Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Riding Malam Hari, Pengendara Motor Asal Semarang Kesasar Masuk "Kampung Setan' Alas Roban

Sulistiono • Kamis, 4 Desember 2025 | 01:10 WIB
Ilustrasi :pengendara motor kesasar di kampung setan Alas Roban. (ai/Sulistiono)
Ilustrasi :pengendara motor kesasar di kampung setan Alas Roban. (ai/Sulistiono)

RADARSEMARANG.ID - Bagi warga Jawa Tengah khususnya Pantura Barat, nama Alas Roban masih menjadi tempat yang penuh mistis, meski kondisinya saat ini jauh lebih ramai di banding beberapa puluh tahun silam.

Alas Roban yang berada diantara kabupaten Kendal dan Kabupaten Batang ini, masih dipenuhi dengan kelebatan hutan jati tua. Ada tiga jalur yang bisa digunakan pengguna jalan saat melintas di Alas Roban.

Jalur yang pertama adalah jalur lama, dengan jalan penuh berkelok-kelok, jalur kedua adalah jalan yang lurus menanjak dari arah Gringsing dan jalur ketiga adalah jalur beton dengan tanjakan landai yang panjang. 

 Baca Juga: Teror Makhluk Halus Penghuni Rumah Kosong di Sebelah Gudang yang Baru di Tempati

Meski sudah ada tiga jalur, namun suasana mistis Alas Roban masih terasa, banyak yang percaya Alas Roban adalah salah satu tempat kerajaan makhluk halus di wilayah Jawa. Konon, hampir semua jenis makhluk halus ada disini. 

Saking mistisnya Alas Roban, bahkan belum lama ini sutradara film ternama Indonesia, Hadrah Daeng Ratu mengangkat keangkeran hutan Alas Roban sebagai tema film yang dibesutnya. 

Film berjudul Alas Roban ini di bintangi sejumlah artis top Indonesia seperti Michelle Ziudith,Fara Shakila, Rio Dewanto, Taskya Namya, dan Imelda Therinne.

Rencananya film tentang keangkeran Alas Roban akan di rilis di bioskop-bioskpo seluruh Indonesia mulai 15 Januari 2026. 

Kembali ke soal angkernya Alas Roban, kali ini cerita horor tentang hutan jati yang berada diwilayah kabupaten Batang ini dikisahkan Rendi Ardianto (25). 

Pria asal Semarang yang kini menetap di Jakarta itu kepada RadarSemarang mengisahkan kisah mistis yang dialaminya saat melakukan perjalanan malam naik motor dari Semarang menuju kota Pekalongan. 

"Kebetulan waktu itu saya pas pulang cuti, balik Semarang dan ada perlu ke Pekalongan, malam sekitar jam 20.00 saya ditelpon untuk menyelesaikan urusan di kota Pekalongan malam itu juga harus selesai," ungkap pria yang akrab di sapa Rendi ini. 

Meski agak sedikit dongkol karena jatah cutinya terganggu, Rendi tetap berangkat ke kota batik, Pekalongan, untuk membantu menyelesaikan masalah yang dialam salah satu saudaranya. 

"Ya gimana lagi mas, kita diminta tolong harus clear malam itu, mau gak mau ya tetap berangkat, gak bisa disemayani," tuturnya. 

Saat keluar rumah dan mengeluarkan sepeda motor matic milik adiknya, sang ibu sempat wanti-wanti untuk hati-hati terutama pas lewat Alas Roban.

Bahkan, sang ayah yang turut mengantar hingga halaman rumah ikut menyarankan agar lewat jalur yang lurus dari arah Gringsing.

"Saya iyakan saja pesan ayah dan ibu"imbuhnya. 

Tepat pukul 20.10, Rendi meninggalkan rumahnya di kawasan Lamper Tengah menuju kota Pekalongan.

Dan, cerita horor Alas Robanpun mulai dialaminya, saat dia melaju melewati Jalan Lingkar Weleri atau beberapa kilometer sebelum masuk Alas Roban.

Persis ketika dirinya hendak melintas diatas jembatan Jalan Lingkar Weleri, dia sempat melihat sesosok bayangan hitam berdiri ditepi jembatan. 

Bayangan hitam itu kurang terlihat jelas bentuknya, namun hampir mirip seperti seorang laki-laki, berambut panjang, baju hitam,sekilas saat dia melintas didepannya, Rendi sempat melirik.

Wajahnya hitam, mata cekung, hidung sebagian ancur, dia menatap lurus ke arah seberang jalan. 

Bulu kuduknya sempat berdiri ketika motor yang dikendarainya persis lewat didepan sosok menyeramkan itu. Rendi tetap berusaha tenang sembari membaca doa-doa. 

Saat sudah melewati sosok misterius itu, Rendi mencoba melihat ke kaca spion motornya untuk memastikan keberadaannya. Namun, sosok itu telah menghilang. 

Rendi langsung memacu kencang motornya menuju ke arah Alas Roban yang beberapa menit akan dilaluinya. 

Sekitar pukul 22.15, bayangan hitam Alas Roban sudah mulai didepan mata. Entah mengapa, Rendi memutuskan lewat jalur lama, jalur yang berkelok-kelok jalannya dengan kanan kiri jalan dipenuhi pohon-pohon jati. 

Suasanya sepi dan sunyi langsung terasa saat motor yang dikendarainya mulai masuk tikungan pertama jalur lama Alas Roban. 

Malam itu dia tidak berpapasan maupun berbarengan dengan kendaraan lain, biasanya truk yang melintas dijalur ini. 

"Tumben, biasanya pasti ada truk satu dua yang lewat, ini koq sepi banget" batin Rendi. 

Suara deru mesin kendaraan dan sorot lampu motor Rendi malam itu menjadi satu-satunya suara mesin kendaraan yang memecah keheningan Alas Roban. 

Saat jalan naik setelah tikungan kedua, Rendi melihat ada jalan bercabang dua. Dia merasa heran, karena setahunya jalur tersebut hanya ada satu jalur hingga ujung Alas Roban. Meski sempat ragu, dia memutuskan jalur ke kiri yang dilihatnya lebih lebar dan mulus.

"Kalau ke kiri kayaknya ke arah barat, ke arah Batang"pikirnya sembari mengarahkan stang sepeda motornya masuk ke jalur kiri. 

Beberapa puluh meter setelah masuk jalur tersebut, tiba-tiba didepannya perkampungan penduduk dengan bangunan rumah yang tergolong mewah dan beberapa warga yang terlihat berada di depan rumah dan tepi jalan kampung itu. 

Wajah warga dikampung itu baik laki-laki maupun perempuan terlihat pucat pasi, kelopak mata mereka hampir semuanya hitam dan yang lebih aneh lagi baju yang mereka kenakan hampir semuanya baju orang-orang pada tahun 50an. 

"Koq aneh ya, ini kampung apa ya"batin Rendi sembari tetap memacu kendaraannya meski dengan kecepatan pelan karena merasa berada ditengah perkampungan warga. 

Rendi tetap berusaha tersenyum saat melewati warga yang berdiri seperti patung ditepi jalan. 

Namun perasaannya mulai tidak enak, saat dirinya mulai tersadar, sudah hampir 3 jam dia hanya berputar-putar di kampung itu. Rasa panik mulai melanda, apalagi saat melihat speedo motornya, BBM kendaraannya hanya tinggal satu strip. 

Karena tak ingin "kesasar" lebih jauh, Rendi memutuskan bertanya ke dua orang warga yang berdiri ditepi jalan. 

Tapi, saat motor yang dikendarainya semakin dekat, dalam jarak satu meter sebelum dia turun bertanya.

Rendi melihat, dua orang tersebut memiliki bentuk tubuh yang berbeda dengan manusia pada umumnya. 

Selain wajahnya yang putih pucat pasi,dengan mata cekung kehitaman, hidung dan mulut mereka ternyata hanya separo dan yang lebih mengerikan, mereka tidak memiliki daun telinga. 

Seketika Rendi pingsan, hanya berjarak satu meter dari kedua sosok menyeramkan yang menyerupai laki-laki dan perempuan. 

Tubuhnya yang tinggi kurus langsung terjatuh ke tanah bersama sepeda motor yang menimpa dirinya. Rendi tak ingat apa-apa lagi. 

Keesokan paginya, tubuhnya yang tertimpa motornya, ditemukan warga yang hendak mencari rumput tergeletak didalam semak-semak. 

Warga yang kaget sempat mengira dia korban pembunuhan atau perempokan. 

Rendi yang siuman setelah dibangunkan warga, sempat kaget dengan kondisi yang dialaminya. 

Dia kemudian menceritakan peristiwa yang dialaminya semalam. 

"Sampeyan disasarkan mlebu kampung lelembut mas (kampu disasarkan masuk kampung makhluk halus mas)," cetus warga lainnya. 

Akhirnya, oleh ketiga warga tersebut, Rendi dibawa ke kampung mereka untuk mendapat pertolongan. 

Hampir dua jam, dia berada dikampung itu untuk menenangkan diri dari trauma kejadian horor yang dialaminya. 

Saat Rendi mengecek HPnya, ada puluhan panggilan tak terjawab yang masuk dari saudaranya di Pekalongan dan kedua orang tuanya, termasuk pesan WA yang rata-rata menanyakan posisinya, karena tak kunjung sampai Pekalongan.

 Baca Juga: Asyik Begadang di Pos Kamling, Tiga Pemuda Diteror Suara Gamelan Dari Kebun Bambu

"Mereka semua khawatir, akhirnya saudara yang di Pekalongan datang menjemput dan mengantar saya pulang ke Semarang."ungkap Rendi.

Cerita horor kesasar masuk kampung setan Alas Roban,imbuh Rendi, menjadi pengalaman mistis yang baru pertama kali dialaminya, sekaligus menjadi pelajaran penting baginya untuk ikut nasehat orang tuanya. 

"Ya mungkin saya gak ikut nasehat ibu dan bapak, agar jangan lewat jalur lama waktu lewat Alas Roban, jadinya ketemu yang horor-horor," ujarnya.

Namun dia bersyukur, masih dalam lindunganNya, karena bisa berkumpul kembali bersama keluarganya. (sls)

 

 

 

 

  







Editor : Baskoro Septiadi
#michelle ziudith #kesasar #semarang #Cerita Horor #kejadian mistis #FILM alas roban #angker #rio dewanto #Horor #kampung setan #Alas Roban #mistis