Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

BPBD Sebut Banjir di Semarang Semakin Meluas

Adennyar Wicaksono • Rabu, 29 Oktober 2025 | 03:51 WIB
Kondisi banjir di kawasan Genuk, Kota Semarang
Kondisi banjir di kawasan Genuk, Kota Semarang

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, mencatat banjir di Ibu Kota Jateng semakin parah karena hujan deras yang kembali mengguyur Kota Lunpia, Selasa (28/10).

Kepala BPBD Kota Semarang Endro Pudyo Martanto mengatakan hujan mulai turun sekitar, Selasa (28/10) pagi  ini, turun dengan intensitas cukup tinggi berlangsung hampir empat jam. Endro bahkan menyebut jika Semarang saat ini berstatus siaga banjir.

"Hujan pagi ini merupakan dampak dari kondisi hidrometeorologi. Sejak Rabu, 22 Oktober pekan lalu, Semarang sudah berada dalam status siaga banjir," katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (28/10).

Wilayah yang sebelumnya ketinggian air mengalami penurunan, saat ini kembali terendam. Terutama di Kaligawe Genuk yang sebelumnya sudah diangka 30 centimeter kini menjadi 90 centimeter.

Selain Kaligawe, genangan juga terjadi di Muktiharjo Kidul, Kecamatan Pedurungan, serta di ruas Jalan Arteri Soekarno-Hatta, Jalan Gajah.

Kondisi ini menyebabkan arus lalu lintas tersendat di beberapa titik utama kota.

Endro menyebut Pemkot Semarang terus melakukan berbagai upaya penanganan. Rekayasa cuaca kata dia, terus dilakukan, meskipun sempat terkendala cuaca.

"Sampai saat ini terus dilakukan, memang sempat tertunda karena cuaca kurang baik untuk penerbangan, tetapi sekarang sudah dilanjutkan," paparnya.

Ia menegaskan, pelaksanaan OMC tidak bisa dianggap gagal, karena sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer yang berubah-ubah.

"Ini upaya dari udara untuk menahan hujan agar tidak turun. Jadi bukan gagal, tapi memang faktor cuacanya yang demikian," jelasnya.

Selain itu , seluruh pompa air portabel milik Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dan BPBD tetap dioperasikan untuk mempercepat penyusutan air, sementara Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) juga ikut memantau kondisi lapangan.

"Pompa-pompa portable tetap dalam kondisi aktif, meskipun ada satu dua pompa milik BBWS yang sempat berhenti karena perlu pendinginan," ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga memastikan suplai logistik bagi warga terdampak banjir terus tersedia. Dapur umum juga masih di siagakan di tingkat kelurahan untuk membantu warga.

"Logistik tetap kami penuhi dari Posko Kebencanaan Kota Semarang. Kami bersama seluruh unsur terus berupaya agar kondisi ini segera teratasi," kata Endro.

BPBD Kota Semarang mencatat sementara sebanyak 39.405 jiwa dari 29.772 kepala keluarga (KK) terdampak banjir. 

"Mereka tersebar di berbagai titik genangan dengan ketinggian air bervariasi antara 15 hingga 60 sentimeter," bebernya.

Terkait kemungkinan pembukaan tempat pengungsian, Endro menyebut hal itu menjadi opsi terakhir.

"Kalau sampai harus mengungsi, pasti ada dampak sosial bagi warga. Karena tinggal di pengungsian itu berbeda dengan di rumah. Semoga tidak sampai terjadi," harapnya.

Sebelumnya, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng mengaku  terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk mempercepat penyelesaian proyek Kolam Retensi Trimulyo dan Tanggul Laut (Seawall) sebagai upaya untuk pengendalian banjir di kawasan timur Kota Semarang.

Dia mengaku optimisme terhadap kedua infrastruktur tersebut akan membawa perubahan besar dalam upaya penanggulangan banjir maupun rob.

"Kalau kolam retensi dan tanggul laut ini selesai, kita harapkan urusan banjir di sekitar sini bisa teratasi secara menyeluruh," ungkap Agustina.

Agustina menjelaskan fungsi utama tanggul laut ialah menahan air pasang agar tidak masuk ke daratan.

Sedangkan kolam retensi berfungsi menampung air hujan dan limpasan dari wilayah atas sebelum dialirkan ke laut.

"Dulu masalahnya rob, air lautnya masuk terus. Sekarang sudah ada seawall. Nah, tantangan baru adalah air dari atas. Karena wilayah kita ini ditanggul, jadi air hujan harus punya tempat penampungan. Di sinilah peran kolam retensi menjadi krusial," katanya.

Proyek kolam retensi Trimulyo dirancang seluas 250 hektare dan dikerjakan bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana serta kementerian terkait.

"Kita juga memastikan seluruh saluran dan pompa terhubung agar air bisa segera dialirkan ke kolam begitu fasilitas tersebut siap beroperasi," pungkasnya. (den)

Editor : Baskoro Septiadi
#semarang #BANJIR