RADARSEMARANG.ID, Salatiga – Suara beragam bahasa terdengar bersahutan di ruang pembukaan Human Origins Heritage (HOH) 2026 di kampus Universitas Kristen Satya Wacana.
Ada yang datang dari Meksiko, Prancis, hingga Gambia. Namun selama dua pekan ke depan, mereka punya tujuan yang sama: menelusuri jejak manusia purba sambil belajar hidup bersama masyarakat lokal di Sangiran.
Program internasional yang digagas Fakultas Interdisiplin UKSW itu kembali digelar untuk tahun kesembilan. Sebanyak 29 peserta dari 12 negara mengikuti rangkaian kegiatan yang tidak hanya berisi diskusi akademik, tetapi juga kerja lapangan dan interaksi budaya.
Baca Juga: Di Pekalongan, Run for Rivers Berlari Sambil Bersihkan Sampah dari Jalan Mataram hingga Museum Batik
Bagi para peserta, HOH bukan sekadar kelas internasional biasa. Mereka akan turun langsung ke situs prasejarah Sangiran Early Man Site, berdialog dengan warga, hingga mempelajari bagaimana budaya dan lingkungan saling memengaruhi kehidupan manusia.
Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Kealumnian UKSW Profesor Yafet Yosafet Wilben Rissy menyebut HOH sebagai ruang kolaborasi lintas bangsa yang menjunjung keberagaman. Menurutnya, pengalaman dalam program ini diharapkan tidak berhenti pada pengetahuan akademik semata.
“Program ini diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga bagi komunitas lokal,” ujarnya saat membuka kegiatan awal pekan lalu.
Semangat lintas budaya juga disampaikan Francois Semah dari Muséum National d’Histoire Naturelle. Ia menilai pembelajaran mengenai asal-usul manusia dapat menjadi cara memahami masa depan.
“Melalui program seperti ini, kita belajar memahami siapa kita sebagai manusia dan bagaimana kita dapat membangun masa depan yang lebih baik,” katanya.
Tak hanya belajar di ruang kelas, para peserta juga akan melakukan penelitian partisipatif. Tema yang dibahas beragam, mulai dari perubahan penggunaan lahan, persepsi publik internasional, inisiatif masyarakat, hingga evolusi manusia.
Salah satu peserta internasional, Luz Estefani Rivera Villamarín, mengaku terkesan bisa belajar langsung di situs prasejarah Indonesia. Baginya, pengalaman tersebut terasa berbeda karena masyarakat lokal ikut terlibat dalam proses pembelajaran.
“Saya merasa sangat senang dan beruntung bisa berada di sini. Ini pengalaman yang istimewa, bisa belajar sekaligus mengenal budaya dan masyarakat Indonesia secara langsung,” ujarnya.
Mahasiswa asal Meksiko itu juga melihat keterlibatan warga menjadi kekuatan utama program tersebut. Menurutnya, penelitian arkeologi menjadi lebih hidup ketika masyarakat ikut menjaga dan menceritakan warisan budayanya sendiri.
Baca Juga: Bansos ATENSI YAPI 2026 Cair, Anak Yatim Terima Rp600 Ribu, Cek Status Penerima
Antusiasme serupa datang dari Yulandari. Ia melihat HOH sebagai kesempatan memperluas perspektif tentang pariwisata berbasis masyarakat.
“Senang sekali karena bisa mendapatkan ilmu baru dan bertemu teman-teman dari berbagai latar belakang. Saya juga berharap bisa berkontribusi bagi masyarakat di Sangiran,” tuturnya.
Selama kegiatan berlangsung hingga 16 Mei mendatang, para peserta akan menjalani aktivitas di sejumlah lokasi, mulai dari kampus UKSW di Salatiga, kawasan Sangiran Early Man Site, hingga kompleks candi Candi Gedong Songo.
Di tengah isu global tentang keberlanjutan dan pelestarian budaya, HOH mencoba menghadirkan cara belajar yang lebih membumi: memahami manusia bukan hanya dari fosil dan teori, tetapi juga dari kehidupan masyarakat yang terus menjaga warisan sejarahnya hingga hari ini.
Editor : Baskoro Septiadi