunyi. Uang lusuh tadi juga menghilang dari tanganku.

Badanku mulai gemetar. Ku beranikan diri melihat keadaan sekitar lapakku, tapi kosong, sunyi. Sampai kemudian tiba-tiba terdengar suara pintu besi digeser keras. Dari arah pos keamanan, Pak Martono, satpam pasar, berlari ke arahku.

“Mas Slamet! Ngapain masih di sini?” tanya sembari berjalan tergopoh-gopoh ke arahku. 

“Barusan ngelayani pembeli, Pak… perempuan, pakai kebaya ,” jawabku.

Mendengar jawabanku, wajah Pak Martono tiba-tiba berubah, pucat.

“Memakain kebaya jadul mas?” suara pak Martono tercekat.

Aku mengangguk pelan, mengiyakan. 

“Mas… lapak sampeyan berdiri di bekas los pedagang kain yang kebakaran puluhan tahun lalu. Penjualnya perempuan. Meninggal terjebak api. Katanya, arwahnya sering ‘belanja’ sebelum pasar benar-benar sepi.”sahutnya. 

Mendengar ucapan pak Martono itu bulukuduku berdiri. Kakiku terasa lemas, seperti di lolosi dari tulang-tulang.

Pak Marno menunjuk kain batik lama di mejaku. Di atasnya, ada bekas telapak tangan basah, meninggalkan noda hitam berbau anyir.

Aku semakin bergidik. Sesaat tak mampu berkata-kata, hanya bisa memandang selembar kain di meja dengan kondisi basah, seperti habis dipegang seseorang yang tangannya basah. 

Setelah bisa menguasai diri, aku meminta pak Martono untuk menemaniku berkemas-kemas.

"Pak Martono, minta tolong ditemani, saya mau beres-beres, nutup lapak," pintaku. Yang langsung di jawab dengan anggukan kepala keamanan pasar itu. 

Sejak kejadian malam itu, aku tak pernah lagi bertahan sampai pasar sepi. Dan kain batik lama itu tetap aku biarkan tergeletak di meja kios. 

"Sejak kejadian itu, saya kalau pasar sudah mulai sepi dan pedagang lainnya mau pulang, saya ikut-ikutan nutup kios, dari pada nanti di datangi lagi mas," kata Slamet terkekeh. (sls)

Editor : Baskoro Septiadi
#pedagang #misteri #kisah horor #Cerita Horor #korban kebakaran #Horor #PASAR #pembeli #pengalaman mistis #urban misteri #Arwah #kisah mistis #Pedagang Pasar #mistis