Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Sedimentasi Sungai Banjir Kanal Timur Semarang Menggunung

Adennyar Wicaksono • Senin, 4 September 2023 | 16:33 WIB

 

Dua alat berat terlihat sedang mengeruk sendimentasi yang menutupi aliran sungai Banjir Kanal Timur di sekat Jembatan Kartini, Jumat (1/9).
Dua alat berat terlihat sedang mengeruk sendimentasi yang menutupi aliran sungai Banjir Kanal Timur di sekat Jembatan Kartini, Jumat (1/9).

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Kota Semarang rentan dengan banjir. Kondisi sungai sebagai penampung air dan mengalirkan ke laut perlu diperhatikan. Terutama sungai Banjir Kanal Timur (BKT) yang memiliki sendimentasi cukup tinggi.

Sungai BKT, sepanjang alur mulai Jembatan Majapahit, Jembatan Kartini Semarang dan seterusnya,  sedimentasi terlihat jelas. Sungai yang membelah Kota Semarang itu semakin dangkal.

Perlu dilakukan pengerukan besar-besaran agar kondisi sungai normal. Sehingga antisipasi banjir sejak dini menghadapi musim penghujan dapat terwujud.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, aliran air menyusut drastis lantaran musim kemarau. Di tepian sungai BKT ditumbuhi enceng gondok lebat.

Beberapa bagian sedimentasi juga menggabung dengan bantaran sungai. Dapat dipastikan, jika turun hujan seharian debit air yang mengalir dengan mudah meluber ke jalan dan permukiman warga.

Sedimentasi paling parah, terjadi kurang dari satu kilometer di Jembatan Kartini Semarang menuju laut.

Terdapat pulau memanjang lebih dari seratus meter memanjang mengikuti alur sungai. Dua alat berat sudah disiagakan. Namun saat ini proses pengerukan masih kurang maksimal.

 “Ini baru mulai kemarin lumayan susah ngeruknya. Sehari saja baru bisa sekitar 10 meter dan itu luasnya baru setengah,” kata salah satu operator alat berat Adong saat ditemui pada Jumat (1/9).

Sebelumnya timnya sudah mengeruk dari atas (bagian hulu). Saat ini baru melakukan normalisasi gunungan sedimentasi setelah Jembatan Kartini Semarang.

Menurutnya, proses normalisasi hingga tuntas memerlukan waktu agak lama. “Hanya ada dua alat berat dan terkadang juga rewel,” terangnya.

Wartawan koran ini juga sempat bertemu dengan pencari ikan menggunakan jaring di tepian sungai dekat dengan lokasi pengerukan.

Bahkan, tanpa takut dirinya mencari ikan hampir ke tengah sungai. Sedimentasi berupa lumpur yang diinjaknya hampir menyentuh lutut kaki.

“Iya saya menggunakan jaring karena airnya sedang surut dan lebih mudah,” ujar Maryadi

Ia juga menyadari sungai BKT terlihat dangkal. Apalagi sedimentasi yang menggunung membentuk pulau, bahkan ditumbuhi rumput-rumput yang sudah meninggi.

Ditanya soal bahaya banjir ketika musim penghujan datang ia juga khawatir jika kondisinya masih sama seperti sekarang.

“Harapannya cepat dinormalisasi sehingga potensi banjir di BKT ini tidak meluber sampai permukiman,” jelasnya.

Keruk BKT secara Rutin

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang, mendorong Pemkot Semarang untuk berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana guna melakukan normalisasi atau revitalisasi sungai BKT yang saat ini sedimentasinya cukup parah. Salah satunya dengan pengerukan aliran sungai.

“Karena ranahnya ada di BBWS, pemkot harus segera berkoordinasi karena memang saya lihat potensi endapan dan sedimentasi di BKT ini sangat tinggi,” kata Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Semarang Suharsono.

Suharsono menjelaskan, persoalan banjir di Semarang harus dipecahkan Pemkot, Pemkab Semarang, BBWS dan Pemprov Jateng. Apalagi hulu sungai BKT ataupun BKB di Kota Semarang ini ada di daerah atas.

“Harus ada koordinasi karena hulunya ada di wilayah atas, kita lihat di sana banyak alih fungsi lahan menjadi perumahan,” tambahnya.

Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan BBWS Pemali Juana Andri R. Wibowo mengatakan perawatan terhadap BKT masuk dalam kegiatan pemeliharaan rutin dan berkala di Satuan Kerja OP SDA BBWS Pemali Juana. 

"Pemeliharaan rutin dilakukan diantaranya adalah kegiatan Pengerukan Sedimen dengan menggunakan alat berat dan pembersihan bantaran sungai dari sampah, rumput dan semak belukar oleh tenaga kerja dari petugas OP Sungai," kata Andri saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Semarang Minggu (3/9). 

Untuk mengeruk sedimentasi pihaknya mengerahkan lima unit alat berat.  Alat tersebut kini berada di beberapa titik ruas antara Jembatan Majapahit sampai dengan Jembatan Citarum.

Sementara sumber daya tenaga kerja petugas OP Sungai yang secara rutin melaksanakan pembersihan sampah, semak belukar, rumput dan tanaman liar berjumlah 10 orang tersebar di ruas BKT. (mia/den/kap/ton)

 

 

Editor : Baskoro Septiadi
#semarang #banjir kanal timur #bkt