Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Menengok Festival Mbeliksari #2, Magnet Baru Warga Lempongsari Semarang

Figur Ronggo Wassalim • Sabtu, 13 September 2025 | 23:06 WIB

 

Suasana Festival Mbeliksari #2 di Jalan Lempongsari, Sabtu (13/9) pagi.
Suasana Festival Mbeliksari #2 di Jalan Lempongsari, Sabtu (13/9) pagi.

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Sabtu (13/9) pagi, di Jalan Lempongsari, dekat dengan halaman Balai Kelurahan Lempongsari berubah jadi lautan manusia.

Deretan tenda UMKM berjejer rapi, bau harum singkong goreng dan bika yang baru matang menyeruak ke udara.

Anak-anak berlarian, sementara ibu-ibu PKK sibuk menata kudapan hasil olahan untuk lomba plating.

 Baca Juga: Pembersihan Longsor Talut Pabrik Es Batu di Karanganyar Legok Semarang Baru Capai 50 Persen

Inilah Festival Mbeliksari #2. Sebuah hajatan warga yang mengangkat kembali belik, sumber air yang dulu jadi andalan saat kemarau, menjadi ikon budaya sekaligus magnet ekonomi. 

“Intinya kami ingin memperkenalkan Belik di Lempongsari agar lebih dikenal masyarakat luas. Kalau dulu hanya dipakai warga sekitar untuk mencari air, sekarang kita angkat jadi potensi budaya,” tutur Lurah Lempongsari, Tin Subekti.

Sejak pagi, peserta UMKM mengikuti cooking class membuat bika singkong. Meja-meja dipenuhi singkong parut, santan, dan gula merah. Tawa renyah terdengar saat para peserta mencoba kreasi baru. 

 Baca Juga: Keracunan Massal, 35 Warga Bangetayu Wetan Semarang Tumbang Diduga Usai Santap Sambal Goreng Hati

“Harapannya ada inovasi baru. Jadi UMKM tidak hanya produksi yang itu-itu saja,” imbuh Tin.

Sekitar seratus UMKM ikut ambil bagian. Tidak hanya dari Lempongsari, tapi juga dari berbagai kelurahan di Semarang.

Keramaian stan membuat pengunjung harus berdesakan untuk mencicipi aneka camilan.

Menjelang siang, panggung utama dipenuhi teriakan dukungan untuk lomba plating. Hidangan warna-warni ditata secantik mungkin di atas piring, namun dengan aturan ketat: tanpa beras dan tanpa terigu. 

“Kita harus mengurangi makanan putih-putih, seperti tepung, gula, garam. Jadi ini sekalian edukasi sehat,” kata Tin.

Selepas Zuhur, sorak-sorai berganti dengan lantunan suara warga yang mengikuti lomba nyanyi. Beberapa peserta terlihat grogi, namun tepuk tangan penonton membuat mereka percaya diri. 

Pukul setengah empat sore, giliran anak-anak berkebutuhan khusus naik panggung. Senyum malu-malu mereka berubah jadi tawa saat mendapat tepuk tangan panjang dari penonton. “Kami ingin mereka punya ruang untuk menampilkan kemampuan, biar lebih percaya diri,” jelas Tin.

Sore menuju malam, panggung makin berwarna. Parade kostum Semarang Night Karnival lewat dengan tema penjor. Lalu disambung fashion show anak-anak usia 6–12 tahun. 

 Baca Juga: Foto Terduga Pelaku Penembakan Charlie Kirk Dirilis, Ada Imbalan Rp 1,6 M

Kostum dari bahan daur ulang, mulai plastik bekas hingga kertas semen, disulap jadi busana unik. “Kemarin beberapa kostum bahkan sempat disewa Pemkot Semarang,” kata Tin bangga.

Menjelang malam, warga makin ramai berdatangan. RW demi RW mengirim delegasi tampil di panggung: ada yang menari, ada yang membawakan geguritan. Sorak sorai penonton tak pernah berhenti.

Ketua Panitia, Adi Alamsyah, menyebut tahun ini festival lebih meriah dari sebelumnya.

“Rundown dari pagi sampai malam. Ada empat lomba, plus pentas seni. Tujuannya jelas, kami ingin nguri-uri sejarah. Belik ini warisan yang harus dirawat bersama,” ujarnya.

Camat Gajahmungkur, Puput Widhiatmoko Hadinugroho, menambahkan dukungan kecamatan dan Pemkot jadi kunci keberlangsungan acara ini.

“Alhamdulillah luar biasa. UMKM lebih banyak, harapannya lebih berdaya,” jelasnya.

Hingga larut malam, denting gamelan dan suara musik modern saling bersahutan. Lampu panggung memantul di wajah-wajah warga yang tersenyum puas. 

 Baca Juga: Benarkah BSU Cair Lagi Bulan September 2025 Untuk Gaji Dibawah Rp 10 Juta?

Festival Mbeliksari #2 bukan sekadar pesta rakyat. Ia jadi bukti bahwa belik sederhana bisa menghidupi ingatan sejarah, menggerakkan UMKM, dan menumbuhkan rasa bangga warga pada kampungnya sendiri. (fgr)

Editor : Baskoro Septiadi
#Kecamatan Gajahmungkur #Kelurahan Lempongsari #hajatan warga #Belik #KEMARAU