Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Sejarah Gedung Birao, Ternyata ini Alasan Perusahaan Kereta Api SCS Mendirikan Kantor Pusatnya di Kota Tegal

Muchammad Nachirul Ichsan • Senin, 20 Mei 2024 | 15:54 WIB
Gedung Birao atau SCS
Gedung Birao atau SCS

RADARSEMARANG.ID - Semarang-Cheribon Stoomtram Matschappij (SCS) merupakan salah satu perusahaan kereta api swasta pada era kolonial Belanda.

Sesuai namanya perusahaan ini beroperasi untuk melayani perjalanan kereta api dari Semarang menuju Cirebon.

Meskipun menghubungkan dua kota besar saat itu, namun kantor pusat dari anak perusahaan NIS ini memilih Tegal sebagai lokasi kantor pusatnya.

Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan kenapa SCS tidak membangun kantor pusatnya di Semarang atau Cirebon, maupun Pekalongan jika melihat dari lokasi ditengah rute yang dilayani.

Secara jarak lokasi sendiri Tegal terlalu jauh dari Semarang dan agak lebih dekat ke Cirebon.

Ternyata ada alasan tersendiri mengapa Tegal yang dipilih menjadi daerah pusat operasional saat itu.

Menurut buku "Melihat Sejarah Tegal dari Sisi Nusantara dan Kolonial" pemilihan Tegal didasarkan atas lokasi daerah yang sangat strategis saat itu.

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Kota Tegal menjadi daerah yang cukup strategis yang ada di pesisir utara Jawa sekitar abad ke-18 hingga ke-20 M ditandai dengan adanya Pelabuhan Tegal.

Perusahaan akhirnya memilih Tegal dan mengamatkan kepada Henri MacLaine Pont untuk menjadi arsitek pembangunannya.

Henri pertama kali merancang gedung ini pada tahun 1884-1911 dengan konsep Europeesche architectuur in Indie yang pada dasarnya bangunan gaya eropa yang menyesuaikan dengan kondisi iklim tropis.

Gedung ini akhirnya diresmikan pada tahun 1913, dan difungsikan sebagai tempat administratif terkait perusahaan kereta api SCS.

Jika dilihat sekilas bangunan gedung SCS memiliki kemiripan dengan Lawang Sewu di Semarang.

Sehingga sering disebut juga Lawang Satus atau Pintu Seratus karena bangunannya lebih kecil dari Lawang Sewu.

Gedung Birao ini menjadi saksi bisu sejarah dari masa Hindia Belanda hingga masa kini masih berdiri kokoh. Pada masa setelah Proklamasi, 10 September 1945.

Pasca kemerdekaan gedung SCS kemudian di nasionalisasikan dan dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia.

Secara umum masyarakat Tegal lebih mengenal bangunan ini dengan sebutan Gedung Birao.

Nama Birao sendiri diambil saat bangunan ini menjadi kantor Birao atau pusat catatan sipil masyarakat Tegal saat itu.

Kemudian sempat disewakan kepada Yayasan Pancasakti Tegal dan digunakan sebagai kampus 2 Universitas Pancasakti Tegal.

Pasca disewa kampus asal Tegal itu, Gedung bersejarah ini sempat terbengkalai bahkan ditutupi pagar seng saat itu.

Namun pada tahun 2020 Pemerintah Kota Tegal bersama PT KAI melakukan revitalisasi kawasan Taman Pancasila.

Gedung SCS juga tak luput dari pembenahan hingga akhirnya kini bisa terlihat jelas dan megah dengan arsitekturnya yang mewah.

Saat ini gedung SCS sudah tercatat sebagai cagar budaya dan sering kali diadakan kunjungan terbatas oleh beberapa instansi dan komunitas sejarah.

Salah satunya Komunitas Tegal History yang dikelola Bijak Cendekia Sukarno yang juga penulis buku Sejarah Tegal.

Ia beberapa kali mengajak para pelajar dan masyarakat Tegal untuk berkeliling kedalam gedung dan mengenal bangunan bersejarah ini.

Kedepannya gedung ini direncanakan akan menjadi Museum yang dapat dnikmati oleh semua masyarakat sebagai sarana edukasi sejarah.

Editor : Baskoro Septiadi
#Henri MacLaine Pont #Lawang Satus #Sejarah Tegal #Perusahaan Kereta Api Belanda #Gedung Birao #Gedung SCS #Komunitas Tegal History #bangunan bersejarah #Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij #bijak cendekia sukarno #lawang sewu