RADARSEMARANG.ID, Semarang — Siapa sih yang tidak mengenal dengan Paskibraka?
Paskibraka adalah singkatan dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka dengan tugas utamanya untuk mengibarkan dan menurunkan Bendera Pusaka Negara.
Dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di tiga tempat.
Yakni tingkat kabupaten/kota, provinsi, dan nasional.
Anggotanya berasal dari pelajar SMA/sederajat kelas 10 atau 11.
Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) merupakan putra-putri terbaik bangsa.
Kader pemimpin bangsa yang direkrut dan diseleksi secara bertahap dan berjenjang melalui sistem dan mekanisme pendidikan dan pelatihan yang menanamkan nilai-nilai kebangsaan serta penguatan aspek mental dan fisik.
Agar memiliki kemampuan prima dalam melaksanakan tugas sebagai pasukan pengibar bendera pusaka.
Gagasan Paskibraka lahir pada tahun 1946, pada saat ibu kota Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta.
Memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-1, Presiden Soekarno memerintahkan salah satu ajudannya, Mayor (Laut) Husein Mutahar, untuk menyiapkan pengibaran bendera pusaka di halaman Istana Gedung Agung Yogyakarta.
Pada saat itulah, di benak Husein Muthahar terlintas suatu gagasan bahwa sebaiknya pengibaran bendera pusaka dilakukan oleh para pemuda dari seluruh penjuru Tanah Air, karena mereka adalah generasi penerus perjuangan bangsa yang bertugas.
Mengenai Sosok Husein Mutahar
Nama aslinya Husein.
Ayahnya bernama Sayyid Salim Al Mutahar dan ibunya adalah Syarifah Masthuroh binti Husin Vad'aq.
Ia diberi nama Husein karena kakek dari ibunya adalah Habib Husein Vad'aq Ba'alawi, yaitu seorang ulama dari Hadramaut yang berdakwah di Hijaz, Tarim, kepulauan nusantara diantaranya ke Sulawesi dan Jawa.
Lalu kembali ke Hijaz dan wafat di Hadramaut Yaman.
“Nasab Habib Husein Mutahar adalah Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad bin Muthahar bin Abdullah bin Muthahar bin Abdullah bin Alwi bin Mubarok (dikenal juga dengan nama Barakat) bin Abdullah bin Ahmad Al Madhar bin Muhammad bin Abdullah Al Wathob bin Muhammad Al Munaffar bin Abdullah bin Muhammad bin Abdullah Ba'alawi bin Alwi Al Ghuyur bin Al Faqih Muqoddam Muhammad bin Ali Ba'alawi” Jelas Habib Nauval bin Idrus Al Muthahar Semarang.
Lahir di Semarang tahun 1916.
Semenjak kecil sudah terkenal kecerdasannya dan menguasai berbagai macam bahasa.
Hingga hijrah ke Jakarta dan bersahabat dengan Bung Karno, dari mulai Bung Karno belum menjadi Presiden sampai menjadi Presiden hingga tidak menjadi Presiden lagi.
Beliau adalah orang kepercayaan Bung Karno pada waktu itu.
Lagu-lagu yang diciptakannya sangat banyak diantara yang terkenal adalah Hari Merdeka (17 Agustus) yang diciptakan beberapa tahun setelah kemerdekaan Indonesia.
Yang lebih istimewa adalah lagu Syukur.
Setiap menyanyikan lagu ini, terasa sekali nuansa yang bikin merinding, meneteskan air mata dan sangat syahdu.
Tahukah anda mengapa?
Lagu Syukur di ciptakan tahun 1944, setahun sebelum Indonesia Merdeka.
Kenapa lagu ini begitu syahdu dan sangat menusuk kalbu dari intro sampai liriknya?
Jawabnya bahwa lagu Syukur terinspirasi dari Ummul Kitab atau Surat Al Fatihah.
Dan ayat pertama adalah Alhamdulillahi Robbil Alamin.
Sebagaimana surat fatihah yang terdiri dari 7 ayat, lagu syukur pun memiliki 7 ketukan:
Da … ri ya…kin…ku te…guh (7)
Ha…ti ikh..las…ku pe…nuh (7)
A..kan ka…ru…ni..a..Mu (7)
Ta ..nah a..ir pu..sa…ka (7)
In…do…ne…sia mer…de…ka (7)
Syu…kur a…ku sem..bah…kan (7)
Ke..ha…di…rat...Mu Tu…han (7)
Beberapa tahun sebelum proklamasi, beliau sudah yakin bahwa Indonesia akan merdeka.
Maka beliau mengarang lagu ini sebagai ungkapan rasa syukur.
Istimewa bukan, Lagu yang terinspirasi dari Al-Qur’an dan menjadi lagu yang terus disenandungkan selamanya di Indonesia.
Ketika Agresi Militer Belanda ke-2 pecah pada 19 Desember 1948.
Presiden, wakil presiden, dan beberapa pejabat tinggi RI ditawan Belanda.
Soekarno memanggil Habib Husein Mutahar sebelum Gedung Agung Yogyakarta benar-benar terkepung Belanda.
Soekarno mengamanahkan pada Husein Muthahar untuk menjaga Bendera Pusaka yang dijahit oleh Fatmawati istri Soekarno.
Aku (Soekarno) tidak tahu apa yang akan terjadi pada diriku.
Dengan ini, aku memberikan tugas kepadamu (Muthahar) pribadi.
“Dalam keadaan apa pun, aku memerintahkan kepadamu untuk menjaga bendera ini dengan nyawamu” kata Soekarno seperti dikutip dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams.
Untuk menyiasati Bendera Pusaka direbut oleh Belanda, Husein Mutahar membuka jahitan bendera tersebut hingga merah dan putih terpisah.
Ia memasukkan bendera yang terpisah itu ke dalam dua tas miliknya yang juga diisi dengan pakaian dan kelengkapan miliknya.
Pada Agresi Militer 2, Soekarno dan beberapa tokoh pejuang diasingkan Belanda ke Prapat, lalu Bangka.
Sementara Husein Muthahar ditangkap dan ditahan di Semarang selama beberapa bulan.
Setelah bebas dari tahanan, pada Juni 1949, Husein Mutahar mendapat surat dari kepala negara.
Berdasarkan surat tersebut, Husein Mutahar menyerahkan Bendera Pusaka ke Soedjono setelah dijahit kembali.
Kemudian Bendera Pusaka itu dibawa ke Bangka.
Pada 17 Agustus 1949, Bendera Pusaka kembali dikibarkan di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta.
Beliau termasuk tokoh yang ikut mendirikan Pramuka dan Paskibraka.
Pada tahun 1945 beliau pernah terlibat dalam perang 5 hari di Semarang untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Dan dikisahkan pada 1946, ia pernah ditunjuk sebagai penyusun upacara pengibaran bendera ketika hari kemerdekaan.
Pernah juga mendapat penghargaan sebagai Bintang Gerilya (1949) dan Bintang Mahaputra Pratama (tahun 1961).
Sepanjang hidupnya, Husein Muthahar tidak pernah menikah.
Beliau wafat tahun 2004, dan berwasiat agar tidak di makamkan di Taman Makam Pahlawan, beliau berwasiat agar di makamkan di TPU Jeruk Purut Jakarta seperti rakyat pada umumnya.
Habib Husein al Mutahar.
Lahul Fatihah. (fal)
Editor : Baskoro Septiadi