Berkaitan dengan hal tersebut, kenyataan yang ada di lapangan saat ini menunjukkan bahwa mata pelajaran PAI mutunya masih rendah, karena belum mencapai target yang diinginkan.
Salah satu penyebab terjadinya hal tersebut adalah kesulitan siswa dalam memahami materi yang diajarkan. Hal ini terjadi karena guru dalam mengajarkan materi-materinya masih cenderung menggunakan metode lama, yaitu hanya menjelaskan materi di depan kelas sementara siswa-siswanya duduk mendengarkan penjelasan guru.
Dengan kata lain, banyak guru masih mendominasi kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, di mana mereka hanya mengutamakan pemberian teori. Sebaliknya, siswa masih pasif , sehingga tidak bisa mengaplikasikan dan memahami penjelasan yang mereka dapat.
Salah satu metode yang menawarkan kelebihan tersebut adalah metode Student Teams-Achievement Divisions (STAD). STAD merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang sederhana.
Model pembelajaran STAD merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif. STAD terdiri atas lima komponen utama, yakni, presentasi kelas, kerja tim, kuis, skor perbaikan individual dan penghargaan tim.
Motivasi adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu atau keadaan seseorang atau organisme yang menyebabkan kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah laku atau perbuatan.
Motivasi yang diharapkan dalam penggunaan model pembelajaran STAD ini adalah siswa semangat dan senang dalam mengikuti pembelajaran PAI.
Model pembelajaran kooperatif tipe STAD ini merupakan pendekatan Cooperative Learning yang menekankan pada aktivitas dan interaksi di antara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal.
Slavin (dalam Yusron, 2008 : 143). Model STAD memiliki lima komponen utama, yaitu presentasi kelas, menetapkan siswa dalam kelompok (tim), tes dan kuis, skor peningkatan individual dan pengakuan kelompok.
Dengan kelima komponen tersebut diterapkan dalam pembelajaran PAI kelas V SD Negeri Siwatu 03, guru dan siswa lebih termotivasi dan semangat dalam belajar.
Meningkatnya motivasi belajar siswa tersebut dapat diketahui dari keaktifan belajar dan ketuntasan hasil belajar siswa yang mengalami peningkatan.
Ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal dari awalnya rata-rata 60 persen, setelah menggunakan model pembelajaran ini meningkat menjadi 80 persen. (pai2/aro)
Guru PAI SD Negeri Siwatu 03, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang Editor : Agus AP