RADARSEMARANG.ID, Semarang - Selain Manarul Mabrur, Pudak Payung, Banyumanik, penampungan bayi juga terdapat di Kelurahan Sendangguwo, Tembalang.
Namanya Yayasan Rumah Bayi Nusantara atau Rumah Bayi Semarang. Di tempat itulah, bayi-bayi hasil hubungan tak resmi dititipkan oleh orang tuanya.
Rumah Bayi Semarang sebelumnya hanyalah tempat transit. Yakni tempat singgah penampungan bayi-bayi hasil hubungan tak resmi sebelum ditampung di kantor pusat yayasan di Gianyar, Bali. Beberapa cabang di antaranya juga hadir di Jogjakarta dan Kudus.
Namun seiring waktu, tempat transit tersebut penuh dan akhirnya juga dijadikan penampungan bayi. Akta notaris baru saja diterima Yayasan Rumah Bayi Semarang pada Juli 2023 lalu.
“Foundernya itu adalah seorang tour guide di Bali. Pusatnya di Gianyar namanya Bali Baby Home,” kata salah satu pengurus Rumah Bayi Semarang Ahmad Afandi kepada Jawa Pos Radar Semarang pada Rabu (4/10).
Dijelaskan, saat ini ada 23 bayi ditampung di kantor pusat. Sementara di Semarang ada 11 bayi.
Mereka adalah bayi yang memiliki potensi ditelantarkan lebih besar. Selain itu juga ada kemungkinan punya kehidupan yang tidak layak.
“Beberapa bayi sudah diambil kembali oleh orang tua. Karena motto kita adalah tiada tempat terindah selain pangkuan ibu,” terangnya.
Pihaknya tak menerima adopsi ataupun hendak mengadopsi. Sebab salah satu prinsipnya ialah bagaimana bayi-bayi tersebut kembali ke ibunya masing-masing.
Meskipun dalam kenyataannya, banyak ibu yang menitipkan dan tak ingin lagi merengkuh buah hatinya.
“Jika memang tidak diambil maka sudah kita siapkan rencana hingga mereka dewasa, mulai dari sekolah hingga ke pesantren sudah kami pikirkan,” tandasnya.
Belasan bayi itu, lanjutnya, memiliki beragam latar belakang yang berbeda. Rentang usianya paling tua sembilan bulan sementara paling muda hampir dua bulan karena baru datang Agustus lalu.
Bayi-bayi tak berdosa itu berasal dari Tegal, Rembang, Purwodadi, Surabaya, Jakarta, Bangka, Aceh, Jepara, Semarang, dan Cilacap
Rata-rata dari mereka adalah bayi hasil hubungan tak resmi. Ada pula karena sang ayah tak bertanggungjawab dan sang ibu belum siap akhirnya datang minta pengasuhan.
Ada bayi dari TKW yang bekerja di Hongkong hingga siswi SMP yang melahirkan prematur dengan berat tujuh ons.
“Ada juga yang lahir dari ibu yang punya penyakit kelamin. Ada juga yang saya angkut ke kontainer lalu saya masukkan ke mobil,” cerita Afandi saat mengenang menyelamatkan salah satu bayi.
Saat ini ada empat pengasuh yang menjaga bayi-bayi tersebut. Menurut Afandi, jumlah tersebut masih kurang yang seharusnya ada enam orang. Sehingga dengan jumlah pengasuh yang sekarang mereka masih sempat kewalahan.
Beberapa orang tua bayi tersebut juga masih ingin mendengar kabar. Namun seiring waktu tak lagi tertarik untuk mendengar kabar dari bayi-bayi itu.
“Sebisa mungkin kita bisa kembalikan ke orang tua. Tapi lambat laun orang tua yang sering menanyakan kabar beberapa sudah mulai menghilang,” jelas Afandi. (mia/ton)
Editor : Baskoro Septiadi