RADARSEMARANG.ID, SALATIGA - Panas matahari Kota Salatiga siang itu terasa menyengat. Tanah di Kelurahan Ledok, Kecamatan Argomulyo, sedikit lengket setelah digali.
Namun tawa riang justru pecah di tengah kebun singkong milik Argotelo. Di antara barisan tanaman itu, 22 mahasiswa asing dari India, Timor Leste, Ghana, dan Bangladesh terlihat sibuk.
Ada yang canggung memegang cangkul, ada yang tak henti tersenyum sambil mengangkat singkong dari dalam tanah.
Bagi sebagian dari mereka, ini bukan sekadar kunjungan lapangan. Ini adalah pertemuan pertama dengan tanaman bernama singkong.
Melalui program Field Trip yang digelar Direktorat Kerja Sama (DIKER), mahasiswa internasional di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) diajak belajar kewirausahaan langsung dari pelaku UMKM Argotelo di Kota Salatiga.
Bukan di ruang kelas ber-AC, melainkan di dapur produksi dan kebun singkong.
Amimul Ehsan, mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan asal Bangladesh, mengaku pengalaman ini begitu membekas.
Ia tersenyum lebar saat menceritakan momen pertamanya mencabut singkong dari tanah.
“Ini pertama kali saya melihat tanaman singkong. Di Bangladesh tidak ada singkong, jadi saya benar-benar baru tahu bagaimana bentuk pohonnya, bagaimana cara memanennya,” ujarnya.
Tangannya sempat kotor oleh tanah, tapi justru di situlah ia merasa belajar sesuatu yang nyata. Bukan hanya tentang tanaman, melainkan tentang proses.
Tentang bagaimana sesuatu yang sederhana bisa memiliki nilai ekonomi ketika dikelola dengan tekun.
Di dapur produksi Argotelo, para mahasiswa bergantian mengupas, menggoreng, hingga mengemas olahan singkong.
Bau singkong goreng yang hangat memenuhi ruangan.
Beberapa kali terdengar seruan kagum ketika melihat bagaimana produk rumahan itu dikemas rapi dan siap dipasarkan.
Cristina Borges de Sousa, mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi asal Timor Leste, mengaku awalnya ia tidak menyangka field trip ini akan se-“hidup” itu.
“Saya pikir hanya melihat-lihat saja. Ternyata kami benar-benar ikut menanam dan mengolah. It’s amazing and memorable,” katanya.
Yang paling ia ingat adalah momen menari tarian panen “Telo” bersama warga dan mahasiswa lain. Di tengah kebun, mereka bergerak mengikuti irama, tertawa tanpa canggung. Batas negara, bahasa, dan latar belakang seakan menghilang.
Kegiatan dilanjutkan dengan Jeep Trip mengelilingi Salatiga. Bagi mereka, ini bukan sekadar wisata, tetapi cara mengenal Indonesia lebih dekat — dari tanahnya, makanannya, hingga warganya.
Maryanah, S.Pd., Staf DIKER sekaligus koordinator kegiatan, menjelaskan bahwa field trip ini rutin dilaksanakan setiap semester untuk memberi pengalaman langsung kepada mahasiswa asing.
“Mahasiswa belajar bahwa memulai usaha tidak harus besar. Dari singkong yang sederhana pun bisa menjadi produk bernilai. Yang penting konsisten dan ditekuni,” jelasnya.
Ia berharap pengalaman ini tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi menjadi inspirasi. Siapa tahu, kelak salah satu dari mereka akan membuka usaha di negaranya sendiri — mungkin terinspirasi dari singkong di Salatiga.(sas)
Editor : Tasropi