RADARSEMARANG.ID - Dibalik tragedi longsor di Karanganyar Legok Semarang ternyata menyimpan kisah misteri.
Seorang warga kerasukan yang diduga penghuni sumur tua di Kawasan tersebut. Beruntung, insiden tersebut berhasil direda dan suasana kembali normal.
Seorang warga tiba-tiba menjerit. Matanya terpejam rapat, bibirnya komat-kamit melafalkan kata-kata asing. Warga yang tadinya sibuk membersihkan sisa longsoran langsung panik.
Dari mulut perempuan muda itu meluncur suara serak yang tak biasa. Ia mengaku dirinya bukan lagi Indah, melainkan Sumina, sosok gaib yang konon bersemayam di sumur belakang rumah Suparmi, 66 tahun. Rumah itu hancur diterjang longsor pada 10 September lalu.
“Dia bilang tidak terima tempatnya jadi berantakan. Pokoknya minta keluarga ini selamat,” tutur Kartika, salah seorang warga.
Momen kesurupan itu terjadi sebelum acara tumpengan dimulai. Malam sebelumnya, Indah sempat bercerita, dirinya didatangi sosok nenek-nenek dalam mimpi.
Dari situ muncul gagasan membuat dua tumpeng. Satu berisi jajan pasar, satunya lagi ingkung ayam sepasang, ayam jantan dan betina yang dipasangkan.
“Ya biar tenang. Dibuatkan tumpeng ayam sejodoh sama jajan pasar. Tadi doa bersama juga,” imbuh Kartika.
Ketika Indah menjerit menyebut nama asing, suasana makin merinding. Sarno, tokoh agama setempat, segera maju menenangkan warga. Indah dibawa ke rumah tetangga, lalu doa-doa dilantunkan, termasuk ayat kursi.
“Dia bilang namanya Sumina. Intinya, tidak terima tempatnya diganggu. Lalu meminta keluarga diberi keselamatan,” ujar Sarno.
Dengan suara tenang ia menambahkan, “Biasanya kalau ada musibah, bangsa jin ikut mengganggu. Itu cara mereka menampakkan diri. Tapi kita jangan lupa, semua ini kehendak Allah. Bahkan daun jatuh pun sudah tertulis,” tambahnya.
Setelah tubuh Indah kembali lemas dan sadar, warga melanjutkan selamatan. Doa bersama dipanjatkan, tumpeng ayam sejodoh dibagi, dan suasana yang semula mencekam perlahan reda.
Bagi warga Karanganyar Legok, bencana longsor bukan hanya peristiwa alam. Ada lapisan lain yang tak kasat mata, suara gaib dari sumur tua, mimpi misterius yang menjelma nyata, hingga tubuh seorang warga yang menjadi perantara.
Pagi itu, logika dan keyakinan bercampur. Antara rasa takut dan harap akan keselamatan. Namun satu hal yang sama, doa dan ritual sederhana menjadi pegangan. Agar warga bisa tetap berdiri setelah tanah berguncang. (fgr/fth)
Editor : Baskoro Septiadi