RADARSEMARANG.ID - Hidayah Ratna Febriani merupakan difabel daksa yang selalu memberikan karya terbaik. Perempuan 48 tahun ini mahir membuat model fashion. Ia tak segan membagikan ilmunya pada masyarakat dan sesama penyandang difabel.
Ida, sapaan akrabnya, sudah memiliki ribuan karya. Para pejabat menjadi pelanggannya. Di antaranya mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Ketua LKPP Hendrar Prihadi, Wali Kota Semarang Hevearita H Rahayu, Agustin Wilujeng DPR RI, dan lainnya. Karyanya bahkan sampai Papua, Sulawesi hingga Yordania, Turki, Amerika, Jepang.
Ia memang memiliki skill menjahit. Hal itu yang membuatnya terus mengajari para penyandang difabel. Desainer busana Ida Modiste di Jalan Medoho Raya ini bahkan memiliki 10 karyawan.
Tiga di antaranya penyandang disabilitas; dua tuna grahita dan satu tuna rungu wicara. "Yang buat semangat mengingat perjuangan orang tua, keluarga, saudara. Kalau lemah lemas bangkit karena mereka. Lalu juga karena ada banyak karyawan yang bergantung, bisa percaya diri berkat teman-teman difabel," tuturnya.
Menurut Ida, menjadi tantangan tersendiri mengajar dan berbagi ilmu dengan penyandang disabilitas. Seperti lambat, harus mengulang materi berkali-kali. Misalnya memberikan materi pada tunagrahita untuk menjahit lurus, baru berhasil dalam hitungan empat tahun.
"Pengen jariyah ilmu tapi tidak ngongso. Tapi faktanya selalu melatih dari awal, itu titik sabarnya. Sekarang sudah terpetik, hampir sembilan tahun menjahit. Kalau yang tuna rungu wicara sudah delapan tahun ikut saya," tambahnya.
Selama berkecimpung di dunia fashion sejak 1996, Ida tak patah arang. Ia selalu legowo menerima kritik karena menurutnya dibalik itu ada saran yang membuat maju.
Bahkan mendapat perlakuan diskriminasi pun menjadikan Ida lebih semangat untuk membuktikan karyanya bisa dinikmati. Slogannya, ada doa di setiap produk.
"Ini yang membuat saya dipercaya customer, selalu salawat setiap buat pola. Setelah jamaah dengan karyawan-karyawan kami doakan pelanggan supaya berkah. Itu kuncinya," tandasnya.
Ia ingin dikenal karena karyanya, bukan belas kasihan karena kondisinya. Ia menceritakan kisah menarik salah seorang pelanggan, dimana dianggap keset atau malas lantaran saat mengukur badan, membuat pola selalu duduk. Ida bukan masalah, dan tak menjelaskan sebagai penyandang disabilitas.
"Saya ingin terus berbagi ilmu kepada siapa saja. Tak pandang bulu, terutama pada mereka penyandang difabel agar tak ada diskriminasi karena kondisi," tambahnya. (ifa/fth)
Editor : Baskoro Septiadi