Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Kuda Lumping Jadi Magnet Utama Tradisi Apitan di Sampangan Semarang

Figur Ronggo Wassalim • Sabtu, 16 Mei 2026 | 20:45 WIB

 

Kuda lumping di tengah tradisi apitan Kelurahan Sampangan, Sabtu (16/5) siang. (FIGUR RONGGO WASSALIM)
Kuda lumping di tengah tradisi apitan Kelurahan Sampangan, Sabtu (16/5) siang. (FIGUR RONGGO WASSALIM)

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Dentuman kendang dan tabuhan gamelan menggema keras di Lapangan Mitra Sampangan, Kota Semarang, saat puluhan penari Kuda Lumping mulai memasuki arena, Sabtu (16/5) siang. 

Debu beterbangan dari tanah lapang yang dipenuhi ratusan penonton. Anak-anak hingga orang tua berdesakan di pinggir arena demi menyaksikan atraksi yang menjadi magnet utama Tradisi Apitan Sampangan itu.

Suasana Sampangan benar-benar hidup. Para penari dengan kostum warna-warni dan kuda kepang anyaman bambu bergerak lincah mengikuti irama musik tradisional yang semakin cepat. 

Baca Juga: Warga Purwoyoso Semarang Bersihkan Lumpur Sisa Banjir Semalam

Sesekali sorakan penonton pecah ketika para pemain mulai menunjukkan atraksi ekstrem yang memacu adrenalin.

Tradisi Apitan yang selama ini identik dengan kirab gunungan dan rebutan hasil bumi ternyata juga menjadi panggung besar bagi kesenian tradisional rakyat. 

Atraksi Kuda Lumping atau Turonggo Seto menjadi sajian yang paling ditunggu warga setiap tahunnya. Di bawah terik matahari, para penari tampak tak kehilangan energi. 

Gerakan menghentak, putaran cepat, hingga aksi teatrikal membuat penonton terpukau. Aroma kemenyan tipis mulai tercium saat pertunjukan memasuki babak atraksi trance. 

Baca Juga: Pemkot Semarang Gercep Tangani Banjir Tugu-Ngaliyan, Pembersihan Silayur dan Penanganan Tanggul Dikebut

Warga makin merapat ke pinggir arena. Sebagian mengabadikan momen dengan telepon genggam mereka.

Sorotan mata penonton tak lepas dari aksi para pemain yang menari tanpa henti mengikuti tempo gamelan yang kian cepat.

Suasana semakin riuh ketika salah satu penari mulai menunjukkan atraksi memakan pecahan kaca dan berjalan tanpa sadar di tengah arena.

Salah seorang warga, Suyanto, mengaku selalu datang setiap Tradisi Apitan digelar karena ingin menyaksikan pertunjukan Kuda Lumping secara langsung.

Menurutnya, suasana meriah dan nuansa tradisional seperti ini mulai jarang ditemui di tengah kehidupan perkotaan.

"Kalau sudah ada Kuda Lumping, suasananya beda. Ramai dan bikin kangen suasana kampung," katanya sambil menyaksikan pertunjukan dari tepi lapangan.

Baca Juga: Warga Mangkang Kulon Semarang Hilang Terseret Banjir, Pencarian Terkendala Derasnya Arus Sungai Plumbon dan Minimnya Penerangan

Bagi warga Sampangan, Kuda Lumping bukan sekadar hiburan rakyat. Kesenian ini menjadi simbol bahwa tradisi lama masih hidup dan mampu menyatukan masyarakat lintas usia. 

Anak-anak terlihat antusias menonton, sementara para orang tua menikmati pertunjukan sambil bercengkerama dengan tetangga.

Tradisi Apitan pun berubah menjadi ruang pertemuan sosial warga. Tidak hanya menjaga budaya leluhur, tetapi juga merawat kebersamaan yang perlahan mulai luntur di tengah kesibukan kota.

Saat matahari mulai turun, tabuhan gamelan perlahan melambat. Namun riuh tepuk tangan warga tetap menggema di Lapangan Sampangan.

Kuda Lumping kembali membuktikan dirinya bukan sekadar tontonan, melainkan denyut budaya yang terus hidup di tengah Kota Semarang. (fgr)

Editor : Baskoro Septiadi
#Kelurahan Sampangan #KOTA SEMARANG #Kuda Lumping #Tradisi Apitan