RADARSEMARANG.ID, Semarang - Ratusan mahasiswa yang tergabung BEM Semarang Raya turun ke jalan melakukan aksi demontrasi di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin (20/10/2025).
Aksi tersebut diikuti hanya ratusan orang dengan mengenakan almamater masing-masing. Mereka sempat longmarch melintas depan Kantor Walikota Semarang kemudian menuju depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, sekitar pukul 14.00.
Selain membentangkan spanduk bertulisan kritikan pemerintah, mereka juga menggelar orasi dengan menggunakan alat pengeras suara diatas kendaraan roda empat.
Orasi tersebut, aksi mahasiswa ini mengkritik pemerintah termasuk pihak kepolisian yang bersiaga halaman kantor gubernur, dengan dibatasi pagar gerbang yang tertutup rapat.
Aksi ini dilakukan terkait evaluasi satu tahun kinerja pemerintahan selama kepempimpinan Presiden Prabowo-Gibran. Kritikan ini juga terkait program Makanan Bergizi Gratis (MGB) yang dianggapnya gagal.
"MBG itu makanan bergizi gratis atau makanan beracun gratis," kata orator, melalui pengeras suara di depan depan gerbang Kantor Gubernur Jateng, Senin (20/10/2025).
Kurang lebih satu jam berorasi, pagar besi akses utama masuk ke halaman kantor Gubernur Jateng ini masih tertutup rapat. Tidak ada satupun dari perwakilan pemerintahan Provinsi Jateng yang menemui peserta demo.
"Buka buka, buka pintunya, buka pintunya sekarang juga. Buka buka buka pintunya buka pintunya sekarang juga," katanya ditirukan peserta aksi demo.
Aksi tersebut masih terlihat kondusif. Orator tersebut juga silih berganti. Namun, kritikan tersebut tak membuahkan hasil.
Orator lainnya juga menyuarakan, supaya aksi tersebut ditemui oleh Gubernur Jateng, untuk berdiskusi di halaman depan Kantor Gubernur.
"Kami memberikan sebuah ultimatum kepada kepolisian untuk memberikan ruang berdiskusi kepada Gubernur. Namun nyatanya mereka sampai detik ini tidak mau menemui rakyat mereka sendiri," kata orator lainnya.
Memasuki pukul 15.30, orator ini mengajak para peserta aksi untuk berdiri merapatkan barisan di depan gerbang. Mereka mencoba menerobos masuk.
"Kawan-kawan semua yang ada dibelakang barikade semua rapatkan barisan. Karena ini hak rakyat untuk busa berdiskusi dengan yang katanya wakil rakyat kawan kawan," katanya.
"Kami ingin masuk untuk menyampaikan tuntutan dan diskusi kepada Pak Gubernur supaya nantinya bisa disampaikan kepada Pak Prabowo," harapnya.
Menurut orator ini, mereka tidak ingin masuk secara perwakilan untuk menemui Gubernur Jateng. Namun, berdiskusi secara keseluruhan dihadapan para peserta aksi demo.
"Ayo pak polisi segara buka. Kita tidak ingin membuat rusuh kita hanya ingin berdiskusi. Kita mau mengadakan sidang rakyat, meja kursi sudah dipersiapkan. Kita minta gubernurnya," teriaknya.
Kritikan tak hanya kepada Prabowo dan Gibran. Orator juga mengkritik Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi yang sebelumnya anggita Polri menjabat sebagai Kapolda Jateng.
"Selama memimpin kepolisian Kapolda tidak mau turun, jadi gubernur tidak mau turun. Aksi anarkis ditangkapi," jelasnya.
"Aksi anarkis tidak diterima, aksi damai tidak diterima, maunya apa," keluhnya.
Sementara, seorang orator berikutnya juga mengkritik terhadap wakil presiden, Gibran. Kritikan ini kecewa dengan janji wapres yang menyediakan lapangan pekerjaan dan tidak ada realisasinya.
"Gibran merupakan produk gagal anak muda Jawa Tengah. Tidak ada lapangan kerja yang terealisasi," katanya.
Disela aksi demo, peserta aksi mengeluarkan batang pohon pisang yang ditempeli foto Presiden Prabowo dan wakil presiden, Gibran. Kemudian menebarkan bunga pemakaman di batang pohon pisang tersebut.
Hingga pukul 17.00, aksi tersebut masih berlangsung kondusif. Aksi tersebut juga tidak mendapat respon dari pihak pemerintah provinsi Jateng, maupun Gubernuran Jateng. Merasa kecewa, mahasiswa merusak penyangga pintu pagar bagian luar. (mha)
Editor : Baskoro Septiadi