Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Duduk Perkara Sengketa Lahan Warga Bendan Ngisor Semarang hingga Menutup Akses Salah Satu Rumah

Figur Ronggo Wassalim • Rabu, 30 Juli 2025 | 21:06 WIB

 

Keadaan rumah Juladi yang tersegel karena meresahkan warga sekitar, Rabu (30/7).
Keadaan rumah Juladi yang tersegel karena meresahkan warga sekitar, Rabu (30/7).

 

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Langkah kecil seorang siswi SD menyusuri tepian Sungai Kaligarang viral di media sosial. Bukan karena sensasi, melainkan karena dia harus menyeberangi sungai demi bisa berangkat sekolah. 

Akses jalan satu-satunya menuju sekolah yang biasa dilaluinya ditutup tembok seng. Bukan karena bencana alam atau proyek pembangunan, melainkan buntut dari konflik sengketa tanah yang tak kunjung selesai.

Di balik kisah haru anak itu, tersimpan kisruh panjang antara pemilik lahan dan penghuni rumah paling ujung di deretan kos-kosan kawasan Lamongan Selatan II, Kelurahan Bendan Ngisor, Kecamatan Gajahmungkur. Warga mengenalnya dengan nama Juladi. Atau, lebih akrab disebut Pak Paung.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, gerbang kos-kosan tampak sepi. Hanya ada papan tulisan “aset milik Sri Rejeki” di bagian depan. Namun berbeda dengan rumah Juladi yang berada di paling ujung. 

Pintu aksesnya tertutup rapat dengan pagar seng dan baja ringan. Dari dalam, suara gonggongan anjing menggema, memberi kesan tak bersahabat bagi siapa pun yang mendekat.

 Baca Juga: Karang Taruna Panaskan Mesin Sosial di Tembalang, Turnamen Futsal dan Festival UMKM Jadi Ajang Unjuk Gigi Pemuda Semarang

Plt Lurah Bendan Ngisor, Linggasari, membenarkan penutupan akses jalan oleh pemilik tanah, Sri Rejeki, pada 24 Juli lalu.

Hal itu dilakukan usai pihak pemilik memenangkan gugatan atas lahan yang ditempati Juladi.

“Mediasi sudah dilakukan sejak 2019. Tapi tidak pernah ada titik temu. Saat pengadilan memutuskan tanah itu sah milik Bu Sri, maka akses ditutup. Dampaknya, anak Juladi yang sekolah jadi tidak punya jalan lain kecuali menyeberang sungai,” jelas Lingga, Selasa (29/7).

 

Buntut dari konflik sengketa tanah yang tak kunjung selesai.
Buntut dari konflik sengketa tanah yang tak kunjung selesai.

Warga sekitar menyebut kisah Juladi bukan perkara baru. Sudah lama lingkungan merasa tak nyaman dengan keberadaannya. 

Suntari, salah satu warga, mengaku beberapa kali melihat anjing peliharaan Juladi berkeliaran bebas dan sering mengejar warga.

“Pernah ada gojek antar makanan sampai minta tolong ke saya karena takut dikejar anjing. Belum lagi sampah bekas koran atau plastik disebar di halaman, angin dikit langsung beterbangan ke rumah-rumah,” ungkapnya.

 Baca Juga: Jadwal Timnas Bola Voli Putri Indonesia di Ajang SEA V League 2025 Leg 1 Thailand

Ia pun menyebut Juladi sering kali menjemur barang bekas sembarangan, bahkan kerap cekcok dengan warga tanpa alasan jelas. Tak tahan dengan situasi ini, warga pernah membuat petisi agar Juladi meninggalkan lingkungan itu.

Bahkan, pemilik tanah sempat menawarkan tali asih agar proses pemindahan berjalan damai. Namun menurut kelurahan, nominal yang diminta Juladi terlalu tinggi.

“Bu Sri sempat menawarkan, tapi Pak Juladi minta Rp130 juta. Ya itu bukan tali asih, itu mah harga rumah,” kata Lingga.

Meski telah kalah dalam gugatan, Juladi kini tengah mengajukan banding ke pengadilan. Sementara warga dan kelurahan menanti langkah lanjutan dari kuasa hukum pemilik tanah yang dijadwalkan datang dari Tangerang untuk membuka komunikasi baru.

Di tengah konflik yang mengendap bertahun-tahun itu, seorang anak tetap melangkah. Menyusuri sungai yang berarus deras, berbekal tekad agar tetap bisa belajar. 

Ia tak tahu tentang gugatan atau sengketa. Yang dia tahu, pagi hari adalah waktunya sekolah. Dan meski jalannya tertutup, harapannya tidak. (fgr)

Editor : Baskoro Septiadi
#Langkah kecil #Sengketa Tanah #Sungai Kaligarang