RADARSEMARANG.ID, Semarang – Kawasan yang dulu dikenal sebagai lokalisasi Sunan Kuning kini menggeliat dengan semangat baru.
Tradisi nyadran yang digelar di Kelurahan Kalibanteng Kulon, Kecamatan Semarang Barat, menjadi simbol perubahan wajah Argorejo menjadi kawasan religi dan budaya.
Puncak kegiatan berlangsung meriah dengan kirab budaya, pengajian akbar, hingga pembagian santunan dan sembako.
Warga dari RW 1 - RW 6 turut serta, lengkap dengan busana tradisional dan hasil bumi yang dipikul bersama, sebagai wujud penghormatan kepada para leluhur.
Tak kurang dari 500 warga tumplek blek. Mereka mengarak gunungan, seperti gunungan jajan, gunungan buah, dan gunungan hasil bumi.
Warga juga memakai pakaian adat, dan tema 70an, ada juga membawa nasi bungkus.
Menyusuri jalur sejauh 1,5 kilometer dari titik kumpul hingga ke area pemakaman tokoh agama, termasuk makam Sun An Ing atau yang dikenal Sunan Kuning yang jadi pusat ziarah.
Sesampainya di gapura Argorejo, nasi bungkus dikumpulkan. Kemudian dilakukan gembul bujana atau makan bersama di atas hamparan daun pisang.
Dilanjutkan dengan doa bersama lintas agama. Dan, rebutan gunungan. Terlihat, Camat Semarang Barat, Elly Asmara ikut berebut.
Baca Juga: Rayakan 17-an di Roblox! Anak Muda Bikin Lomba Kemerdekaan Seru di Dunia Virtual
“Dulu memang dikenal sebagai kawasan lokalisasi. Tapi perlahan kami ingin ubah citranya. Sunan Kuning ini adalah tokoh penyebar Islam, dan kami ingin mengangkat sisi itu,” ungkap Elly Asmara, Camat Semarang Barat, yang turut larut dalam suasana rebutan hasil bumi.
Menurutnya, tradisi nyadran di Kalibanteng Kulon ini berbeda. Jika umumnya digelar jelang Ramadan, nyadran di kawasan ini justru dilaksanakan pada bulan Suro, menjadi kekhasan tersendiri yang dijaga turun-temurun oleh warga.
Pemerintah pun tak tinggal diam. Dalam Musrenbang kecamatan, telah dialokasikan dana untuk kegiatan nonfisik, termasuk pelestarian budaya seperti nyadran ini.
Bantuan juga datang dari berbagai instansi dan CSR perusahaan sekitar. PDAM misalnya, menyumbang 50 paket sembako, sementara 160 paket lainnya berasal dari perusahaan swasta. Santunan anak yatim senilai total Rp7,1 juta pun disalurkan kepada 71 anak.
“Kegiatan ini bukan hanya soal budaya, tapi juga penguatan identitas wilayah. Kita ingin Argorejo dikenal karena nilai religius dan kekayaan budayanya,” terang Herry Suryadi Timur, Ketua LPMK Kalibanteng Kulon didampingi Lurah Kalibanteng Kulon, Parjono.
Baca Juga: 5 Ide Bisnis Menjelang Kemerdekaan 17 Agustus, Minim Modal Auto Cuan
Nyadran ini menjadi momentum kebangkitan tradisi setelah vakum lebih dari satu dekade. Terakhir kali digelar sekitar 10 tahun silam.
Tahun ini menjadi kebangkitan, dan masyarakat pun menyambutnya dengan antusiasme tinggi.
“Kita mulai dari bersih-bersih makam Sunan Kuning, Sunan Ngepoh, dan Mbah Banteng Wareng. Ini bukan sekadar seremonial, tapi bentuk nyata dari nguri-uri budaya leluhur,” tambah Herry.
Tak hanya warga, Karang Taruna, Yayasan Sun An Ing, dan sejumlah tokoh masyarakat turut serta. RW 4 menjadi tuan rumah tahun ini, dan rencananya tahun depan giliran RW 2 dan RW 6 yang akan memimpin kegiatan.
Warga pun merasa terlibat dan senang. “Baru kali ini ikut. Seru, senang, bisa rebutan sayur dari hasil bumi, tadi dapat terong, labu siam,” ujar Ana, warga RW 1 yang antusias menunjukkan hasil rebutannya.
Perlahan tapi pasti, Argorejo mulai menanggalkan stigma lama. Dengan semangat gotong royong dan komitmen menjaga tradisi, kawasan ini menapaki jalan baru sebagai destinasi budaya dan religi di jantung Kota Semarang. (fgr)
Editor : Baskoro Septiadi